Ulasan Film Shadow's Edge (2025): Comeback Gemilang Jackie Chan dalam Pertarungan Dua Legenda

Film Shadow's Edge (2025) muncul bagai penegasan bahwa api kreatif seorang legenda tak pernah benar-benar padam. Film ini berhasil menjadi mahakarya Jackie Chan yang paling memuaskan dalam satu dekade terakhir, sebuah pencapaian yang mengesankan di usianya yang ke-71. Di bawah arahan sutradara Larry Yang, film ini tidak sekadar mempertemukan dua ikon sinema Asia, Jackie Chan dan Tony Leung Ka-fai, tetapi juga menawarkan sebuah thriller kejar-kejaran yang cerdas, penuh emosi, dan dihiasi dengan koreografi aksi yang brutal serta matang.

Cerita berpusat pada Wong Tak-Chung (Jackie Chan), seorang ahli pelacakan legendaris yang telah pensiun dan menghabiskan hari-harinya dengan berjalan-jalan bersama anjing-anjing peliharaannya. Ia dipanggil kembali ketika sebuah geng pencuri profesional yang cerdik, dipimpin oleh sosok misterius bernama Fu Longsheng "The Shadow" (Tony Leung Ka-fai), berhasil mengelabui sistem pengawasan mutakhir polisi Macau, "Sky Eye"

Konsep intinya sederhana namun efektif: di zaman yang dipenuhi AI dan algoritma, diperlukan naluri dan metode lama seorang pemburu untuk menangkap rubah yang licik. Film ini dengan pintar memainkan dinamika ini, menjadikan Wong dan Fu sebagai dua pria analog yang saling berhadapan di dunia digital, di mana keduanya mengandalkan pengalaman hidup dan kecerdikan di atas teknologi.

Jackie Chan membawakan performa yang lebih kalem dan penuh beban sebagai Wong. Karakternya dibayangi rasa bersalah atas kematian partner lamanya, yang kebetulan adalah ayah dari seorang rekrutan polisi muda, He Qiuguo (Zhang Zifeng). Hubungan mentor-murid yang sarat dengan beban emosional ini memberikan kedalaman pada alur cerita, meskipun terkadang penyelesaian konflik emosionalnya terasa agak terburu-buru

Di sisi lain, Tony Leung Ka-fai benar-benar mencuri perhatian sebagai antagonis. Fu Longsheng bukanlah penjahat biasa; ia adalah seorang mastermind yang dingin, elegan, dan sangat berbahaya. Leung menghadirkan aura mengancam yang sangat meyakinkan, membuat setiap detik kehadirannya di layar terasa mendebarkan. Chemistry antara dua veteran ini, baik dalam adegan tegang di meja makan maupun dalam konfrontasi fisik, adalah salah satu pilar utama yang mengangkat kualitas film ini.

Bagi penggemar aksi khas Jackie Chan, Shadow's Edge menawarkan sesuatu yang berbeda namun tetap memuaskan. Film ini jelas merupakan karya Chan yang paling keras dan brutal dalam beberapa tahun terakhir. Koreografi bertarung, yang dikerjakan oleh tim stunt Chan sendiri, dirancang dengan cermat untuk mengakomodasi usianya sambil tetap mempertahankan intensitas. Gerakannya lebih mengandalkan hapkido, kuncian, dan lemparan yang ekonomis, menunjukkan pengalaman bertarung yang efisien alih-alih kecepatan dan akrobatik layaknya masa muda. Pendekatan ini justru terasa lebih realistis dan menyakitkan untuk ditonton.

Adegan baku hantam, terutama konfrontasi akhir di sebuah rumah teh yang sempit, adalah puncak dari seluruh film. Pertarungan antara Chan dan Leung digambarkan sebagai perkelahian yang berantakan, guttural, dan penuh desperasi. Tidak ada tarian anggun di sini, yang ada adalah dua lelaki tua yang saling mencoba mengakhiri hidup satu sama lain dengan segala cara yang ada, berakhir dengan cipratan darah dan kelelahan yang terasa nyata. Adegan ini saja sudah membenarkan tiket masuk penonton dan menjadi bukti bahwa Chan masih mampu menghadirkan momen sinematik yang tak terlupakan.

Memberikan rating tinggi tentu bukan berarti film ini tanpa cela. Beberapa kelemahan cukup jelas, terutama dalam hal pacing dan struktur narasi. Bagian pertama, yang berfokus pada pengenalan karakter dan pembentukan tim Wong, berjalan dengan tempo yang agak tidak menentu. Beberapa pengembangan karakter, terutama anggota tim "Adorable Unit" selain He Qiuguo, terasa dangkal dan sekadar fungsi plot.

Alur ceritanya sendiri, meskipun menarik, terkadang terjebak dalam kompleksitas yang tidak perlu. Dialog cepat tentang peretasan cryptocurrency dan detail teknis lainnya mungkin membingungkan bagi sebagian penonton, dan beberapa twist terasa dapat ditebak. Selain itu, meski menyenangkan, adegan hebat pembuka yang penuh dengan parkour dan parasut dari Macau Tower sedikit tidak selaras dengan tone yang lebih gelap dan grounded di sepanjang sisa film, meski harus diakui, sangat cukup untuk mendapatkan atensi penonton untuk tidak beranjak dari kursi.

Pada akhirnya, Shadow's Edge adalah sebuah kemenangan. Ia adalah bukti bahwa Jackie Chan masih sangat relevan ketika diberi material yang tepat—sebuah naskah yang menghargai pengalamannya, sebuah karakter dengan kedalaman, dan koreografi aksi yang sesuai dengan tahap hidupnya saat ini. Film ini berhasil merangkul masa lalunya yang gemilang sekaligus berani melangkah ke teritori yang lebih gelap dan dewasa.

Shadow's Edge bukan sekadar nostalgia trip; ia adalah pernyataan bahwa bahkan di pinggir bayangan karier yang panjang, seorang maestro masih bisa menghasilkan karya yang bersinar terang. Sebuah tontonan wajib bagi penggemar sinema aksi Asia dan sebuah pengingat yang menggembirakan akan keabadian bintang sejati.

Rate: 8,5/10

Komentar