One Punch Man Season 3 (2025) adalah musim yang kontradiktif. Ia membawa narasi Monster Association Arc yang solid dan pengembangan karakter yang dalam, tetapi terbebani oleh animasi yang tidak konsisten dan pacing yang tersendat. Setelah penantian panjang, musim ini sukses mengembangkan dunia dan konfliknya, meski harus berjuang melawan ekspektasi tinggi warisan visual 2 musim sebelumnya.
Salah satu hal yang diingat banyak orang dari musim ke-3 One Punch Man, mungkin, adalah berita viral tentang ratingnya yang sangat rendah. Tapi, setelah saya menontonnya sendiri, rasanya rating rendah itu agak tidak masuk akal. Anime ini tetap enak dinikmati dan enak diikuti jalan ceritanya, meski mungkin ada sedikit kekecewaan di bagian endingnya.
Kontroversi rating 1.5 di IMDb (sampai tulisan ini dibuat), menurut hemat saya, bukan murni soal kualitas kreatif semata (mungkinkah ada sabotase rating?). Ia adalah ledakan kekecewaan fans yang sudah menumpuk sejak peralihan studio dari Madhouse ke J.C. Staff, yang kemudian mencapai puncaknya oleh produksi yang tampak terburu-buru dan understaffed. Bukti terkuat adalah ditemukannya asset produksi bertanggal 11 hari sebelum episode 8 tayang, yang menunjukkan jadwal yang nyaris mustahil bagi animator manapun.
Di balik semua kontroversi teknis, Season 3 sebenarnya justru membawa narrative core yang kuat. Musim ini dengan berani menggeser fokus dari Saitama (yang justru banyak "cuti") ke pahlawan-pahlawan lain dan terutama, ke perkembangan karakter Garou sebagai "hero hunter". Inilah kekuatan terbesarnya.
Kita diajak menyelami lebih dalam ke dalam markas Asosiasi Monster, menyaksikan dinamika antar monster, dan yang paling penting, menyaksikan konflik internal dan filosofi pertarungan Garou. Alur ceritanya yang adaptasinya setia pada manga memberikan fondasi yang kokoh. Ketika berbagai hero S-Class mulai bergerak dan bertarung, momen-momen karakter mereka justru bersinar.
Namun, harus diakui bahwa keindahan cerita ini seringkali terhalang oleh eksekusi visual yang sedikit mengecewakan. Kritikan "anime slideshow" atau "One-Frame Man" yang viral bukan datang tanpa alasan. Banyak adegan, terutama di bagian awal musim, mengandalkan still frame yang dipan atau di-zoom, PNG karakter yang diseret, dan gerakan yang sangat minimalis. Adegan ikonis "Garou Slide" di episode 2 adalah contoh sempurna: di manga itu adalah momen dinamis, di anime terasa seperti transisi presentasi yang kaku.
Masalah lainnya adalah pacing yang tidak merata. Separuh cour pertama diisi oleh banyak dialog dan debat strategi para pahlawan yang terasa bertele-tele, membuat progres terasa lambat. Sementara adegan-adegan pertarungan besar, yang seharusnya menjadi puncak pelepasan, seringkali tidak mencapai klimaks visual yang memuaskan. Penggunaan filter warna neon dan efek speed-line yang berlebihan juga kerap mengganggu, menciptakan kesan menutupi kekurangan daripada meningkatkan intensitas.
Tapi, musim ini bukanlah kegelapan total. Episode 8 contohnya, sering disebut sebagai titik balik kualitas. Pertarungan Flashy Flash melawan Gale Wind dan Hellfire Flame akhirnya menunjukkan fluidity dan coreografi gerak yang lebih terencana, mengingatkan penonton pada kualitas yang diharapkan. Episode-episode selanjutnya, meski tidak konsisten, sesekali menampilkan kilasan animasi yang bagus, menunjukkan bahwa bakat itu ada, tetapi mungkin kehabisan waktu untuk menerapkannya secara merata.
One Punch Man Season ke-3 adalah disonansi antara potensi narasi yang besar dan realitas produksi yang compang-camping. Sebagai sebuah story, musim ini berhasil. Ia mengembangkan dunia, memperdalam karakter (terutama Garou), dan memajukan plot dengan signifikansi. Saya tetap terhubung dengan ceritanya dan ingin tahu kelanjutannya.
Namun, sebagai sebuah anime—sebuah medium audiovisual—ia sering gagal menyampaikan emosi dan kehebatan momen-momen tersebut secara maksimal. Kekecewaan terbesar datang dari ending yang, meski secara cerita penting, terasa anti-klimaks secara penyajian visual. Itu adalah pukulan terakhir setelah penantian panjang.
Pada akhirnya, One Punch Man Season 3 adalah korban dari sistem industri anime yang kejam: jadwal yang tidak realistis, studio yang kelebihan beban, dan komite produksi yang mungkin mengutamakan kecepatan rilis di atas kualitas. Ia seperti seorang pahlawan kuat yang bertarung dengan tangan terikat. Masalahnya bukan pada kekuatannya (cerita), tapi pada kesempatan untuk menunjukkannya secara penuh (produksi).
Musim ini masih layak ditonton bagi penggemar setia yang ingin mengikuti jalan cerita, apalagi yang tidak membaca manga. Ia tetap menghibur, memiliki momen-momen keren, dan membangun fondasi untuk konflik yang lebih besar. Namun, bersiaplah untuk menerima kenyataan bahwa musim ini, sayangnya, tidak akan pernah menyamai kilau legendaris One Punch Man 2 musim sebelumnya. Harapannya sekarang terletak pada Season 4 yang telah diumumkan untuk 2027—semoga pelajaran pahit dari musim ini menjadi pukulan kuat yang membangunkan semua pihak untuk berbuat lebih baik.
Rate: 7 - 7,5 / 10
.png)
.webp)
Komentar
Posting Komentar