Dalam jagat film yang sering kali dihuni oleh pahlawan super atau penjahat yang hitam putih, Roofman (2025) hadir dengan napas yang berbeda. Film yang disutradarai Derek Cianfrance ini bukan sekadar drama kriminal, melainkan sebuah potret manusiawi yang hangat, lucu, dan tragis tentang seorang pria yang terus-menerus melarikan diri, baik dari hukum maupun dari dirinya sendiri. Film ini berhasil menyajikan kisah unik yang didukung akting solid, meski ada beberapa momen yang terasa kurang mantap dalam penataan ritme.
Berdasarkan kisah nyata Jeffrey Manchester, film ini membuka cerita dengan aksi perampokannya yang tidak biasa. Bukan dengan senjata dan teriakan, Jeffrey (Channing Tatum), seorang veteran yang putus asa, merampok beberapa restoran cepat saji dengan masuk melalui atap. Yang membuatnya unik adalah sifatnya yang "sopan"; ia bahkan memberikan jaketnya sendiri kepada manajer yang kedinginan sebelum mengurung karyawan di freezer.
Konsep "penjahat yang baik hati" ini langsung menarik perhatian dan menjadi pondasi karisma karakter utama. Setelah ditangkap dan dihukum 45 tahun penjara, Jeffrey melakukan pelarian nekat dan menemukan persembunyian yang paling tak terduga: sebuah Toys "R" Us. Ia hidup di balik dinding toko, bertahan hidup dengan M&M dan makanan bayi, memantau seluruh aktivitas toko lewat monitor mini. Premis ini terdengar seperti imajinasi liar penulis skenario, namun justru karena ini nyata, film mendapatkan daya tarik dan rasa penasaran yang menggelembung sejak menit pertama.
Di sinilah jiwa film ini sebenarnya berdenyut. Roofman bukanlah film aksi heist yang penuh ketegangan, melainkan studi karakter tentang seorang penipu yang justru menemukan keaslian dirinya dalam kepalsuan. Saat bersembunyi, Jeffrey menciptakan alter ego "John Zorn" dan mulai terlibat dengan Leigh (Kirsten Dunst), seorang karyawan toko yang juga ibu tunggal. Hubungan mereka berkembang dari situasi yang mustahil menjadi inti emosional film.
Chemistry antara Tatum dan Dunst terasa alami dan menghangatkan. Mereka berdua memerankan orang tua tunggal di usia 40-an yang lelah dan mencari kedamaian, dan interaksi mereka dipenuhi kejenakaan kecil sekaligus kerentanan yang menyentuh. Jeffrey, si "Roofman", menemukan dalam diri Leigh dan kedua anaknya peluang untuk menjadi versi terbaik dari dirinya—versi yang bertanggung jawab, lucu, dan penuh perhatian. Ironinya, ia harus mempertahankan kebohongan besar untuk memelihara kebahagiaan kecil yang baru ditemukannya itu. Konflik batin inilah yang membuat karakternya begitu kompleks dan menarik untuk diikuti.
Tanpa ragu, salah satu pilar kekuatan Roofman adalah performa para pemainnya. Channing Tatum memberikan salah satu peran terbaik dalam kariernya. Ia berhasil mencampurkan pesona khasnya dengan lapisan kerentanan, keputusasaan, dan keinginan untuk berubah yang sangat meyakinkan. Adegan saat ia menerima vonis 45 tahun penjara, dengan mata berkaca-kaca tetapi berusaha tegar, adalah momen akting yang powerful.
Di seberangnya, Kirsten Dunst sebagai Leigh adalah penyeimbang moral dan emosional film. Ia memerankan wanita biasa dengan kesederhanaan dan kehangatan yang otentik, membuat penonton langsung bersimpati dan berharap ia mendapatkan kebahagiaan. Kehadiran Peter Dinklage sebagai Mitch, manajer toko yang menyebalkan, memberikan warna komedi yang tepat. Sayangnya, beberapa talenta pendukung lain seperti LaKeith Stanfield dan Juno Temple kurang mendapat porsi yang memadai untuk berkembang, sehingga terasa agak datar.
Derek Cianfrance membawa kita kembali ke era awal 2000-an dengan detail yang penuh nostalgia. Mulai dari toko Blockbuster, celana baggy, hingga suasana komunitas gereja yang kental, semuanya direkonstruksi dengan apik. Sinematografi yang natural dan tidak berlebihan menangkap kesunyian toko mainan di malam hari dan kehangatan interaksi antar karakter dengan baik. Adegan di mana Jeffrey berjalan sendirian di lorong mainan yang diterangi lampu darurat, atau saat balon Natal melayang di akhir film, adalah bidikan-bidikan visual yang penuh perasaan dan elegan. Musik yang mengiringi juga berhasil menangkap tonasi film yang unik: campuran antara kelucuan, ketegangan, dan drama hati.
Kekurangan yang paling menonjol adalah pacing dan struktur narasi. Film memulai dengan tempo yang menarik, memasuki bagian tengah yang lebih lambat untuk membangun hubungan romantis dan dinamika keluarga, sebelum akhirnya memuncak lagi di akhir. Selain itu, meskipun percampuran genre—komedi, drama, kejahatan, romantis—pada umumnya berhasil, di beberapa titik transisinya terasa kurang mulus. Film juga memilih untuk tetap berada di permukaan yang lebih aman dan "menghibur", alih-alih menggali lebih dalam psikologi atau tekanan sistemik yang mendorong Jeffrey menjadi penjahat, yang mungkin diharapkan oleh sebagian penonton.
Roofman (2025) adalah film yang, seperti protagonisnya, memiliki hati yang besar. Ia adalah pengingat bahwa cerita terbaik sering kali datang dari kehidupan nyata yang paling tidak terduga. Film ini sukses bukan karena adegan aksi spektakuler, tetapi karena kemampuannya membuat kita memedulikan seseorang yang seharusnya adalah "penjahat", merayakan momen-momen kecil kebahagiaannya, dan ikut merasakan sakitnya ketika rumah kartunya runtuh.
Channing Tatum dan Kirsten Dunst adalah duo yang sempurna yang membawa film ini dengan penuh kehangatan dan karisma. Meski ada beberapa pacing yang tersendat, keseluruhan pengalaman menonton Roofman terasa memuaskan dan meninggalkan kesan mendalam. Untuk mereka yang mencari film dengan cerita unik, karakter yang kuat, dan sentuhan nostalgia yang manis, Roofman adalah pilihan yang sangat direkomendasikan.
Rate: 8+/10
.jpg)
.webp)
Komentar
Posting Komentar