Creation of the Gods II: Demon Force langsung menyergap penonton bagaikan serangan mendadak dari pasukan Shang. Sebagai bagian tengah dari trilogi epik karya Wuershan, film ini tak lagi banyak berkisah tentang intrik istana dan pengkhianatan gelap yang membangun film pertama. Ia melompat penuh keyakinan ke medan perang terbuka, mengubah skala konflik dari drama manusia menjadi perang kosmis antara kekuatan gelap dan terang. Jika Kingdom of Storms adalah gemuruh yang mengancam dari kejauhan, maka Demon Force adalah badai itu sendiri yang akhirnya menghantam daratan, menghadirkan pengalaman sinematik yang begitu masif dan intens, meninggalkan sedikit ruang untuk bernapas dan merenung.
Cerita melanjutkan misi Raja Yin Shou untuk menguasai Gulungan Fengshen Bang yang legendaris. Dengan kekuatannya yang merosot dan dikendalikan oleh siluman rubah Su Daji, ia mengerahkan angkatan perang terkuatnya. Di sisi lain, Ji Fa, sang Pangeran Barat, harus mempertahankan kota Xiqi dengan pasukan yang kalah jumlah dan hanya dibantu oleh segelintir dewa dan manusia setia.
Film ini memilih untuk bercerita dengan ritme yang nyaris tanpa jeda. Dari pembukaan yang melibatkan usaha menghidupkan kembali Yin Jiao (Sang Putra Mahkota yang terpenggal di film pertama), alur langsung terjun ke dalam serangkaian pengejaran, penyergapan, dan pertempuran besar. Narasinya menjadi lebih linear dan digerakkan oleh aksi. Pendekatan ini efektif untuk menjaga tensi dan momentum, cocok dengan sifat film sebagai jembatan menuju klimaks trilogi. Namun, ada nuansa dan kompleksitas moral dari karakter-karakter utamanya yang terasa kurang tereksplorasi. Konflik batin Ji Fa sebagai pemimpin yang belum matang, misalnya, hanya disinggung sekilas di tengah-tengah desingan panah dan hantaman pedang. Film seperti berlari kencang menuju satu tujuan: menunjukkan bahwa pertempuran besar benar-benar terjadi, dan kita semua adalah saksi mata dari ledakannya.
Di sinilah Demon Force benar-benar bersinar dan membenarkan pemutaran di layar terbesar. Pekerjaan efek visual bukan sekadar banyak, tetapi sering kali penuh dengan imajinasi yang merujuk pada mitologi Tiongkok klasik. Empat Raja Langit dari Mo Family—Mo Li Qing, Hong, Hai, dan Shou—dihidupkan sebagai raksasa dengan senjata magis yang unik: pedang, payung, pipa (kecapi Tiongkok), dan tali merah, persis seperti penggambaran dalam kitab dan patung-patung kuil. Momen ketika pedang pecah berkeping-keping dan berubah menjadi naga adalah salah satu adegan yang menggambarkan bagaimana film ini mentransformasikan metafora mitologis menjadi gambar yang hidup dan dinamis.
Sutradara Wuershan dan timnya konsisten dengan estetika visual yang opulen dan geometris, mengingatkan pada artefak-artefak perunggu dari era Dinasti Shang. Rancangan produksi, kostum, dan armornya terlihat mewah dan memiliki bobot sejarah, meski dibumbui dengan fantasi. Adegan-adegan di Kunlun Mountain dengan kawanan naga, atau pertempuran di langit dengan sinar-sinar yang memparalisis, menegaskan ambisi film ini untuk menciptakan dunia yang sepenuhnya terasa ajaib dan lain dari dunia kita. Namun, terkadang ada momen di mana integrasi CGI dengan elemen nyata atau dengan karakter lain terasa belum sempurna, menciptakan kesan yang sedikit "kartun" pada beberapa makhluk mitis.
Jika di film pertama perhatian banyak tercurah pada Yin Shou dan Ji Fa, Demon Force secara mengejutkan dibajak oleh kehadiran seorang jenderal perempuan: Deng Chanyu. Diperankan dengan karisma, kekuatan, dan keanggunan yang memesona oleh Nashi, Deng Chanyu bukan sekadar "token" perempuan di medan perang. Dia adalah seorang jenderal sejati—terampil, strategis, dan ditakuti baik oleh musuh maupun anak buahnya sendiri. Awalnya diremehkan karena gender-nya, ia dengan cepat membuktikan kehebatannya. Kehadirannya memberikan dinamika baru, bukan hanya sebagai antagonis fisik tetapi juga sebagai potensi konflik emosional, terlihat dari interaksinya yang penuh ketegangan dengan Ji Fa.
Sayangnya, potensi hubungan rumit antara keduanya kadang terasa dipaksakan dan tidak berkembang secara organik di tengah hiruk-pikuk perang. Sementara itu, karakter-karakter lain seperti Nezha dan Erlang Shen, yang begitu menonjol di film pertama, kali ini lebih banyak berfungsi sebagai penambah kekuatan tempur daripada karakter dengan ark yang berarti. Mereka hadir, menunjukkan kekuatan super, lalu menghilang, meninggalkan kesan bahwa mereka "dikekangkan" agar sorotan tetap pada konflik para manusia. Ji Fa sendiri, sebagai protagonis, terkadang terasa seperti "diberi" kemenangan dan kredit hanya karena statusnya sebagai tokoh utama, bukan karena perkembangan kapabilitasnya yang benar-benar terasa.
Kelebihan utama film ini terletak pada komitmennya terhadap spektakel murni. Film ini adalah sebuah perayaan atas kemungkinan-kemungkinan sinema fantasi. Ia tidak setengah-setengah; ketika akan mempertunjukkan pertempuran, ia sajikan pertempuran yang menggabungkan ribuan pasukan, raksasa, sihir, dan taktik perang kuno dalam satu bingkai yang megah. Peningkatan skala dari film pertama terasa nyata dan memuaskan. Selain itu, pengenalan karakter-karakter baru seperti Empat Raja Langit dan, tentu saja, Deng Chanyu, memperkaya dunia Fengshen yang sudah dibangun. Film ini juga berhasil mempertahankan tone mitologis yang serius, berbeda dengan genre xianxia yang banyak berfokus pada percintaan, sehingga terasa seperti napas segar.
Di sisi lain, kekurangannya justru muncul dari keberhasilannya sendiri. Fokus yang berlebihan pada aksi dan spektakel membuat narasi terasa tipis dan terburu-buru. Perkembangan karakter, yang menjadi tulang punggung film pertama, agak tersingkir. Beberapa keputusan plot, terutama yang menyangkut strategi Ji Fa, bisa terasa agak dipaksakan atau kurang cerdas, yang mungkin akan membuat sebagian penonton frustasi. Alur cerita yang padat juga membuat film ini tidak ramah bagi penonton yang belum menonton film pertama. Ia mengasumsikan penonton sudah hapal dengan konflik, motivasi, dan hubungan antar karakter, sehingga bisa langsung menyelam ke dalam aksi.
Creation of the Gods II: Demon Force adalah sebuah pencapaian teknis yang membanggakan dan sebuah tiket masuk ke dunia mitologi Tiongkok yang begitu kaya dan sering kali terlalu jarang diangkat dengan skala seperti ini. Film ini memenuhi janjinya sebagai "film pertempuran besar", sebuah Helms Deep yang diperpanjang dalam alam Fengshen. Ia menghibur, memukau mata, dan yang paling penting, berhasil membuat penonton menantikan kelanjutannya.
Film ini mungkin bukan sebuah mahakarya yang sempurna secara naratif. Ia adalah film tengah trilogi yang klasik: meletakkan semua pion di papan catur, memanas-manasi konflik, dan menyiapkan panggung untuk ledakan final. Namun, sebagai sebuah pengalaman menonton di bioskop, ia memberikan kepuasan yang jarang didapat. Bagi penggemar fantasi epik, mitologi, dan sinema spektakel, Demon Force adalah sebuah pertunjukan yang wajib disaksikan, sebuah gelora kekuatan dewa dan manusia yang, walaupun belum sempurna, tetap terasa gagah dan menggetarkan.
Rate: 8/10
P.S.: Jangan lupa untuk tetap duduk saat credit title berjalan, karena ada tiga adegan pasca-kredit yang memberikan sekilas gambaran menggiurkan untuk Creation of the Gods III
.jpg)
.webp)
Komentar
Posting Komentar