Ada sensasi tersendiri saat menonton film yang mampu membuat detak jantung kita menyatu dengan irama di layar. Hyakuemu (100 Meters), film animasi garapan Kenji Iwaisawa yang dirilis pada Juni 2025, dan kemudian secara global di Netflix pada akhir Desember 2025, adalah salah satu film dengan sensasi tersebut. Dengan berani, film ini mengajak penonton menyelami dunia sprint 100 meter—sebuah perlombaan yang hanya berlangsung sekitar sepuluh detik namun mampu mengubah hidup seseorang.
Film ini berpusat pada dua karakter utama, Togashi dan Komiya. Togashi adalah pelari alami. Sejak kecil, ia mendominasi lintasan dengan bakat mentahnya. Segalanya berjalan mulus hingga kedatangan Komiya, seorang siswa pindahan yang penuh tekad membara namun kaku secara teknik. Dalam upaya mengajari Komiya, Togashi justru tanpa sengaja melahirkan rival terbesarnya sendiri.
Loncatan waktu membawa kita mengikuti perjalanan mereka dari masa kanak-kanak hingga dewasa, di mana status sebagai teman dan rival perlahan kabur. Mereka bertemu lagi di level profesional, dan di sanalah pertarungan sesungguhnya dimulai—bukan hanya melawan satu sama lain, tapi juga melawan diri sendiri, mempertanyakan apa arti dari "berlari" dan "menang".
Hyakuemu tidak melulu bicara soal kemenangan. Justru di situlah letak kekuatan terbesarnya. Ada pertanyaan eksistensial yang diajukan: mengapa kita melakukan apa yang kita lakukan? Apakah untuk pengakuan, pelarian, atau sekadar kecintaan pada proses itu sendiri? Pendekatan filosofis ini membawa film ini selangkah lebih maju dari sekadar film olahraga biasa. Kita melihat Togashi yang mulai mempertanyakan bakatnya ketika Komiya terus mengejar, dan Komiya yang terus berlari untuk mengisi kekosongan dalam dirinya. Dinamika ini digambarkan dengan sangat manusiawi, membuat penonton mudah terhubung dengan pergulatan batin mereka.
Sekarang, mari kita bicara soal jantung dari film ini: aspek teknisnya. Jika cerita adalah otaknya, maka animasi dan musik adalah detak jantungnya. Iwaisawa menggunakan teknik rotoscope, di mana animasi dibuat dengan menelusuri ulang rekaman aksi langsung. Hasilnya? Sebuah pengalaman visual yang menghipnotis.
Setiap otot yang menegang, setiap helaan napas, dan setiap butir keringat yang jatuh terasa begitu nyata dan mentah. Pada saat karakter sedang berlari, kita benar-benar merasakan kelelahan dan kecepatan yang mereka alami. Ada satu adegan lari di tengah hujan yang digambarkan dengan sapuan warna abu-abu dan biru yang artistik. Momen ini bukan hanya indah secara visual, tetapi juga menjadi puncak emosional yang menggetarkan.
Namun, keistimewaan rotoskop ini juga menjadi pedang bermata dua. Pada beberapa adegan dialog biasa, terutama di awal film, gerakan karakter terasa sedikit kaku dan canggung. Seolah-olah ada ketidakcocokan antara desain karakter bergaya shonen dengan gerakan tubuh realistis yang dihasilkan dari rotoskop. Ini seperti melihat pelari Olimpiade yang tiba-tiba berjalan terseok-seok di luar lintasan. Meski mengganggu di beberapa titik, kekakuan ini sirna seketika begitu mereka kembali ke lintasan lari. Sutradara seolah tahu persis kapan harus melepaskan "kekuatan penuh" dari teknik ini.
Untungnya, Hiroaki Tsutsumi sebagai komposer hadir sebagai penyelamat yang konsisten. Skor musiknya luar biasa. Irama brass dan synth yang mendebarkan tidak hanya mengiringi adegan lari, tetapi juga menjadi pacing dari cerita itu sendiri. Musiknya mampu membangkitkan adrenalin saat lomba dan menciptakan ruang kontemplasi yang sunyi saat karakter sedang berlatih sendirian di bawah lampu stadion yang temaram. Tanpa musik ini, mungkin emosi dalam film tidak akan terasa hingga ke sumsum tulang.
Meskipun secara teknis brilian dan emosional di beberapa bagian, penulisan karakternya terasa timpang. Togashi mendapatkan porsi pengembangan yang cukup baik; kita bisa merasakan kejatuhannya dan perjuangannya untuk bangkit. Namun, Komiya sebagai tokoh kunci kedua terasa stagnan setelah titik tertentu. Motivasi dan konflik batinnya tidak digali sedalam Togashi. Ia hadir lebih sebagai "cermin" bagi sang rival daripada sebagai individu yang utuh. Hal ini membuat rivalitas yang seharusnya menjadi inti dari cerita terasa sedikit berat sebelah dan kurang berdampak.
Selain itu, hampir setiap percakapan yang terjadi selalu berputar di sekitar lari, lari, dan lari. Kita tidak pernah benar-benar melihat sisi lain kehidupan Togashi dan Komiya. Apakah mereka punya teman di luar lintasan? Bagaimana hubungan mereka dengan keluarga? Ketiadaan konteks kehidupan ini membuat dunia terasa sempit. Akibatnya, beberapa resolusi konflik terasa terlalu mudah—seolah masalah rumit seorang atlet bisa selesai hanya dengan satu percakapan panjang. Ada rasa dangkal yang menganga di celah-celah cerita yang seharusnya bisa diisi dengan lebih banyak nuansa kehidupan.
Hyakuemu (100 Meters) adalah sebuah karya berani yang lebih berhasil secara teknis dan emosional daripada naratifnya. Ini adalah film yang dibuat dengan penuh cinta dan keahlian, dibuktikan dengan animasi rotoskop yang memukau dan musik yang menghentak. Ia berhasil membuat penontonnya terengah-engah, ingin ikut berlari, dan merenungkan makna dari perjuangan hidup. Kekurangannya dalam membangun karakter dan dunia yang lebih luas memang terasa, namun tidak cukup untuk merusak keseluruhan pengalaman yang ditawarkan.
Bagi penggemar anime yang mencari tontonan dewasa dengan pendekatan artistik tinggi, atau siapa pun yang pernah merasakan getirnya perjuangan mengejar mimpi, film ini adalah tontonan wajib. Hyakuemu membuktikan bahwa dalam sepuluh detik perlombaan, ada seumur hidup cerita yang tersimpan. Ia mungkin sedikit tersandung di tikungan narasi, tapi ia finis dengan penuh gaya.
Rate: 8 - / 10
.jpg)
b.jpg)
Komentar
Posting Komentar