Ulasan Film Zootopia 2 (2025): Kembali ke Kota Hewan, tapi Pesonanya Sedikit Luntur

Setelah hampir satu dekade penantian, kita akhirnya bisa kembali bertualang ke kota tempat semua hewan bisa mewujudkan mimpinya. Zootopia 2 (2025) hadir dengan membawa serta Nick Wilde si rubah jenaka dan Judy Hopps si kelinci pemberani untuk memecahkan kasus baru. Sebagai penggemar berat film pertama yang begitu cerdas dan relevan, ekspektasi saya tentu melambung tinggi. Namun, setelah menontonnya, perasaan yang tersisa adalah campuran antara puas dan sedikit... "oh, gitu aja?" Sekuel ini adalah tontonan yang menyenangkan dan layak, tapi gagal menangkap kembali "magic" orisinal yang dulu membuat kita terpukau.

Cerita berlangsung tidak lama setelah kejadian di film pertama. Nick dan Judy akhirnya resmi menjadi pasangan detektif di ZPD. Namun, chemistry mereka sedang diuji. Semangat Judy yang menggebu-gebu dan seringkali ceroboh berbenturan dengan gaya santai Nick yang lebih suka menghindari masalah. Hal ini membuat mereka dijebloskan ke sesi terapi konseling pasangan—sebuah premis yang lucu dan unik. 

Di tengah kekacauan karier mereka, muncullah kasus baru: kemunculan seekor ular bernama Gary (diisi suaranya dengan apik oleh Ke Huy Quan), reptil pertama yang terlihat di Zootopia dalam seratus tahun. Kehadirannya membuka tabir konspirasi lama yang melibatkan keluarga kaya dan berkuasa, Lynxley, serta sebuah buku harian kuno yang menyimpan rahasia kelam tentang pendirian kota. Nick dan Judy pun harus kabur dan menyelidiki kasus ini sendirian untuk membersihkan nama mereka.

Sisi teknis film ini tidak perlu diragukan. Disney kembali menunjukkan taringnya sebagai ksatria animasi dunia. Zootopia terasa lebih hidup, lebih luas, dan lebih detail. Eksplorasi distrik baru seperti Marsh Market, sebuah kawasan rawa tempat tinggal hewan-hewan air, adalah suguhan visual yang memanjakan mata. Animasi rambut, ekspresi wajah, dan permainan cahaya tetap menjadi standar emas yang sulit ditandingi. 

Jika bicara soal suara, Jason Bateman dan Ginnifer Goodwin kembali menunjukkan chemistry yang sempurna sebagai Nick dan Judy. Mereka adalah jantung dari film ini. Dinamika "partner in crime" yang saling melengkapi tetap menjadi alasan utama mengapa kita peduli dengan jalan ceritanya.

Namun, naskah Zootopia 2 terasa terlalu aman. Jika film pertama berani menyelami isu prasangka dan stereotip dengan cara yang cerdas dan membumi, sekuel ini lebih memilih untuk "menginjak rem". Tema besarnya bergeser dari kritik sosial yang tajam menjadi drama persahabatan yang lebih generik tentang pentingnya kerja sama tim dan mendengarkan satu sama lain. Pesannya tetap baik dan penting, tapi terasa seperti kita sudah melihatnya berkali-kali di film animasi lainnya.

Konflik antara Nick dan Judy pun terasa sedikit dipaksakan. Di satu momen, kita melihat Judy berubah menjadi sosok yang agak menjengkelkan, terlalu keras kepala hingga membuat Nick (dan penonton) frustrasi. Lalu di momen berikutnya, masalah mereka terselesaikan dengan cepat melalui dialog "sesi terapi" yang terasa terlalu menggurui dan kurang natural. Padahal, film-film Disney dulu mahir menunjukkan perkembangan karakter melalui aksi, bukan sekadar obrolan.

Kemudian, para pendatang baru. Gary si ular sebenarnya punya potensi sebagai karakter yang kompleks, namun porsi ceritanya terasa terburu-buru. Motivasi dan latar belakangnya kurang dieksplorasi sehingga penonton sulit membangun ikatan emosional dengannya. Hal yang sama berlaku untuk keluarga Lynxley. 

Meskipun ide tentang "gentrifikasi" dan penggusuran komunitas kecil demi pembangunan adalah tema dewasa yang menarik, eksekusinya terasa seperti sub-plot yang berdiri sendiri, tidak sepenuhnya menyatu dengan konflik utama Nick dan Judy. Bahkan, beberapa karakter baru seperti Pawbert (Andy Samberg) dan Nibbles si berang-berang (Fortune Feimster) meski lucu, terasa hanya memakan banyak waktu layar tanpa memberikan dampak signifikan pada cerita.

Yang paling terasa adalah penyusutan skala dunia itu sendiri. Ironisnya, meski judulnya "Zootopia", banyak adegan penting justru terjadi di dalam ruangan atau di lokasi terbatas. Sensasi "megahnya" kota yang dulu membuat kita takjub—dengan rel kereta kecil untuk tikus dan zona iklim yang raksasa—kali ini terasa lebih datar dan kurang eksploratif. Seolah-olah tim kreatif lebih fokus pada pesan moralnya daripada membuat kota itu kembali terasa hidup dan penuh keajaiban.

Pada akhirnya, Zootopia 2 adalah definisi dari sekuel yang hanya "cukup baik". Cukup baik untuk membuat Anda betah selama 108 menit, cukup baik untuk membuat anak-anak tertawa, dan cukup baik untuk bernostalgia dengan karakter-karakter kesayangan kita. Namun, ia juga cukup "biasa saja" sehingga mudah dilupakan, terutama jika dibandingkan dengan pendahulunya yang revolusioner.

Film ini tidak jelek. Jangan salah paham. Sebagai tontonan keluarga di akhir pekan, Zootopia 2 tetap menjadi pilihan yang solid dan menghibur. Namun jika Anda berharap sebuah mahakarya yang sebanding dengan film pertamanya, sebaiknya turunkan ekspektasi. Ia adalah kunjungan singkat yang manis ke kota hewan favorit kita, tapi mungkin kita harus menunggu lebih lama lagi untuk merasakan kembali keajaiban petualangan yang sesungguhnya.

Rate: 7 - 7,5 / 10

Komentar