Ulasan Film Marty Supreme (2025): Antara Obsesi Jenius dan Kekacauan yang Melelahkan

Ada sebuah ambisi yang terasa gila sekaligus menggelitik ketika Josh Safdie memutuskan untuk mengangkat kisah Marty Reisman, legenda tenis meja Amerika, ke layar lebar. Bukan sekadar drama olahraga biasa, “Marty Supreme” (2025) hadir dengan pendekatan yang khas Safdie: bising, hiperaktif, dan penuh kecemasan. Jika kamu membayangkan film ini akan seperti “The Karate Kid” versi ping-pong dengan adegan latihan yang mengharukan, sebaiknya urungkan niat itu. Safdie malah menyajikan koktail yang terdiri dari tipu daya, percintaan terlarang, dan obsesi seorang pria muda yang hampir gila terhadap sebuah bola seluloid kecil berwarna oranye.

Salah satu fondasi terkuat film ini jelas terletak di pundak Timothée Chalamet. Sebagai Marty Mauser, Chalamet tidak hanya bermain akting, tetapi seolah berubah menjadi “mesin” yang tak pernah mati. Kita melihatnya sebagai seorang pemuda ambisius di tahun 1950-an yang bekerja di toko sepatu sambil diam-diam mendominasi meja ping-pong bawah tanah. Chalamet menghidupkan karakter narsistik dan manipulatif ini dengan energi yang menggebu-gebu, lengkap dengan kumis tipis dan gaya bicara cepat yang nyaris seperti gangguan hiperaktif 

Ia mampu membuat penonton merasa jengkel sekaligus terpesona oleh kelicikannya. Adegan-adegan ping-pong yang digarap dengan koreografi ketat terasa seperti tarian ritual yang mencekam, dan Chalamet—yang jelas-jelas telah berlatih bertahun-tahun—menjalankannya dengan presisi seperti burung yang siap menyambar mangsa.

Dari segi teknis, “Marty Supreme” adalah sebuah pesta visual yang memanjakan mata. Josh Safdie memilih memotret dengan film 35mm, yang memberikan nuansa grainy dan hangat khas era 50-an, namun terasa segar karena tidak pernah terkesan seperti “film jadul” yang steril. Sinematografi Darius Khondji mengajak kita masuk ke dalam kekacauan sistematis kehidupan Marty. 

Kamera bergerak dekat, gelisah, dan sering kali membuat kita sesak seperti ikut terperangkap dalam skema liciknya. Ada kejeniusan dalam kontras yang diciptakan Safdie: latar tahun 1950-an yang klasik justru diisi dengan skoring synth-pop dan lagu-lagu era 80-an seperti "Forever Young" milik Alphaville. Ini bukan sekadar anomali, melainkan representasi dari jiwa Marty yang memang tidak pernah berada pada masanya—selalu melompat, selalu mendahului.

Namun, jujur saja, saya merasa kelelahan. “Marty Supreme” memiliki durasi 150 menit yang terasa sangat panjang. Di sinilah ambisi Safdie justru menjadi bumerang. Film ini terlalu sibuk menunjukkan betapa "gilanya" Marty hingga terjebak dalam pengulangan. Sepanjang paruh kedua, kita melihat pola yang terus berulang: Marty menipu, Marty mendapat masalah, Marty berlari, lalu Marty mencari peluang baru. Meskipun secara teknis penuh energi, ritme ini menjadi monoton dan terkadang sedikit membosankan.

Saya sepakat dengan sejumlah kritikus yang menyebut bahwa film ini terlalu dipaksakan untuk menjadi “kisah perjalanan” yang menggembar-gemborkan ketidakstabilan karakternya. Tidak ada momen "rising" yang cukup memberi ruang napas bagi penonton. Selain itu, meskipun ping-pong menjadi jantung cerita, film ini sebenarnya justru tidak terlalu banyak adegan olahraga yang sesungguhnya. 

Ekspektasi untuk melihat drama pertandingan yang menegangkan seringkali tergantikan oleh skema-skema finansial atau hubungan gelap dengan karakter Kay Stone, yang diperankan dengan dingin oleh Gwyneth Paltrow. Bagi penggemar berat olahraga, ini bisa terasa seperti pengkhianatan, karena film ini lebih memilih menjadi psikologi karakter ketimbang dokumentasi olahraga.

Kehadiran para pemain pendukung memang menjadi oksigen di tengah sesaknya narasi. Tyler Okonma (Tyler, The Creator) membuat debut akting yang mengejutkan dengan energi kacau yang sepadan dengan Chalamet. Ada juga Fran Drescher dan Abel Ferrara yang tampil dalam cameo-cameo unik, menambah warna surealis dalam dunia gangster dan keluarga yang coba dibangun Safdie.

Pada akhirnya, “Marty Supreme” adalah film yang menuntut kesabaran lebih dari sekadar film yang terinspirasi sosok nyata biasanya. Safdie berhasil membawa kita ke dalam kepala seorang pria yang terobsesi, di mana kemenangan bukanlah segalanya, melainkan tentang membuktikan bahwa dirinya ada. Namun, kekacauan yang diciptakan Josh Safdie tetap memiliki magnetnya sendiri dan sama sekali tidak buruk. 

Untuk mereka yang menyukai film dengan protagonis tidak sempurna—seperti karya-karya Safdie sebelumnya (Uncut Gems, Good Time)—film ini adalah tontonan yang memuaskan secara artistik. Akting Chalamet adalah bukti bahwa ia layak diperhitungkan sebagai salah satu aktor terbaik generasinya. Meski pacing-nya membuatku ingin berteriak "ambil napas, Marty!" lebih dari satu kali, “Marty Supreme” tetap menjadi pengalaman sinematik yang berani dan sulit dilupakan.

Rate: 7,5 / 10

Sekilas tentang Marty Reisman

Marty Reisman: Kisah Nyata di Balik "Marty Supreme" yang Lebih Gila dari Film

Film Marty Supreme (2025) memang terinspirasi dari kisah nyata, meskipun Josh Safdie sendiri menegaskan bahwa ini bukan film biopik. Tokoh "Marty Mauser" yang diperankan Timothée Chalamet adalah versi fiksi yang "terinspirasi secara longgar" dari seorang legenda tenis meja Amerika bernama Marty Reisman.

Dari Gang Lower East Side Menuju Panggung Dunia

Marty Reisman lahir di Manhattan pada 1 Februari 1930, dari keluarga imigran Yahudi . Masa kecilnya keras. Ayahnya, Morris, adalah sopir taksi sekaligus penjudi berat yang pernah kehilangan 17 armada taksi dalam satu sesi poker. Reisman kecil tumbuh dalam kemiskinan, dan untuk sekadar makan, ia sering menyelinap masuk ke pesta pernikahan di hotel, memakai setelan terbaiknya, lalu berpura-pura menjadi tamu undangan.

Ia menemukan tenis meja pada usia 9 tahun, setelah mengalami semacam gangguan kecemasan di sekolah. Anehnya, olahraga ini menjadi terapi baginya—"begitu menyita perhatianku, begitu memenuhi hari-hariku, sampai aku tidak punya waktu untuk cemas," tulisnya dalam memoarnya, The Money Player. Pada usia 12 tahun, ia sudah mulai bermain di lorong-lorong Lower East Side, dan setahun kemudian ia mulai menghustle orang dewasa—bermain demi taruhan uang di tempat-tempat seperti Lawrence's Broadway Table Tennis Club.

Di sinilah julukannya lahir: "The Needle" (Si Jarum), karena tubuhnya yang kurus dan kecerdikannya yang tajam seperti ujung jarum.

Hustler Sejati yang Berani Taruh Segalanya

Reisman bukan sekadar atlet. Ia adalah showman sejati. Sebelum bertanding, ia sering mengeluarkan uang $100 dollar dari gulungan di sakunya untuk mengukur tinggi net—bukan dengan penggaris, tapi dengan uang tunai.

Jika taruhannya cukup besar, ia bisa bermain sambil duduk. Jika sangat besar, ia bermain dengan mata tertutup. Trik andalannya? Memecahkan sebatang rokok jadi dua dengan pukulan forehand yang melesat dari seberang meja—sebuah trik yang ia peragakan di acara David Letterman.

Pada usia 15 tahun, ia nyaris ditangkap setelah mencoba memasang taruhan $500 untuk dirinya sendiri di kejuaraan nasional Detroit. Masalahnya, orang yang ia anggap bandar judi ternyata adalah presiden Asosiasi Tenis Meja Amerika Serikat. Reisman digelandang keluar arena oleh polisi berseragam—sebuah insiden yang justru menambah legendanya sebagai "anak nakal" ping-pong.

Kejayaan di Inggris dan Konflik dengan Federasi

Puncak ketenaran Reisman datang pada 1949, ketika ia mengalahkan juara dunia lima kali asal Hungaria, Viktor Barna, di depan 10.000 penonton yang membisukan Wembley Arena. Ia menjadi orang Amerika pertama yang memenangkan British Open—sebuah prestasi yang belum pernah diulang hingga hari ini.

Tapi seperti biasa, Reisman tidak bisa lepas dari kontroversi. Setelah kemenangan itu, ia dan beberapa rekan setimnya pindah dari hotel sederhana ke hotel mewah, lalu membebankan semua biaya—termasuk dry cleaning dan room service—kepada panitia Inggris. Ketika panitia menolak membayar, mereka mengancam tidak akan tampil di pertandingan ekshibisi yang sudah terjual habis. Panitia akhirnya menyerah, tapi Reisman dan kawan-kawan kemudian didenda $200 dan diskors "tanpa batas waktu" oleh federasi Amerika.

Keliling Dunia Bareng Harlem Globetrotters

Dari 1949 hingga 1951, Reisman dan rekannya Doug Cartland bergabung dengan Harlem Globetrotters sebagai aksi pembuka. Mereka bermain tenis meja dengan segala macam alat: wajan penggorengan, sol sepatu, bahkan lima bola sekaligus. Mereka memukul bola sambil membawakan melodi Mary Had a Little Lamb menggunakan panci.

Di sinilah momen paling mengharukan dalam hidupnya terjadi. Ketika bus Globetrotters mogok di Alabama pada 1950, mereka naik bus umum. Para pemain kulit hitam dipaksa duduk di belakang sesuai aturan segregasi. Reisman, dari kursi depannya, menyaksikan rekan-rekannya berjalan ke belakang dengan wajah muram, pandangan lurus ke depan. "Aku merasakan lilitan kemarahan dalam diriku," tulisnya kemudian. Tapi ia tidak protes—sebuah pengakuan jujur tentang betapa rumitnya menjadi "orang putih yang sadar" di Amerika era segregasi.

Revolusi Karet Sponge yang Menghancurkannya

Jika ada satu momen yang paling membekas dalam hidup Reisman, itu adalah Kejuaraan Dunia 1952 di Bombay (sekarang Mumbai). Ia datang sebagai salah satu favorit, dengan pukulan keras dan padel klasik hardbat—lapisan karet pimpled tipis di atas kayu. Tapi kemudian pemain Jepang bernama Hiroji Satoh muncul dengan senjata rahasia: padel berlapis karet sponge tebal yang menghasilkan putaran luar biasa dan suara yang senyap.

Reisman kalah. Satoh menjadi juara. Dan dunia tenis meja berubah selamanya. Karet sponge menjadi standar baru, sementara hardbat—yang dicintai Reisman karena "suaranya seperti dialog antara dua pemain"—terpinggirkan.

Reisman tidak pernah benar-benar pulih dari kekalahan itu. Sampai akhir hayatnya, ia berkampanye melawan "karet sponge yang jahat," duduk berjam-jam bersama akademisi dan filsuf untuk menganalisis bagaimana "satu lembar karet telah menghancurkan hidupnya". Ia sesekali memang menggunakan padel sponge—dan bahkan memenangkan U.S. Open 1960 dengannya—tapi ia melakukannya dengan rasa bersalah.

Glamor, Skandal, dan Kebangkitan di Usia Senja

Kembali ke New York pada 1957, Reisman konon menyelundupkan selusin jam tangan Rolex di balik lengan bajunya—hasil dari pekerjaan sampingannya menyelundupkan emas dari Hong Kong, di mana ia mengikat batangan emas di dadanya di bawah rompi muslin dan pakaian selam lateks.

Ia kemudian membuka Riverside Table Tennis Club di Upper West Side, yang menjadi tempat nongkrong para selebritas seperti Dustin Hoffman, Bobby Fischer, dan Kurt Vonnegut. Di sinilah ia bertemu calon istri pertamanya—yang saat itu masih bersuami. Suami sahnya mengetahui perselingkuhan itu dan menemukan Reisman telanjang bersembunyi di lemari sambil membawa senapan. Drama ini tidak menghentikan Reisman; ia menikahi wanita itu dan memiliki seorang putri, Debby.

Pada 1997, saat usianya sudah 67 tahun, Reisman keluar dari masa pensiun untuk mengikuti Kejuaraan Hardbat Nasional AS yang pertama kali digelar. Ia menang, menjadi pemain tertua yang pernah memenangkan kompetisi nasional terbuka dalam olahraga raket. Itu adalah pembuktian terakhir bahwa "si Jarum" masih tajam.

Warisan yang Masih Berdentang

Marty Reisman meninggal pada 7 Desember 2012, pada usia 82 tahun, akibat komplikasi jantung dan paru-paru. Hingga akhir hayatnya, ia tetap menjadi sosok flamboyan dengan topi fedora Borsalino dan kacamata hitam di dalam ruangan.

Ia menyebut dirinya sebagai "three-time millionaire and three-time former millionaire"—tiga kali jadi jutawan, tiga kali bangkrut. Ia membanggakan diri bahwa ia "menghadapi orang-orang dengan semangat gladiator, tidak pernah mundur dari taruhan". Dan ketika wartawan bertanya mengapa ia menggunakan uang $100 untuk mengukur net, bukan $1 yang ukurannya sama, Reisman menjawab dengan senyum khasnya: "Kenapa harus pelit?" 

Kini, melalui film Marty Supreme, kisahnya kembali bergema. Keluarganya mengakui ada rasa sakit karena tidak dilibatkan dalam produksi—mereka sedang menyelesaikan otobiografi kedua yang sempat digarap Reisman sebelum wafat. Tapi mereka juga tahu, jika Marty masih hidup, ia akan sangat bahagia. Seperti yang dikatakan putrinya, Debby: "Dia akan senang sekali karena sekarang ia terkenal di seluruh dunia".

Komentar