Rasanya tidak mudah membayangkan cerita rakyat yang melekat kuat di memori kolektif seperti Malin Kundang dibalut dalam balutan yang begitu asing, gelap, dan menyiksa batin. "Legenda Kelam Malin Kundang" (2025) dengan berani membuang narasi dongeng klasik tentang anak durhaka yang dikutuk menjadi batu, menggantinya dengan thriller psikologis yang kompleks dan ambisius.
Film besutan rumah produksi Come and See Pictures ini, yang digarap oleh duo sutradara debutan Kevin Rahardjo dan Rafki Hidayat serta di bawah pengawasan Joko Anwar, memang pantas mendapatkan apresiasi atas keberanian interpretasinya. Secara teknis dan ide bagus, namun saya pribadi tak ingin memberinya rating yang tinggi, itu saja.
Cerita bergerak pada kehidupan Alif (Rio Dewanto), seorang seniman mikro-painting sukses yang hidupnya berubah setelah kecelakaan mobil yang merenggut sebagian memorinya. Di tengah proses pemulihan, seorang perempuan tua misterius (Vonny Anggraini) muncul dan mengaku sebagai Amak, ibunya yang telah lama ditinggalkan. Alif tidak mengenalinya, sebuah awal dari penyelidikan gelap yang perlahan menguak luka lama tentang masa lalu kelamnya, yang ternyata tidak sesederhana kisah durhaka pada umumnya.
Konsep ini segar. Menjadikan trauma dan penyangkalan sebagai "kutukan modern" adalah langkah cerdas untuk membuat legenda ini relevan dengan penonton masa kini. Metafora batu yang digunakan pun menarik—bukan perubahan fisik, melainkan pembekuan emosi Alif yang menjadi simbol kutukan yang lebih realistis dan menusuk. Di sini, film ini berhasil membangun fondasi yang kuat dan membuat penasaran.
Salah satu kekuatan terbesar film ini adalah atmosfer yang berhasil diciptakan. Sinematografi oleh Ical Tanjung patut diacungi jempol. Penggunaan pencahayaan dingin, sudut-sudut sempit, dan teknik blur yang membingungkan membuat penonton benar-benar merasakan disorientasi dan paranoia yang dialami Alif. Suasana "magrib" yang kelam dan mencekam terasa di hampir setiap adegan, membuat film ini sangat tidak nyaman ditonton, namun justru di situlah kekuatannya.
Ini bukan tontonan untuk bersantai, melainkan untuk direnungkan. Akting Rio Dewanto sebagai Alif juga menjadi panggung yang sempurna. Ia mampu menampilkan kefrustrasian, kerapuhan, serta amarah yang terpendam dari seorang pria yang hidupnya seperti puzzle yang terus berantakan. Vonny Anggraini sebagai ibu juga tampil memikat, memerankan sosok yang lembut namun menyimpan rahasia mengerikan yang membuat penonton terus bertanya-tanya.
Namun, di balik keberanian dan kualitas teknis yang mumpuni, "Legenda Kelam Malin Kundang" memiliki, menurut keyakinan saya, kelemahan mendasar pada narasinya. Film ini terlalu sibuk membangun misteri dan teka-teki sehingga lupa memberikan kepuasan emosional yang mendalam. Jalan cerita yang kompleks dan penuh kilas balik memang merangsang otak, tapi seringkali terasa seperti teka-teki yang dibuat berbelit hanya demi terlihat pintar.
Beberapa adegan terasa seperti "bayangan pikiran Joko Anwar" yang terlalu padat, sehingga penonton yang tidak sabar mungkin akan merasa pusing daripada terkesima. Konflik yang diusung, seperti perselingkuhan, penghianatan, hingga pengungkapan twist di ujung film, sebenarnya punya potensi besar untuk menyayat hati. Kurangnya kepuasan emosional ini pada akhirnya membuat konklusi terasa mentah di bagian akhir. Akibatnya, klimaks yang seharusnya menghancurkan justru terasa datar dan kurang greget.
Kekurangan lain terletak pada pendalaman karakter pendukung. Dibandingkan dengan intensitas Alif yang begitu kuat, karakter pendukung lainnya terasa seperti bayang-bayang yang hanya berfungsi untuk memajukan plot. Kritik terhadap kesenjangan sosial yang diselipkan juga terasa menganga dan tidak terintegrasi dengan mulus ke dalam alur utama. Ada perasaan bahwa sutradara ingin mengatakan banyak hal, tapi tidak punya cukup ruang untuk menyelesaikannya dengan elegan.
Secara keseluruhan, "Legenda Kelam Malin Kundang" adalah film yang berani dan penting bagi sinema Indonesia. Ia membuktikan bahwa cerita rakyat bisa diangkat ke ranah yang lebih dewasa, introspektif, dan psikologis. Atmosfer yang mencekam, sinematografi yang memukau, serta akting Rio Dewanto yang solid menjadi daya tarik utama.
Namun, narasi yang terlalu kompleks dan kurang terstruktur dengan baik, serta pendalaman karakter pendukung yang timpang, membuatnya terasa seperti sebuah karya besar yang terperangkap dalam ambisinya sendiri. Film ini tidak cukup kuat untuk menjadi horor psikologis yang benar-benar menggigit, tapi juga tidak cukup lemah untuk diabaikan.
Ia berada di persimpangan yang nyaman: layak diapresiasi, namun juga layak dikritisi. Bagi pecinta film yang haus akan sesuatu yang berbeda dari arus utama, film ini wajib ditonton. Namun jika Anda mencari pengalaman sinematik yang rapi dan menguras emosi, mungkin ada baiknya untuk berpikir ulang. Legenda Kelam Malin Kundang adalah sebuah langkah berani yang layak diberi hormat.
Rate: 6 - 6,5 / 10
.webp)
.jpg)
Komentar
Posting Komentar