Ulasan Film Sore: Istri dari Masa Depan (2025) - Sebuah Pemandangan Sore yang Indah

Sore adalah momen peralihan, saat cahaya keemasan mulai merangkul senja. Film Sore: Istri dari Masa Depan (2025) berusaha menangkap esensi itu: sebuah peralihan, sebuah upaya, dan keindahan yang hadir tepat sebelum sesuatu berakhir. Disutradarai oleh Yandy Laurens, film yang diangkat dari web series populer 2017 ini membawa kita dalam perjalanan emosional Jonathan (Dion Wiyoko), seorang fotografer yang menyepi di Kroasia, dan Sore (Sheila Dara), wanita misterius yang mengaku sebagai istrinya dari masa depan.

Jonathan digambarkan sebagai sosok yang dingin dan tertutup, bagai es di Finlandia yang menjadi latar pembuka film. Hidupnya dipenuhi oleh rokok, alkohol, dan kerja keras yang mengabaikan kesehatan. Kedatangan Sore, dengan senyum simpul dan pernyataan yang tak masuk akal, awalnya seperti angin segar. Ia dengan riang berusaha membenahi pola hidup Jonathan, mengajaknya lari pagi, memasakkan makanan sehat, dan merapikan hidupnya yang berantakan. 

Adegan-adegan awal ini terasa hangat dan ringan, membangun chemistry antar kedua pemeran yang sudah terbiasa berpasangan. Sheila Dara membawa aura magis dan kelembutan yang berbeda dengan versi sebelumnya, sementara Dion Wiyoko solid dalam memerankan kebingungan dan pertahanan diri seorang Jonathan.

Namun, film baru menemukan denyut nadinya yang sesungguhnya ketika rahasia di balik kedatangan Sore perlahan terbongkar. Ternyata, ini bukan sekadar kunjungan biasa. Sore terjebak dalam sebuah time loop, terpaksa mengulangi perjalanan waktu berulang-ulang dalam upaya putus asa untuk menyelamatkan Jonathan dari takdir yang telah ia ketahui. 

Di sinilah konsep “magical realism” yang diusung film bekerja dengan baik. Alih-alih terjebak dalam penjelasan sains yang rumit, film memilih fokus pada beban emosional yang mustahil: rasa lelah, frustasi, dan keputusasaan seorang yang mencintai, yang harus menyaksikan kegagalan yang sama berulang kali. Sheila Dara bersinar dalam bagian-bagian ini, mampu mengekspresikan lapisan kedalaman tersebut hanya melalui sorot mata dan bahasa tubuh.

Secara teknis, film ini adalah sebuah permata. Sinematografi oleh Dimas Bagus Triatma Yoga adalah pahlawan tanpa tanda jasa. Setiap frame adalah lukisan; dari hamparan es dan aurora di Finlandia, hingga jalanan batu dan bangunan kuno di kota kecil Grožnjan, Kroasia. Keindahan visual ini bukan sekadar pajangan, tetapi menjadi metafora yang kuat untuk kondisi batin karakter: keasingan, kesendirian, dan keretakan yang perlahan terjadi. 

Dukungan musik dari lagu-laku seperti “Gaze” (Adhitia Sofyan) dan terutama “Terbuang dalam Waktu” (Barasuara) berhasil mengamplifikasi gejolak emosi hingga titik kulminasinya. Adegan yang diiringi lagu terakhir itu mungkin akan menjadi salah satu momen sinematik Indonesia yang paling diingat dalam beberapa tahun terakhir, sebuah ledakan perasaan yang divisualisasikan dengan sangat puitis.

Namun, di balik semua keindahan itu, ada bayangan yang mengikuti. Kekuatan film, yaitu eksplorasi time loop, juga menjadi sumber kelemahannya. Dalam upaya menggambarkan repetisi dan usaha Sore, alur cerita di bagian tengah film kadang terasa berputar-putar dengan perkembangan yang minim. Ritme pun melambat, dan meski dimaksudkan untuk membuat penonton merasakan kelelahan yang sama dengan Sore, risiko kejenuhan itu nyata. 

Beberapa loop terasa kurang memberikan perkembangan signifikan bagi karakter Jonathan, yang perkembangannya memang sengaja digambarkan lambat dan keras kepala. Selain itu, aturan time travel dalam dunia film ini sengaja dibiarkan samar, yang di satu sisi mempertahankan nuansa magis, tetapi di sisi lain mungkin meninggalkan tanda tanya bagi penonton yang mencari konsistensi logika.

Pada akhirnya, Sore: Istri dari Masa Depan adalah surat cinta yang rumit dan ambisius. Ia berbicara tentang penerimaan—bukan hanya menerima takdir, tetapi juga menerima bahwa kita tidak bisa memaksa perubahan orang yang kita cintai sebelum ia siap. Film ini sukses sebagai pengalaman audio-visual yang memukau dan sebagai vessel untuk penampilan akting Sheila Dara yang monumental. 

Apresiasi setinggi-tingginya terhadap pencapaian teknis dan kedalaman emosionalnya, dengan pengakuan bahwa pacing yang tidak merata dan repetisi tertentu menjadi penghalang besar bagi saya pribadi untuk sepenuhnya hanyut. Seperti senja, film ini meninggalkan kesan mendalam yang hangat dan melankolis, sebuah pengingat bahwa keindahan seringkali hadir bersamaan dengan rasa kehilangan yang tak terelakkan.

Rate: 6,5 - 7 / 10

Komentar