Ulasan Film Sadali (2026): Lukisan yang Setengah Jadi

Ada semacam kegelisahan yang menggelayuti setiap frame Sadali. Bukan kegelisahan yang teriak-teriak minta perhatian, melainkan bisikan halus yang terus berulang di telinga: apakah kita benar-benar bisa move on? Film arahan Kuntz Agus ini hadir sebagai sekuel dari Hidup Ini Terlalu Banyak Kamu (2024), membawa kita tiga tahun lebih maju ke dalam kehidupan Sadali (Ajil Ditto)—seorang pelukis yang memilih menyendiri di Magelang, konon demi fokus pada pameran tunggal terbesar dalam kariernya.

Namun seperti yang kita semua tahu, masa lalu tidak pernah benar-benar pergi. Ia hanya menunggu waktu—dan dalam kasus Sadali, waktu itu datang dalam wujud kabar pernikahan Mera (Adinia Wirasti) dan pertemuan tak terduga dengan Arnaza (Hanggini). Dari sinilah film ini membangun narasi tentang cinta dewasa, penyesalan, dan pencarian jati diri seorang seniman yang kehilangan inspirasi. Tapi apakah Sadali berhasil menyampaikan semua itu dengan memuaskan?

Sadali mengambil pendekatan yang sangat kontemplatif. Ini bukan film dengan konflik yang meledak-ledak atau dialog yang saling sikut. Ritmenya pelan, tenang, hampir seperti meditasi visual. Sadali digambarkan sebagai pelukis yang sedang mengalami kebuntuan kreatif—lukisannya dinilai "belum selesai" oleh kurator, kehilangan identitas personal yang dulu menjadi ciri khasnya. Dan di sinilah letak kecerdasan naratif film ini: proses kreatif Sadali menjadi metafora langsung dari kondisi batinnya. Ia tidak bisa melukis dengan utuh karena hatinya sendiri belum tuntas berdamai dengan masa lalu.

Bagi penonton yang belum menonton film sebelumnya, Sadali tetap bisa dinikmati berkat kilas balik yang disisipkan secara halus. Namun ada kalanya saya merasa pengulangan motif luka lama ini terasa repetitif. Beberapa adegan terasa berputar-putar di tempat yang sama, seolah film ini takut kehilangan momen reflektifnya jika bergerak terlalu cepat. Sebagai penonton yang sabar, saya menghargai kedalaman emosinya, tapi sebagai penonton yang ingin terlibat secara aktif, saya berharap ada lebih banyak dinamika yang mendorong cerita ke depan.

Di sinilah Sadali benar-benar bersinar. Sinematografi film ini adalah salah satu yang terbaik dari sinema Indonesia belakangan ini. Keindahan lansekap Magelang, Jawa Tengah, diangkat dengan komposisi yang hampir seperti lukisan hidup. Rumah Seni Komunitas Darsana yang menjadi latar utama terasa seperti karakter tersendiri—ruang yang sunyi, penuh cahaya alami, dan sangat cocok dengan suasana hati sang protagonis.

Gaya penyutradaraan Kuntz Agus terlihat makin terasah, dengan penyusunan adegan yang rapi dan hampir segala sesuatunya terasa high-effort. Musik pengiringnya pun mendukung tanpa mendominasi, hadir di momen-momen tepat untuk memperkuat emosi tanpa membuatnya terasa berlebihan. Durasi 89 menit terasa pas—tidak terlalu pendek sehingga cerita terasa terburu-buru, tapi juga tidak terlalu panjang hingga kehilangan momentum.

Ajil Ditto membawa Sadali dengan nuansa kegelisahan yang halus dan autentik. Ekspresinya saat melukis atau menghadapi masa lalu terasa nyata, mencerminkan perjuangan internal seorang pria yang terjebak di antara penyesalan dan harapan. Namun karakter ini kadang terasa menjengkelkan—emosional, mudah goyah, dan sangat dipengaruhi suasana hati. Mungkin itulah yang membuatnya terasa manusiawi, tapi di beberapa momen, saya justru ingin berteriak padanya untuk berhenti meratapi masa lalu dan mulai hidup.

Adinia Wirasti sebagai Mera adalah sorotan utama film ini. Transformasinya dari film sebelumnya terasa signifikan—ia tampil lebih tenang, lebih dewasa, namun justru di sanalah pergolakan batinnya terasa kuat. Melalui Mera, film ini berbicara tentang cinta dari sudut pandang kedewasaan: tentang kesiapan, memahami waktu, dan menerima konsekuensi dari setiap pilihan.

Hanggini sebagai Arnaza juga layak diapresiasi. Karakternya hadir sebagai sosok yang mengundang simpati—korban dari keputusan-keputusan yang dibuat orang lain, namun tetap berusaha mencari penjelasan dan ketenangan untuk dirinya sendiri.

Yang menarik, ketiga karakter utama ini sama-sama sedang dalam proses redemption dari kesalahan masa lalu mereka. Tidak ada tokoh jahat di sini, hanya manusia-manusia dewasa yang berusaha memperbaiki diri. Dan di situlah kekuatan sekaligus kelemahan film ini: kedewasaan emosional para karakternya memang terpuji, tapi terkadang terasa terlalu mature hingga kehilangan api yang membuat kita benar-benar terpukau.

Sadali adalah film yang ingin saya sukai lebih dari yang saya bisa. Ia memiliki ambisi yang jelas—menceritakan tentang kedewasaan, penerimaan, dan proses kreatif sebagai katarsis—dan di banyak aspek, ia berhasil. Visualnya memukau, aktingnya solid, dan pesannya mengena.

Namun, ada jarak yang tercipta antara saya dan film ini. Mungkin karena ritmenya yang terlalu lambat di beberapa bagian. Mungkin karena saya merasa film ini lebih banyak bercerita tentang emosi daripada menunjukkan emosi dengan cara yang benar-benar membekas. Atau mungkin karena saya berharap lebih banyak dari eksplorasi seni sebagai medium penyembuhan—sebuah elemen yang terasa seperti janji besar namun hanya di permukaan.

Film ini layak ditonton, terutama bagi penggemar drama romantis dewasa atau mereka yang menyukai karya Pidi Baiq. Tapi bagi yang mencari pengalaman sinematik yang benar-benar mengguncang, Sadali mungkin terasa seperti lukisan yang indah tapi belum sepenuhnya selesai—mirip dengan lukisan-lukisan Sadali sendiri.

Menonton Sadali terasa seperti duduk di galeri seni yang sunyi, menatap sebuah lukisan yang belum selesai. Ada keindahan di dalamnya, ada usaha yang jelas, tapi ada juga ruang kosong yang membuat kita bertanya: apakah ini sudah cukup?

Mungkin itulah pesan sebenarnya dari film ini. Bahwa tidak semua hal harus selesai dengan sempurna. Bahwa kadang, membiarkan kanvas tetap kosong adalah bagian dari proses. Dan bahwa move on bukan soal melupakan, melainkan berani melanjutkan meski kenangan masih ada.

Sadali mungkin bukan film yang akan saya ingat sebagai salah satu yang terbaik tahun ini. Tapi ia adalah film yang membuat saya merenung—tentang cinta, tentang seni, dan tentang apa artinya benar-benar selesai dengan masa lalu. Dan untuk itu, saya berterima kasih.

Rate: 6,5 / 10

Komentar