Ada momen-momen dalam menonton film ketika kamu sadar sedang menyaksikan sesuatu yang istimewa—bukan karena ceritanya revolusioner, bukan pula karena plot twist-nya mengguncang dunia, melainkan karena ada chemistry yang sulit dijelaskan antara apa yang kamu lihat dan apa yang kamu rasakan. GOAT (2026) dari Sony Pictures Animation berhasil menciptakan momen-momen itu bagi saya. Bukan film sempurna, tentu saja—tapi ia berhasil berdiri dengan percaya diri sebagai tontonan yang layak disaksikan hingga akhir.
Dibesut oleh Tyree Dillihay dan diarahkan bersama Adam Rosette, GOAT membawa kita ke Vineland—sebuah dunia antropomorfik yang terasa seperti persilangan antara Zootopia dan semesta Spider-Verse dengan sentuhan budaya urban yang kental. Di sinilah kita bertemu Will Harris (disuarakan dengan sempurna oleh Caleb McLaughlin), seekor kambing kecil dengan mimpi yang tidak kecil: menjadi pemain profesional roarball.
Roarball sendiri adalah olahraga fiktif yang menggabungkan esensi basket dengan intensitas fisik luar biasa, dimainkan oleh hewan-hewan tercepat dan terganas di liga. Bayangkan basket, tapi lapangannya berubah-ubah—dari stalaktit berjatuhan hingga lantai lava, setiap arena mencerminkan lingkungan kotanya masing-masing. Inilah salah satu keunggulan pertama film ini: dunia yang dibangun terasa hidup. Sony Pictures Animation, yang sebelumnya memukau kita lewat Spider-Man: Across the Spider-Verse, kembali menunjukkan kelasnya dalam menciptakan realitas animasi yang imersif.
Plot GOAT memang tidak asing. Seekor underdog—atau lebih tepatnya undergoat—berjuang melawan segala rintangan untuk membuktikan bahwa ukuran bukanlah segalanya. Will adalah kambing kecil di dunia di mana "yang besar" mendominasi: kuda, badak, panther, jerapah. Ia diremehkan, diolok-olok, dan dianggap tidak layak. Namun ketika ia mendapat kesempatan sekali seumur hidup untuk bergabung dengan tim profesional Vineland Thorns, perjalanannya dimulai.
Di sinilah letak kejutan pertama film ini: GOAT tidak sekadar mengulang formula. Ada pendekatan segar yang jarang terlihat dalam film olahraga—termasuk penggambaran tim campuran gender yang terasa organik. Jett Fillmore (Gabrielle Union), bintang tim dan idola Will sejak kecil, adalah seekor panther betina yang dominan, egois, dan sedang bergulat dengan usia serta relevansinya. Ketegangan antara Will yang haus kesempatan dan Jett yang enggan berbagi sorotan menjadi motor emosional yang kuat sepanjang film.
Yang juga menarik adalah bagaimana GOAT merangkai tim yang penuh dengan individu "rusak": Lenny si jerapah (Stephen Curry) yang lebih tertarik pada karier rapnya, Olivia si burung unta (Nicola Coughlan) yang terobsesi dengan media sosial, Archie si badak (David Harbour) yang lebih khawatir pada anak-anaknya daripada pertandingan, dan Modo si komodo (Nick Kroll) yang flamboyan tapi tidak fokus. Mereka bukan sekadar latar belakang—mereka adalah cerminan dari bagaimana sebuah tim sering kali lebih mirip keluarga bermasalah daripada mesin kemenangan.
Mari kita bicara tentang apa yang paling membuat GOAT sulit dilupakan: animasinya. Ini bukan sekadar film animasi—ini adalah pameran teknik dan kreativitas. Dari goresan kuas yang terasa seperti lukisan hidup hingga gerakan kamera yang berputar liar di setiap aksi roarball, film ini terasa seperti roller coaster visual yang tidak pernah berhenti.
Kris Bowers, komposer pemenang Emmy dan nominasi Oscar-Grammy, menghadirkan skor yang memadukan orkestra megah dengan elemen hip-hop, musik dunia, dan elektronik. Hasilnya adalah pengalaman auditori yang selaras sempurna dengan energi visualnya—terasa seperti mendengar denyut nadi Vineland sendiri.
Setiap pertandingan roarball terasa seperti tontonan olahraga sungguhan: penuh energi, dramatis, dan membuat saya berteriak di kursi bioskop. Animasi yang "sangat mengesankan" selama pertandingan roarball menjadi salah satu daya tarik terbesar film ini. Detail tekstur bulu, kilau cahaya, dan gerakan fluidik hewan-hewan ini adalah bukti sejauh mana animasi telah berkembang. Ini adalah film yang layak ditonton di layar besar—pengalaman sinematik yang memanjakan mata.
Namun, seperti yang sudah saya singgung, GOAT bukan tanpa cacat. Jika ada satu kritik yang paling sering saya dengar dan—jujur saja—sedikit saya setujui, adalah tentang ritme ceritanya yang terlalu cepat. Dengan durasi sekitar 95 hingga 100 menit, film ini bergerak seperti roarball itu sendiri: tanpa henti. Terkadang terasa seperti kita melesat melewati momen-momen yang seharusnya dihayati.
Adegan-adegan emosional antara Will dan rekan-rekan timnya terasa tulus, bahkan mengharukan di beberapa titik. Tapi karena ritme yang begitu cepat, momen-momen itu tidak selalu mendapatkan ruang untuk bernapas. Pertandingan final, misalnya, hanya berlangsung sekitar delapan menit—terasa terlalu singkat untuk sebuah klimaks yang telah dibangun sepanjang film.
Meski begitu, saya tidak setuju dengan tuduhan bahwa film ini "hampa hati" atau "gagal membuat penonton peduli". Mungkin bagi sebagian penonton, perjalanan Will memang terasa terlalu mulus, terlalu terprediksi. Tapi bagi saya, GOAT berhasil menyampaikan pesannya dengan tulus: tentang keberanian bermimpi, tentang harga diri, dan tentang menemukan keluarga di tempat yang tidak terduga.
Ada satu momen yang sulit saya lupakan: ketika Will, setelah sekian lama direndahkan, akhirnya mendapatkan pengakuan dari rekan-rekan timnya. Bukan karena ia mencetak poin terbanyak—tetapi karena ia menunjukkan bahwa menjadi bagian dari tim berarti lebih dari sekadar statistik. Momen itu terasa nyata, dan membuat saya tersenyum.
Jadi, apa kesimpulan saya tentang GOAT? Film ini adalah contoh sempurna dari apa yang bisa terjadi ketika sebuah studio berani mengambil risiko visual sambil tetap bermain aman di sisi naratif. Ia tidak berusaha menjadi sesuatu yang revolusioner—dan justru di situlah kekuatannya.
Saya memberikan GOAT tempat yang nyaman di antara film-film animasi terbaik tahun ini. Ia tidak sebrilian Spider-Verse, tidak sekocak KPop Demon Hunters, dan tidak sehangat Zootopia. Tapi ia memiliki identitasnya sendiri: sebuah film olahraga yang enerjik, visual yang memukau, dan hati yang—meskipun terkadang terburu-buru—tetap berdetak dengan tulus.
Apakah ini "yang terhebat sepanjang masa"? Mmm, tentunya tidak. Tapi apakah ini tontonan yang layak untuk dinikmati bersama keluarga, tertawa, berteriak, dan mungkin—hanya mungkin—merasa terinspirasi? Saya pikir jawabannya adalah ya. GOAT mungkin bukan G.O.A.T., tapi ia adalah pemenang di liganya sendiri.
Rate: 7,5 - 8 / 10
.jpg)
.webp)
Komentar
Posting Komentar