Ulasan Film Pizza Movie (2026): Sepotong Kejenakaan Absurd yang Lezat

Ada sensasi tertentu saat menonton film yang judulnya begitu terus terang—Pizza Movie. Bukan The Pizza Chronicles, bukan Slice of Life, hanya Pizza Movie. Judul yang terasa malas dan jenaka sekaligus, seolah-olah sutradaranya Brian McElhaney dan Nick Kocher—duo di balik kanal komedi internet BriTANicK—sedang mengedipkan mata kepada kita. Kau tahu apa yang akan kau dapatkan, bisik judul itu. Jangan berharap lebih. Namun justru di situlah letak kejutan paling menyenangkan dari film yang tayang di Hulu pada April 2026 ini.

Saya duduk menontonnya dengan ekspektasi yang sengaja saya turunkan. Sebuah komedi absurd bertema stoner dengan judul yang terdengar seperti hasil brainstorming lima menit di ruang rapat—apa lagi yang bisa saya harapkan? Tapi entah bagaimana, dalam durasi 97 menit yang terasa seperti perjalanan liar melalui lorong asrama yang tak berkesudahan, Pizza Movie berhasil membuat saya tersenyum, tertawa, dan di beberapa momen, benar-benar terkesan.

Cerita Pizza Movie bisa diringkas dalam satu kalimat: dua mahasiswa—Jack (Gaten Matarazzo) dan Montgomery (Sean Giambrone)—yang sedang dalam keadaan sangat mabuk akibat obat eksperimental bernama M.I.N.T.S., harus berjalan menuruni dua tangga untuk mengambil pesanan pizza. Tapi seperti pepatah mengatakan, perjalanan seribu mil dimulai dengan satu langkah—dan perjalanan menuruni dua tangga ini berubah menjadi petualangan psikedelik yang melibatkan halusinasi mengerikan, mantan sahabat yang berkhianat, preman kampus, dan seorang asisten residen bernama Blake yang punya rencana jahat untuk mengirim semua mahasiswa bermasalah ke asrama terburuk di kampus.

Premisnya konyol, dan filmnya tahu itu. Ini bukan cerita tentang penebusan dosa atau pencarian jati diri yang serius. Ini tentang sekelompok anak kuliahan yang berusaha bertahan hidup dari bad trip mereka sendiri, dan pizza adalah satu-satunya jalan keluar. Saya menghargai kesederhanaan ini. Banyak film komedi yang terjebak dalam ambisi berlebihan—ingin menjadi lucu sekaligus mengharukan sekaligus bermakna. Pizza Movie tidak melakukan itu. Ia memilih satu hal—membuat penonton tertawa—dan ia menjalankannya dengan penuh keyakinan.

Gaten Matarazzo, yang kita kenal sebagai Dustin Henderson di Stranger Things, membuktikan bahwa ia bukan sekadar satu peran. Sebagai Jack, ia membawa pesona yang canggung sekaligus menawan, semacam energi fish out of water yang membuat kita terus mendukungnya meskipun ia membuat satu keputusan bodoh demi keputusan bodoh lainnya. Ada momen di mana Jack hanya berteriak ketakutan selama beberapa detik berturut-turut, dan entah bagaimana Matarazzo membuatnya terasa lucu, bukan menjengkelkan.

Sean Giambrone sebagai Montgomery adalah pelengkap yang sempurna—lebih nekat, lebih impulsif, tapi juga lebih rapuh secara emosional. Dinamika antara keduanya mengingatkan saya pada pasangan komedi klasik seperti Harold & Kumar, atau Bill & Ted. Mereka adalah dua sisi dari koin yang sama: satu terlalu takut untuk hidup, satu terlalu takut untuk mati, dan keduanya sama-sama tidak siap menghadapi apa pun yang terjadi malam itu.

Lulu Wilson sebagai Lizzy—mantan sahabat yang kini berada di pihak musuh—menambahkan lapisan konflik yang menarik. Dan kemudian ada Daniel Radcliffe dalam cameo yang tidak akan saya bocorkan di sini, kecuali untuk mengatakan bahwa ia muncul di momen yang paling tidak terduga dan paling tepat. Para pemain pendukung, termasuk Jack Martin sebagai antagonis Blake, semuanya tampak menikmati setiap detil absurditas yang mereka bawakan.

Saya tidak menyangka akan mengatakan ini tentang film berjudul Pizza Movie, tetapi secara visual, film ini cukup mengesankan. Sinematografer Bella Gonzales berhasil menangkap esensi dari perjalanan psikedelik dengan cara yang tidak murahan. Ada penggunaan bayangan dan cahaya yang memberi nuansa slick pada film ini—sebuah kontras yang menarik dengan kekacauan naratifnya.

Adegan-adegan halusinasi terasa liar tanpa menjadi terlalu mengganggu secara visual. Ini bukan film yang mengandalkan efek khusus murah untuk membuat penonton terkesan; sebaliknya, ia menggunakan trik-trik sinematik klasik—permainan perspektif, transisi yang tidak terduga, dan palet warna yang sengaja dibuat off—untuk menciptakan suasana yang tepat. Musik dari Leo Birenberg dan Zach Robinson mengiringi dengan sempurna, kadang-kadang terasa seperti film aksi tahun 80-an, kadang-kadang seperti mimpi buruk yang aneh.

Namun, saya harus jujur: ritme film ini tidak selalu konsisten. Di beberapa bagian, terutama di tengah-tengah, cerita terasa berputar-putar tanpa tujuan yang jelas. Ada momen-momen di mana saya bertanya-tanya, "Ke mana ini semua akan berakhir?" Dan jawabannya, sayangnya, kadang-kadang terasa seperti sang sutradara juga tidak benar-benar tahu. Tapi entah bagaimana, energi para pemain dan kecepatan lelucon yang meledak-ledak berhasil menutupi kelemahan ini—setidaknya untuk sebagian besar durasi film.

Pizza Movie adalah film yang tahu persis apa dirinya. Ia tidak malu-malu dengan lelucon kasar, humor jorok, dan absurditas yang keterlaluan. Adegan-adegan seperti "kepala meledak", meskipun terdengar mengerikan, dalam konteks film ini ia terasa seperti bagian dari kekacauan yang menyenangkan.

Humor dalam film ini adalah tipe humor yang bisa dibilang Gen Z, dengan ritme yang cepat dan referensi yang kadang-kadang terasa sangat spesifik. Beberapa lelucon berhasil dengan sempurna—saya tertawa terbahak-bahak di beberapa adegan. Beberapa lainnya, saya akui, terasa seperti lelucon yang dipaksakan atau terlalu bergantung pada kejutan. Ada terlalu banyak lelucon tentang kulup, misalnya, yang rasanya seperti lelucon yang bagus di dua kali pertama, tetapi menjadi membosankan setelah yang kelima.

Tapi di sinilah letak kekuatan sekaligus kelemahan Pizza Movie: ia tidak pernah berhenti melempar. Ketika satu lelucon gagal, lelucon berikutnya sudah datang meluncur. Ini adalah pendekatan "lempar semuanya ke tembok dan lihat apa yang menempel"—dan yang menempel, ternyata, cukup banyak.

Setelah film selesai, saya duduk dalam diam selama beberapa saat. Pizza Movie membuat saya tertawa, benar-benar tertawa. Tapi apakah saya merasa terpenuhi secara emosional? Apakah film ini meninggalkan jejak yang dalam di hati saya?

Jawabannya, jujur saja, adalah tidak. Ini adalah film yang menyenangkan saat dikonsumsi—seperti pizza, sungguh—tetapi setelahnya, rasanya seperti makanan cepat saji yang lezat namun tidak benar-benar membeikan nutrisi. Ada kehampaan kecil yang tersisa, semacam kesadaran bahwa meskipun saya menikmati perjalanannya, saya tidak benar-benar membawa sesuatu yang berarti dari film ini.

Tapi apakah itu masalah? Saya tidak yakin. Tidak semua film harus menjadi pengalaman yang mengubah hidup. Terkadang, yang kita butuhkan hanyalah tawa yang jujur dan tidak pretensius—dan Pizza Movie memberikan itu dengan berlimpah.

Pizza Movie adalah film yang berhasil melakukan apa yang ingin dilakukannya: menghibur. Ia tidak sempurna—ritmenya kadang tersendat, beberapa lelucon terasa berlebihan, dan akhir ceritanya terasa sedikit terburu-buru. Tapi di saat banyak film komedi mencoba terlalu keras untuk menjadi pintar atau bermakna, Pizza Movie memilih untuk menjadi apa adanya: sebuah perayaan atas kekacauan, persahabatan, dan kekuatan penyembuhan dari sepotong pizza.

Gaten Matarazzo dan para pemain lainnya memberikan performa yang menawan. Sutradara McElhaney dan Kocher menunjukkan bahwa mereka mengerti bagaimana membuat komedi yang efektif. Dan meskipun film ini mungkin tidak akan masuk dalam daftar film terbaik sepanjang masa, saya yakin ia akan menemukan tempatnya sebagai cult classic di kalangan penonton yang tepat.

Saya menonton Pizza Movie dengan senyum di wajah saya dari awal hingga akhir. Dan di akhir pekan yang melelahkan, terkadang itulah yang paling kita butuhkan.

Rate: 7 - 7,5 / 10

Komentar