Ulasan Film The Super Mario Galaxy Movie (2026): Sebuah Pesta Visual yang Menawan, Namun Tak Sempurna di Setiap Gravitasinya
Sebagai seseorang yang tumbuh dengan game Super Mario Galaxy di Nintendo Wii, saya membawa ekspektasi yang cukup tinggi—dan juga rasa was-was. Akankah Illumination dan Nintendo mampu menerjemahkan mekanika gravitasi yang ikonik serta kemegahan kosmik dari game klasik 2007 ini ke dalam format film berdurasi 98 menit? Nah, setelah menyaksikan sendiri petualangan terbaru Mario, Luigi, dan kawan-kawan, saya menyelesaikannya dengan perasaan yang cukup spesifik: terpukau, tetapi tidak sepenuhnya puas.
Film ini mengambil ancaman baru yang cukup segar. Setelah kekalahan Bowser di film pertama, putranya, Bowser Jr. (disuarakan oleh Benny Safdie), muncul sebagai antagonis utama. Ia menculik Rosalina (Brie Larson), penguasa galaksi yang menjaga keseimbangan kosmos, demi membebaskan ayahnya yang masih menjadi tahanan. Mario dan Luigi, ditemani Princess Peach, Toad, dan Yoshi—yang kali ini disuarakan oleh Donald Glover—berangkat ke luar angkasa untuk menyelamatkan Rosalina dan menggagalkan rencana Bowser Jr.
Yang saya apresiasi dari cerita kali ini adalah bagaimana Mario dan Luigi benar-benar berpetualang bersama sepanjang film—tidak seperti di film pertama di mana mereka terpisah. Dinamika kakak-adik ini terasa hangat dan memberikan fondasi emosional yang cukup kuat. Namun, saya harus jujur: alur ceritanya terasa seperti roller coaster yang tidak pernah berhenti. Adegan demi adegan bergulir cepat, kadang terlalu cepat, sehingga beberapa momen penting terasa terburu-buru. Ini bukan film dengan narasi yang dalam dan penuh intrik ala Pixar, dan bagi saya itu tidak masalah—tapi ada kalanya saya berharap film ini berhenti sejenak untuk bernapas.
Jika ada satu hal yang membuat The Super Mario Galaxy Movie layak ditonton, itu adalah visualnya. Setiap inci layar dipenuhi dengan warna-warna cerah, detail planet-planet fantastis, dan efek gravitasi yang membuat mata terpana. Ada satu adegan di mana Mario melompat dari satu planet kecil ke planet lain, dan saya benar-benar merasakan sensasi melayang di luar angkasa—seperti bermain game-nya langsung di layar.
Sutradara Aaron Horvath dan Michael Jelenic—yang juga menggarap film pertama—kembali menunjukkan keahlian mereka dalam menghadirkan dunia animasi yang hidup. Tidak ada yang namanya empty space di sini; setiap sudut layar diisi dengan referensi, Easter egg, dan elemen visual yang membuat penggemar Nintendo seperti saya tersenyum sendiri. Film ini, seperti yang dikatakan banyak orang, adalah mimpi yang menjadi nyata bagi para penggemar Nintendo.
Brian Tyler kembali menggarap skor musik, dan kali ini ia dibantu oleh 70-piece orchestra untuk menciptakan suasana yang lebih epik. Musik dalam film ini benar-benar membawa saya ke galaksi yang jauh. Tema-tema dari game Super Mario Galaxy yang asli diaransemen ulang dengan sentuhan orkestra yang megah, dan saya hampir menangis ketika mendengar melodi Gusty Garden Galaxy muncul di salah satu adegan. Ini adalah penghormatan yang indah bagi para pemain setia.
Para pengisi suara kembali tampil memukau. Chris Pratt sebagai Mario terdengar lebih natural kali ini, dan Charlie Day sebagai Luigi membawa energi komedi yang pas. Jack Black sebagai Bowser, meskipun hanya muncul di beberapa adegan, tetap mencuri perhatian dengan kejenakaannya yang khas. Brie Larson sebagai Rosalina memberikan nuansa anggun dan misterius yang cocok dengan karakter penjaga galaksi. Dan Yoshi—meskipun awalnya terasa sedikit mengganggu—lambat laun menjadi karakter yang menyenangkan untuk diikuti.
Namun, kelemahan terbesar film ini ada pada pengembangan karakter. Selain Peach dan Rosalina, hampir tidak ada karakter yang mendapatkan perkembangan emosional yang berarti. Mario tetap menjadi pahlawan yang baik hati dan pemberani—tanpa konflik internal atau perjalanan emosional yang mendalam. Ini adalah pilihan yang disengaja, tentu saja, karena film ini memang ditujukan untuk anak-anak dan penggemar yang ingin bersenang-senang. Tapi sebagai penonton dewasa, saya berharap ada lebih banyak momen reflektif yang membuat saya benar-benar terhubung dengan karakter di luar sekadar nostalgia.
The Super Mario Galaxy Movie adalah film yang dibangun untuk memanjakan mata dan telinga, bukan untuk merenungkan makna hidup. Dan dalam hal itu, ia berhasil dengan gemilang. Visualnya memukau, musiknya epik, dan nuansa nostalgianya begitu kental sehingga saya tidak bisa tidak tersenyum sepanjang film. Namun, sebagai sebuah cerita, ia terasa seperti rangkaian adegan aksi dan Easter egg yang dihubungkan secara longgar. Tidak ada tema yang benar-benar menyentuh, tidak ada momen yang membuat saya merenung lama setelah keluar bioskop.
Film ini berhasil memberikan apa yang dijanjikannya: hiburan yang menyenangkan, penuh warna, dan sangat menghibur—tetapi tidak lebih dari itu. Ini adalah tontonan yang sempurna untuk keluarga, untuk anak-anak yang baru mengenal Mario, dan untuk para penggemar tua yang ingin bernostalgia. Bagi yang mencari pengalaman sinematik yang mendalam dan berkesan, mungkin film ini terasa kurang. Tapi bagi saya, terkadang yang kita butuhkan hanyalah tawa, warna, dan petualangan ringan yang membuat kita merasa seperti anak kecil lagi.
Rate: 7 - 7,5 / 10
.webp)
.jpg)
Komentar
Posting Komentar