Ada sesuatu yang terasa akrab sekaligus segar ketika saya menonton Hoppers (2026). Pixar, studio yang belakangan ini seolah kehilangan kompasnya, mencoba kembali ke akarnya lewat kisah seorang gadis pecinta hewan yang nekat memasukkan kesadarannya ke tubuh berang-berang robotik. Premisnya terdengar gila, tapi justru dari kegilaan itulah film ini menemukan jiwanya.
Saya menontonnya dengan antusias, dan begitu kredit penutup berjalan, saya merasakan kehangatan yang sulit dijelaskan. Bukan euforia seperti usai menonton Coco atau Inside Out, melainkan kepuasan tenang, seperti menyeruput cokelat panas di sore hujan. Hoppers bukan mahakarya, tapi ia adalah pengingat bahwa Pixar masih bisa bercerita dengan hati.
Hoppers mengikuti Mabel Tanaka, mahasiswa biologi berusia 19 tahun yang tumbuh besar bersama neneknya di sebuah hutan kecil bernama Beaverton. Ketika Wali Kota Jerry Generazzo berencana mengganti hutan itu dengan jalan bebas hambatan, Mabel melakukan segala cara untuk menghentikannya. Kesempatan itu datang ketika ia menemukan teknologi rahasia bernama Hoppers yang dikembangkan oleh profesornya, Dr. Samantha Fairfax. Teknologi tersebut memungkinkan kesadaran manusia melompat ke dalam tubuh hewan robotik.
Tanpa berpikir panjang, Mabel melompat ke tubuh berang-berang robotik dan memulai petualangan yang jauh lebih kompleks dari yang ia bayangkan. Ia bertemu King George, kepala berang-berang di Superlodge, dan mulai memahami bahwa dunia hewan ternyata jauh lebih rumit daripada yang ia pelajari di kelas.
Sutradara Daniel Chong, yang sebelumnya dikenal lewat serial We Bare Bears, berhasil membangun narasi yang mengalir natural tanpa terburu-buru. Naskah yang ia tulis bersama Jesse Andrews menghindari jebakan cerita lingkungan yang hitam-putih. Wali Kota Jerry bukan villain karton yang jahat tanpa alasan, dan Mabel pun bukan pahlawan sempurna tanpa cela.
Dari sisi teknis, Hoppers adalah bukti bahwa Pixar masih memegang standar tertinggi dalam animasi. Bulu-bulu berang-berang yang basah oleh air sungai, pantulan cahaya matahari di dedaunan hutan, hingga detail mikro pada tubuh robotik Mabel semuanya dikerjakan dengan presisi yang memanjakan mata. Sinematografinya menghadirkan skala yang tepat antara keintiman hutan kecil dan luasnya dunia hewan yang Mabel jelajahi.
Skor musiknya bekerja dengan baik untuk memperkuat momen-momen emosional, meski tidak ada tema yang benar-benar menancap di kepala seperti karya Michael Giacchino di Up. Editing-nya rapi, terutama pada adegan-adegan aksi ketika Mabel harus bermanuver dengan tubuh berang-berangnya yang masih canggung. Ada beberapa transisi yang terasa sedikit tergesa, terutama di paruh kedua film, namun secara keseluruhan ritmenya terjaga.
Yang paling saya apresiasi dari Hoppers adalah keberaniannya menampilkan protagonis yang tidak selalu benar. Mabel adalah karakter yang chaotis, keras kepala, dan kadang egois dalam memperjuangkan apa yang ia yakini. Ia mengabaikan kuliahnya, menentang profesornya, dan nekat mencuri teknologi demi tujuan mulianya. Tapi justru ketidaksempurnaan itulah yang membuatnya terasa manusiawi.
Hubungan Mabel dengan neneknya, yang hadir melalui kilas balik singkat, memberikan fondasi emosional yang kuat. Kita memahami mengapa hutan itu begitu berarti baginya, dan mengapa ia rela melakukan apa pun untuk melindunginya. Piper Curda memberikan performa vokal yang penuh energi namun tetap rentan di momen-momen tepat.
Jon Hamm sebagai Wali Kota Jerry juga menarik untuk disimak. Ia bukan sekadar antagonis; ada sisi-sisi manusiawi yang membuat kita memahami, bahkan sesekali bersimpati pada posisinya. Bobby Moynihan sebagai King George menghadirkan humor yang menyegarkan, meski beberapa leluconnya terasa agak dipaksakan.
Hoppers adalah film yang baik, tapi tidak luar biasa. Ia memiliki semua elemen yang membuat Pixar dicintai—visual memukau, cerita yang menyentuh, karakter yang hidup—namun eksekusinya kadang tersandung oleh pacing yang tidak konsisten dan momen emosional yang tidak selalu mendarat dengan mulus. Beberapa kritikus memang menyoroti kelemahan pada koneksi antar karakter dan kedalaman cerita yang terasa kurang.
Namun, saya memilih untuk melihat Hoppers sebagai langkah positif bagi Pixar. Di tengah banjir sekuel dan cerita yang aman, film ini berani mengambil risiko dengan premis orisinal dan pesan yang relevan tentang keseimbangan antara kemajuan manusia dan pelestarian alam. Ia tidak sempurna, tapi ia jujur. Dan kadang, kejujuran itulah yang paling kita butuhkan dari sebuah film.
Ketika film berakhir dan kredit mulai bergulir, saya menyadari bahwa Hoppers tidak akan masuk daftar film favorit saya sepanjang masa. Tapi ia berhasil melakukan sesuatu yang sederhana namun penting: membuat saya tersenyum, berpikir, dan sedikit merindukan hutan di belakang rumah nenek saya.
Rate: 7,5 / 10
.webp)
.jpg)
Komentar
Posting Komentar