Film How to Make a Killing dibuka dengan adegan yang sudah sangat akrab bagi pecinta film kriminal: seorang pria yang menunggu hukuman mati, menceritakan kembali kisah hidupnya kepada seorang pendeta. Becket Redfellow (Glen Powell) adalah pria kelas pekerja yang sejak lahir dibuang oleh keluarganya yang super kaya. Kini, dengan hanya beberapa jam tersisa sebelum eksekusi, ia mengenang bagaimana ia memutuskan untuk membunuh seluruh kerabatnya demi merebut kembali warisan yang menurutnya menjadi haknya. Premis yang menggoda, bukan? Sayangnya, film besutan John Patton Ford ini terasa seperti menikmati hidangan mewah yang ternyata hanya sekadar camilan—mengenyangkan sesaat, namun cepat dilupakan.
How to Make a Killing berada di posisi yang ambigu: cukup menghibur untuk ditonton, tetapi tidak cukup istimewa untuk dikenang. Ini adalah film yang tepat untuk malam Minggu santai, saat kamu ingin menikmati sesuatu tanpa harus terlalu banyak berpikir. Di situlah letak kekuatan sekaligus kelemahannya.
Jika premisnya terasa familiar, itu karena How to Make a Killing adalah remake modern dari film klasik Ealing Studios tahun 1949, Kind Hearts and Coronets. Becket adalah anak tidak sah dari keluarga Redfellow, salah satu klan terkaya di Amerika. Ibunya dibuang setelah menolak aborsi, dan Becket tumbuh miskin. Saat dewasa dan menyadari bahwa ia adalah pewaris kedelapan dalam garis suksesi kekayaan keluarga senilai $28 miliar, ia memutuskan untuk "memangkas beberapa cabang dari pohon keluarga".
Yang menarik dari cerita ini sebenarnya adalah dilema moralnya. Becket tidak hanya terdorong oleh keserakahan, tetapi juga oleh rasa tanggung jawab terhadap mendiang ibunya yang berkata agar ia memperjuangkan hidup yang "pantas". Namun, alih-alih mendalami konflik batin ini, film memilih jalan yang lebih aman: setiap anggota keluarga Redfellow digambarkan sebagai orang yang sangat menyebalkan—mulai dari kepala gereja yang korup hingga nepo-baby yang kasar. Dengan cara ini, penonton dibebaskan dari rasa bersalah mendukung seorang pembunuh. Film seolah-olah berkata, "Mereka pantas mati, kok."
Di sinilah masalah utamanya. Sebuah film tentang "makan si kaya" (eat the rich) seharusnya memiliki keberanian untuk menggigit. Namun How to Make a Killing terlalu jinak. Satirnya tidak pernah cukup tajam untuk benar-benar mengkritik, dan moralitasnya terlalu rapuh untuk dianggap serius. Hasilnya, film ini terjebak di tanah tak bertuan—tidak cukup gelap untuk menjadi thriller yang memuaskan, tidak cukup lucu untuk menjadi komedi yang menggelikan.
Jika ada satu alasan kuat untuk menonton film ini, itu adalah Glen Powell. Powell memerankan Becket dengan pesona khasnya yang sulit ditolak—senyum menawan yang menyembunyikan niat gelap, energi karismatik yang membuat penonton tetap berpihak padanya meskipun ia sedang merencanakan pembunuhan. Ia adalah aktor yang sempurna untuk peran antihero yang mengandalkan daya tarik untuk menutupi tindakan keji.
Namun, bahkan Powell tidak bisa sepenuhnya menyelamatkan film dari skrip yang hambar. Karakternya kekurangan kedalaman psikologis—kita tidak pernah benar-benar memahami apa yang ada di benaknya selain keinginan dangkal untuk menjadi kaya. Seperti yang dirasakan banyak penonton, How to Make a Killing terasa seperti "mash-up dari film-film yang jauh lebih baik".
Untungnya, aktor pendukung memberikan warna yang dibutuhkan. Margaret Qualley sebagai Julia Steinway, teman masa kecil Becket, memainkan perannya dengan energi manik yang menarik—ia menjadi kehadiran paling menarik di layar. Jessica Henwick sebagai Ruth juga mencuri perhatian dengan penampilannya yang hangat dan tulus. Sementara itu, Bill Camp dan Zach Woods sebagai paman dan sepupu Becket menyediakan momen-momen komedi yang cukup menggelikan.
Dari sisi teknis, film ini cukup memanjakan mata. Sinematografinya rapi, dengan gaya visual yang mengingatkan pada The White Lotus dan film-film Knives Out. Rumah-rumah mewah, pakaian mahal, dan mobil-mobil super mencerminkan kekayaan keluarga Redfellow dengan sempurna. Editingnya juga terbilang cepat dan gesit, membuat film mengalir tanpa terasa terlalu panjang meskipun durasinya 105 menit.
How to Make a Killing adalah film yang "cukup" dalam segala hal—cukup menghibur, cukup stylish, cukup lucu, namun juga cukup biasa saja. Ia memiliki semua elemen untuk menjadi film yang hebat: premis yang kuat, pemeran yang luar biasa, dan produksi yang solid. Namun eksekusinya gagal mencapai potensi penuh, menghasilkan film yang terasa dangkal dan cepat dilupakan.
Bagi penonton yang mencari hiburan ringan tanpa tuntutan berpikir berat, film ini adalah pilihan yang layak. Namun bagi mereka yang mengharapkan satir tajam atau eksplorasi karakter yang mendalam, How to Make a Killing akan terasa mengecewakan. Ini adalah film yang ingin berbicara banyak tentang keserakahan, kelas, dan moralitas, tetapi akhirnya hanya berbisik.
Rate: 6,5 / 10
.jpg)
.png)
Komentar
Posting Komentar