Aku masih ingat betul saat pertama kali mendengar nama Lee Cronin disematkan di judul The Mummy. Ada semacam keberanian—atau mungkin kesombongan—dalam menaruh namamu di atas warisan yang sudah berumur hampir seabad. Tapi setelah menontonnya, aku mengerti mengapa ia melakukannya. Ini bukan sekadar reboot; ini adalah pernyataan. Dan seperti kebanyakan pernyataan berani, ia datang dengan konsekuensi.
Dari menit pertama, Cronin membuat satu hal sangat jelas: The Mummy (2026) bukanlah film untuk mereka yang merindukan senyum Brendan Fraser atau petualangan Indiana Jones. Ini adalah horor—horor yang kotor, mencekam, dan sama sekali tidak peduli jika kamu merasa tidak nyaman. Dan di situlah letak kekuatan sekaligus kelemahannya.
Premisnya sebenarnya sederhana: Katie (Natalie Grace), putri seorang jurnalis televisi bernama Charlie Cannon (Jack Reynor), menghilang di Kairo saat masih kecil. Delapan tahun kemudian, ia ditemukan dalam keadaan yang aneh dan dikembalikan ke keluarganya yang kini tinggal di New Mexico. Tapi Katie yang kembali bukanlah Katie yang dulu. Ada sesuatu yang mengerikan di dalam dirinya—sesuatu yang berasal dari ritual kuno dan kutukan yang disebut Nasmaranian.
Yang menarik dari pendekatan Cronin adalah bagaimana ia membingkai ulang "mumi" bukan sebagai mayat terbungkus kain yang bangkit dari makam, melainkan sebagai entitas yang tercipta melalui ritual korupsi terhadap yang hidup. Katie bukanlah korban kutukan; ia adalah wadah. Dan keluarga Cannons bukan sedang melawan monster dari luar—mereka sedang berhadapan dengan monster yang tinggal di dalam tubuh putri mereka sendiri.
Cronin sengaja mengabaikan ekspektasi penonton akan petualangan seru dan menggantinya dengan ketegangan rumah tangga yang mencekam. Rumah keluarga Cannon menjadi arena utama teror—sebuah ruang tertutup dengan lorong sempit, sudut gelap, dan garis pandang panjang yang membuatmu selalu waspada. Ini bukan cerita tentang menjelajahi piramida; ini tentang tidak bisa melarikan diri dari ruang makanmu sendiri.
Di sinilah letak perdebatan terbesarku dengan film ini. Cronin tidak pelit dengan darah dan jeroan. Adegan-adegan gore di sini benar-benar visceral—kulit mengelupas, tubuh berubah bentuk, dan transformasi yang membuat perutmu mual. Efek praktis yang digunakan untuk menciptakan penampilan Katie yang mengerikan terasa nyata, jauh lebih mengganggu daripada CGI yang mulus. Ini adalah horor tubuh di bentuknya yang paling brutal.
Tapi horor bukan hanya tentang darah. Dan di sinilah film ini terkadang tersandung. Cronin lebih tertarik menumpuk adegan-adegan brutal daripada membangun ketegangan yang berkelanjutan. Ada momen-momen yang seharusnya menakutkan tapi malah terasa lucu tanpa sengaja. Adegan-adegan tertentu terasa seperti pinjaman dari film-film horor lain—The Exorcist, Hereditary, Evil Dead—tanpa pernah benar-benar mencapai ketinggian yang sama.
134 menit durasinya terasa berat di beberapa bagian. Film ini lambat di tempat yang seharusnya menggigit, dan kacau di tempat yang seharusnya fokus. Tapi justru di tengah ketidaksempurnaan inilah aku menemukan sesuatu yang membuatku tetap bertahan.
Jika ada satu alasan untuk menonton film ini, itu adalah Natalie Grace. Penampilannya sebagai Katie adalah sesuatu yang akan terus menghantuimu lama setelah kredit bergulir. Dari cara ia bergerak, cara ia diam, cara ia menatap—semuanya terasa salah dengan cara yang paling mengganggu. Ia tidak sekadar berakting menyeramkan; ia definisi seram itu sendiri.
Grace berhasil melakukan sesuatu yang sulit: ia membuatmu takut sekaligus membuatmu merasa kasihan. Katie adalah korban dan ancaman dalam waktu yang bersamaan. Ada peringatan yang diberikan kepada orang tuanya di awal: tidak boleh ada gerakan mendadak, tidak boleh ada suara mendadak. Tapi seiring film berjalan, kamu mengerti bahwa peringatan itu bukan untuk melindungi Katie—melainkan untuk melindungi mereka darinya.
Jack Reynor dan Laia Costa sebagai orang tua Katie memberikan penampilan yang solid. Reynor, yang sebelumnya tampil dalam Midsommar, membawa intensitas yang tepat sebagai ayah yang putus asa. Costa menyampaikan emosi seorang ibu yang terkoyak antara cinta dan ketakutan. Tapi skenario terkadang menempatkan mereka dalam situasi di mana reaksi mereka terasa tidak masuk akal—bagaimana bisa seorang keluarga tetap tenang saat putri mereka makan kalajengking dan berperilaku seperti makhluk aneh. Ini adalah kelemahan naratif yang sulit diabaikan.
Lee Cronin's The Mummy adalah film yang berani, kadang-kadang brilian, kadang-kadang berantakan. Film ini adalah pengalaman yang akan membuatmu bertanya-tanya—bukan tentang apa yang terjadi di layar, tapi tentang mengapa para karakter di dalamnya bertindak seperti itu.
Cronin berhasil melakukan sesuatu yang belum pernah dilakukan film Mummy sebelumnya: ia membuatku benar-benar takut. Tapi ia juga membuatku frustrasi. Ada visi yang jelas di sini, tapi eksekusinya tidak selalu mulus. Film ini adalah bukti bahwa kadang-kadang, untuk menciptakan sesuatu yang baru, kamu harus rela mengorbankan apa yang membuat warisan itu dicintai.
Apa yang membuatku menghargai film ini, meskipun dengan segala kekurangannya, adalah keberaniannya untuk tidak kompromi. Cronin tidak mencoba menyenangkan semua orang. Ia membuat film horor yang kelam, brutal, dan tanpa maaf—dan bagi sebagian penonton, itu sudah cukup. Di tengah lautan reboot yang aman dan dapat diprediksi, Lee Cronin's The Mummy adalah pengingat bahwa kadang-kadang, hal yang paling menakutkan adalah ketika seseorang benar-benar mencoba sesuatu yang berbeda.
Apakah aku merekomendasikannya? Well, mungkin ya—mungkin juga tidak. Lupakan semua yang kamu tahu tentang The Mummy. Lupakan petualangan, lupakan romansa, lupakan senyum. Jika kamu siap untuk teror keluarga yang kotor, gelap, dan kadang-kadang menggelikan, film ini layak untuk ditonton. Tapi jika kamu mencari nostalgia, lebih baik kubur ekspektasimu bersama dengan mumi-mumi lama.
Rate: 7 / 10
.jpg)
.png)
Komentar
Posting Komentar