Ulasan Film David (2025): Perjalanan Epik yang Indah, Namun Kurang Menyentuh Jiwa

David, produksi Angel Studios yang didistribusikan pada 19 Desember 2025, mengajak kita menyelami kembali kisah klasik dari Kitab Samuel. Mengisahkan perjalanan seorang anak gembala sederhana yang diurapi menjadi raja Israel, film ini menjanjikan tontonan epik dengan balutan animasi modern dan musik emosional. Setelah menontonnya, saya merasa film ini berada di persimpangan yang menarik antara ambisi besar dan eksekusi yang hati-hati.

Jika ada satu hal yang tidak bisa disangkal dari film ini, adalah kualitas animasinya yang luar biasa. Sunrise Animation Studios berhasil menciptakan lanskap Israel kuno yang terasa hidup dan membumi. Debu-debu beterbangan di lembah, hembusan angin menggerakkan gandum di perbukitan, dan yang paling memukau adalah tekstur dari setiap helai kain. Jubah para raja, pakaian gembala David, hingga permadani di istana Saul digambarkan dengan detail taktil yang membuat kita seolah bisa merasakan bahannya.

Puncaknya tentu saja saat adegan klimaks David melawan Goliat. Duel yang berlangsung di tengah ladang bunga poppy merah membentang luas adalah sebuah masterpiece shot. Saat sang raksasa tumbang, kelopak bunga berhamburan seperti konfeti, menciptakan kontras visual yang dramatis antara kekuatan brutal dan keindahan alam yang rapuh.

Sebagai film musikal, David mengandalkan lagu-lagu gubahan Jonas Myrin untuk menggerakkan cerita. Beberapa lagu, terutama yang dinyanyikan oleh David kecil (Brandon Engman), terasa ringan dan cocok untuk menunjukan mimpinya sebagai seorang gembala. Namun, di sinilah letak kerikil pertama. Lagu-lagu dalam film ini, meskipun enak didengar, sayangnya tidak meninggalkan kesan mendalam. Tidak ada satu pun track musik yang memiliki daya ledak emosional seperti misalnya "When You Believe" di The Prince of Egypt. Padahal, sebagai penonton, kita mengharapkan momen di mana sebuah lagu mampu membuat bulu kuduk merinding.

Hal ini diperparah dengan penulisan karakter yang cenderung datar. David, yang seharusnya menjadi tokoh kompleks—seorang pemazmur, prajurit, dan pemimpin—di sini digambarkan sebagai pahlawan yang terlalu "aman". Ssutradara memilih untuk menghilangkan sisi gelap dari narasi alkitabiah, seperti adegan pemenggalan Goliat (diganti dengan pengambilan helm). 

Meskipun ini adalah keputusan bijak agar tetap ramah anak, konsekuensinya adalah David kehilangan dimensi manusianya. Ia menjadi figur yang begitu baik, lembut, dan idealis, hingga terasa seperti karakter kartun pada umumnya, bukan seorang "manusia yang berkenan di hati Tuhan" yang penuh dengan pergumulan.

Salah satu kritik untuk film ini adalah soal spiritualitas. Sebagai sebuah film dengan tema dasar religi, ekspektasinya tentu adalah kita akan merasakan kedekatan tokoh utama dengan Tuhan. Namun, David justru terasa seperti cerita moral universal yang dibungkus dengan atribut religi. Sosok Tuhan dalam film ini digambarkan secara samar—hanya berupa "cahaya" bisu yang sesekali muncul secara samar. Tidak ada dialog intim antara David dengan Tuhannya, tidak ada doa yang keluar dari mulutnya, dan bahkan tidak ada satu pun Mazmur asli yang ia tulis digunakan dalam film ini.

Alih-alih menunjukkan bahwa kemenangan David berasal dari iman yang membara, film ini lebih menonjolkan semangat pasifisme modern. David digambarkan sebagai pribadi yang mampu menyelesaikan masalah secara damai, seolah melupakan bahwa dalam catatan sejarah, ia adalah seorang prajurit yang tangguh. Pergeseran fokus dari "kisah iman" menjadi "kisah tentang kebaikan hati" ini membuat film kehilangan jiwanya yang paling dalam.

Kejutan terbesar dari film ini adalah struktur ceritanya. Adegan David mengalahkan Goliat, yang biasanya menjadi klimaks, ternyata hanya terjadi di pertengahan film. Sisa waktu selanjutnya dihabiskan untuk menceritakan pelariannya dari kejaran Raja Saul yang cemburu. Sayangnya, paruh kedua ini berjalan dengan tempo lambat dan tidak semenarik babak pertama. Meskipun ada beberapa momen emosional, seperti hubungan persahabatannya dengan Yonatan, secara keseluruhan narasinya terasa bertele-tele dan mengikuti rumus "jalan pahlawan" Hollywood yang sudah bisa kita tebak dari awal.

David (2025) adalah sebuah mahakarya secara teknis. Animasi yang ditawarkan setara, bahkan mungkin melampaui beberapa produksi studio animasi besar. Namun, kecantikan visualnya tidak diimbangi dengan kedalaman emosi dan spiritual. Film ini terlalu sibuk memperindah gambar hingga lupa memperindah jiwa karakternya.

Film ini sangat layak ditonton, terutama bagi keluarga yang mencari hiburan yang berkualitas dan aman untuk anak-anak. Anak-anak akan terpukau dengan warna dan aksinya. Namun, bagi orang dewasa yang mencari pengalaman sinematik yang menggugah, atau bagi mereka yang sangat memahami kisah Daud, mungkin akan ada sedikit rasa hampa setelah film selesai diputar. Ini adalah tontonan yang indah, tapi sayangnya, mudah dilupakan.

Rate: 7 / 10

Komentar