Ulasan Film 1st Kiss (2025): Sebuah Renungan Mengharukan tentang Cinta, Waktu, dan Kesempatan Kedua

Film 1st Kiss (2025) hadir sebagai sebuah drama fantasi romantis yang tidak hanya menawarkan konsep perjalanan waktu yang menarik, tetapi juga menyelami jauh ke dalam emosi manusia tentang penyesalan, cinta, dan keinginan untuk memperbaiki masa lalu. Disutradarai oleh Ayuko Tsukahara dengan naskah yang ditulis oleh Yuji Sakamoto, film ini membawa penonton pada sebuah perjalanan emosional yang pelan namun meninggalkan bekas.

Kisahnya berpusat pada Kanna Suzuri (Takako Matsu), seorang wanita yang kehilangan suaminya, Kakeru (Hokuto Matsumura), dalam sebuah kecelakaan tragis. Yang memperberat duka yang ia rasakan adalah kenyataan pahit bahwa pernikahan mereka selama lima belas tahun telah mengalami keretakan. Mereka berada dalam fase hubungan yang dingin, penuh dengan kesalahpahaman dan komunikasi yang renggang, ketika takdir memisahkan mereka untuk selamanya. Kanna tidak hanya berduka atas kepergian Kakeru, tetapi juga dibebani oleh rasa bersalah dan penyesalan mendalam karena hubungan mereka tidak berakhir dengan baik.

Di tengah keputusasaannya, Kanna secara ajaib menemukan dirinya terlempar kembali ke masa lalu, tepat sebelum pertemuan pertamanya dengan Kakeru. Di sana, ia bertemu dengan Kakeru versi muda yang penuh semangat, polos, dan belum terjebak dalam dinamika rumit pernikahan mereka. Melihatnya kembali dalam cahaya yang begitu murni, Kanna menyadari bahwa ia kembali jatuh cinta pada pria yang dahulu menjadi segalanya baginya. Pertemuan ini memberikannya sebuah misi: menyelamatkan Kakeru dari takdir tragis yang menantinya di masa depan, sekaligus memperbaiki cinta mereka yang dulu retak.

Salah satu pilar kekuatan 1st Kiss terletak pada akting para pemainnya, khususnya chemistry yang apik antara Takako Matsu dan Hokuto Matsumura. Matsu menghidupkan karakter Kanna dengan kompleksitas yang mengagumkan; dari seorang janda yang mati rasa dan dipenuhi penyesalan, hingga menjadi wanita yang penuh tekad untuk memperjuangkan kesempatan keduanya. Ekspresinya yang tulus mampu menyampaikan seluruh lapisan emosi yang dialami Kanna tanpa perlu banyak kata. 

Di seberangnya, Matsumura memesona sebagai Kakeru muda. Tatapan matanya yang ekspresif sanggup menghanyutkan penonton, membuat kita memahami mengapa Kanna bisa jatuh cinta padanya, baik di masa lalu maupun di masa sekarang. Adegan-adegan intim dan slow moments antara mereka berdua disuguhkan dengan kesungguhan, menciptakan interaksi yang terasa sangat jujur dan mengharukan.

Naskah yang ditulis Yuji Sakamoto, meski memiliki beberapa kelemahan, secara umum berhasil membangun narasi yang personal dan reflektif. Film ini tidak hanya sekadar tentang seorang wanita yang ingin menyelamatkan nyawa suaminya, tetapi lebih dalam lagi, ia adalah sebuah perjalanan hati untuk mengenang, menyesali, memperbaiki, dan akhirnya memaafkan. Dialog-dialognya sarat dengan makna, seperti kutipan dalam film, "Kesepian pertama kali dimulai dengan cinta," yang dengan puitis merangkum paradoks inti dari cerita ini. Film ini berfungsi sebagai pengingat yang menyentuh tentang pentingnya menghargai setiap momen bersama orang yang kita cintai sebelum semuanya benar-benar terlambat.

Dari segi teknis, 1st Kiss menawarkan visual yang memukau. Sinematografi film ini memanfaatkan cahaya dengan indah, menciptakan nuansa soft-focus dan sun-dappled yang hangat, seolah membungkus adegan-adegan masa lalu dalam nostalgia yang manis. Perhatian terhadap detail seperti warna, framing, dan pencahayaan menambah kedalaman visual pada cerita. Adegan kecelakaan di awal film juga digambarkan dengan realisme yang mengejutkan dan menggetarkan, langsung menancapkan nada emosional dari awal cerita.

Sayangnya, di balik kecantikan visualnya, film ini memiliki beberapa kekurangan yang cukup terasa, yang menjadi alasan ratingnya tidak mencapai sempurna. Salah satunya adalah nada dan konstruksi cerita yang terkadang terasa sedikit bingung. Film ini seakan-akan belum sepenuhnya memutuskan apakah ingin menjadi komedi romantis yang ringan atau drama fantasi yang tragis. Beberapa adegan di paruh pertama, seperti karakter Kanna yang berkali-kali tersandung, terasa berusaha terlalu keras untuk menjadi lucu dan sedikit mengganggu alur cerita yang sebenarnya lebih kuat sebagai drama. 

Selain itu, film ini didera oleh masalah yang umum dalam banyak film Jepang, yaitu memiliki terlalu banyak ending. Beberapa kali adegan terasa seperti klimaks yang sempurna, hanya untuk dilanjutkan lagi dengan adegan berikutnya, yang justru sedikit mengaburkan pesan akhir tentang takdir dan kehendak bebas. Penyisipan sub-plot yang melibatkan rival romantis Kanna juga dirasa sebagai pilihan naratif yang agak aneh dan kurang memberikan dampak signifikan.

Pada akhirnya, 1st Kiss adalah sebuah film yang berhasil meninggalkan kesan mendalam. Ia bukan sekadar tontonan, melainkan sebuah renungan. Film ini mengajak kita untuk merenungkan pertanyaan besar: "Apa yang akan kamu lakukan jika diberi kesempatan kedua bersama orang yang kamu cintai?" Melalui perjalanan Kanna, kita diingatkan bahwa cinta tidak selalu tentang grand gesture, tetapi justru berada dalam detail-detail kecil kehidupan sehari-hari. "Selamat pagi," "Selamat tidur," "Aku pulang," dan "Sampai jumpa nanti" adalah mantra-mantra sederhana yang sebenarnya adalah wujud cinta yang paling nyata.

1st Kiss adalah film yang layak untuk dialami, terutama bagi para penggemar genre romance dengan sentuhan fantasi. Chemistry para pemainnya, kedalaman tema, dan momen-momen pengharunya yang tulus berhasil mengimbangi ketidakkonsistenan nada dan pacing yang sedikit bermasalah. Film ini mungkin tidak sepenuhnya sempurna dalam eksekusinya, tetapi pesannya tentang memaafkan, memperbaiki, dan mencintai lebih dalam lagi akan tetap terngiang lama setelah credit roll bergulir. Ia adalah selimut yang nyaman bagi jiwa-jiwa yang percaya bahwa cinta, pada intinya, adalah tentang menemukan jalan kembali ke rumah.

Rate: 7,25/10

Komentar