Ulasan Film Andai Ibu Tidak Menikah dengan Ayah (2025): Potret Keluarga yang Jujur, namun Terperangkap dalam Skema Melodrama

Film Andai Ibu Tidak Menikah dengan Ayah (2025) hadir dengan premis yang langsung menyentuh relung hati: sebuah pertanyaan reflektif yang mungkin pernah terlintas di benak banyak anak tentang jalan hidup orang tuanya. Disutradarai oleh Kuntz Agus, film ini berusaha mengupas lapisan-lapisan pengorbanan, penyesalan yang sunyi, dan realitas getir sebuah pernikahan yang tidak seimbang. Sebagai sebuah drama keluarga, film ini berhasil menampilkan potret yang jujur dan kadang menyakitkan, tetapi juga terjebak dalam pola-pola baku yang membuatnya kesulitan untuk benar-benar meninggalkan kesan mendalam.

Kisahnya berpusat pada Alin (Amanda Rawles), seorang mahasiswi kedokteran yang terpaksa pulang ke rumah setelah beasiswanya terancam dicabut. Kepulangan itu membuka matanya pada realitas keluarganya yang selama ini ia hindari. Ibunya, Wulan (Sha Ine Febriyanti), adalah tulang punggung keluarga yang tanpa lelah mengerjakan semua pekerjaan rumah, sementara sang ayah, Tio (Bucek Depp), digambarkan sebagai sosok yang absen, bangun siang, dan lebih banyak menghabiskan waktu di luar rumah tanpa kontribusi yang jelas.

Penemuan buku harian lama ibu menjadi titik balik emosional bagi Alin. Dari catatan itu, ia mengetahui mimpi-mimpi muda dan kisah cinta pertama sang ibu, yang kontras sekali dengan kehidupan getir yang dijalaninya sekarang. Pertanyaan besar pun menggelayuti pikiran Alin: "Andai Ibu tidak menikah dengan Ayah, akankah hidupnya lebih bahagia?". Pertanyaan ini tidak hanya menjadi refleksi bagi Alin, tetapi juga menjadi pintu masuk penonton untuk merenungkan kembali narasi tentang pengorbanan, pilihan, dan dinamika cinta dalam keluarga.

Salah satu pilar kekuatan film ini terletak pada performansi akting para pemainnya yang luar biasa. Sha Ine Febriyanti menghidupkan karakter Ibu Wulan dengan kelembutan, ketegaran, dan kepasrahan yang membuat hati miris. Ia mampu menyampaikan beban yang ditanggungnya tanpa perlu dialog yang melodramatis; lelahnya terpancar dari raut wajah dan gerak-geriknya yang sederhana. Amanda Rawles juga tepat sebagai Alin, yang menjadi representasi penonton dalam mengeksplorasi luka dan kompleksitas keluarganya. Ia memancarkan kebingungan, kemarahan, dan rasa kasihan yang tercampur menjadi satu.

Detail artistik dan setting film ini patut diacungi jempol karena berhasil menciptakan realisme yang kuat. Rumah yang terlihat “awut-awutan”, peralatan dapur yang usang, serta riasan natural para pemain yang memperlihatkan wajah lelah dan berminyak, semua berkontribusi membangun dunia yang relatable dan mudah dipercaya. Film ini tidak takut menunjukkan kenyataan yang tidak glamor, yang justru menjadi kekuatannya dalam menyampaikan pesan tentang perjuangan hidup sehari-hari.

Namun, di balik kekuatan akting dan setting ini, film seperti kehilangan arah dalam mengeksplorasi ceritanya lebih jauh. Hampir seperti film drama Indonesia pada umumnya, film ini tak lepas dari kesan 'menjual kesedihan' semata. Walaupun akting para pemainnya sangat bagus, tapi filmnya sendiri seperti tidak ke mana-mana. Penderitaan demi penderitaan yang dialami karakter perempuan di film ini ditumpuk sedemikian rupa—mulai dari atap bocor, beasiswa yang dicabut, penyakit kronis, hingga utang yang menumpuk—sehingga terasa seperti daftar kesengsaraan yang klise. Alur cerita pun terjebak dalam repetisi konflik tanpa perkembangan naratif yang berarti, membuat penonton bertanya-tanya ke mana sebenarnya tujuan kisah ini.

Kelemahan utama yang membuat film ini tidak bisa mendapatkan nilai lebih tinggi adalah penggambaran karakter yang terlalu satu dimensi, terutama untuk sosok Ayah (Tio). Bucek Depp memerankan karakter ini dengan baik, namun naskah hanya memberinya ruang untuk menjadi "lelaki mokondo" sempurna: malas, tidak peduli, dan parasitik. Ia hampir tidak memiliki dimensi atau motivasi lain yang bisa membuatnya menjadi manusia yang kompleks. Meski di dunia nyata sosok seperti ini ada, dalam konteks cerita, ketiadaan nuansa membuat konflik terasa datar dan penyelesaiannya menjadi sulit dipercaya.

Isu ketidakberdayaan yang dipelajari (learned helplessness) dari karakter Ibu, yang sebenarnya bisa menjadi tema menarik, justru dieksekusi dengan cara yang pasif. Alih-alih menunjukkan perjalanan emosional atau kebangkitan, film lebih memilih untuk membuat karakter-karakter perempuannya terus-menerus bertahan dalam penderitaan. Pesan tentang pentingnya kemandirian perempuan pun tenggelam karena ketiadaan aksi nyata untuk keluar dari lingkaran tersebut.

Adegan penutup film juga menjadi titik lemah yang disayangkan. Setelah menempuh perjalanan emosional yang panjang, akhir cerita terasa mengambang dan tidak memberikan rasa penyelesaian (closure) yang memuaskan. Karakter-karakter seolah tidak beranjak dari titik awal mereka, meninggalkan penonton dengan pertanyaan, "Lalu, apa perubahan yang terjadi?" Finale yang seperti ini memperkuat kesan bahwa film hanya sekadar menyajikan penderitaan, tanpa menawarkan refleksi atau harapan yang lebih dalam.

Andai Ibu Tidak Menikah dengan Ayah adalah film yang punya niat baik dan berhasil menciptakan momen-momen mengharukan berkat akting para pemainnya yang solid. Film ini berfungsi sebagai cermin bagi banyak keluarga Indonesia untuk melihat dinamika yang mungkin terjadi di rumah mereka sendiri, serta mengajak untuk lebih memahami perjalanan hidup orang tua.

Film ini bisa dibilang berada di posisi sebagai tontonan yang worth to watch cukup sekali, terutama bagi penggemar drama keluarga yang tidak keberatan dengan formula yang sudah familiar. Kekuatannya terletak pada detil realisme dan performa akting, sementara kelemahannya ada pada narasi yang terjebak klise, karakter yang kurang berkembang, dan akhir cerita yang kurang menggigit. Film ini seperti sebuah foto keluarga yang jujur dan penuh emosi, tetapi sayangnya, dibingkai dengan cara yang terlalu biasa dan aman.

Rate: 6,5 / 10

Komentar