Hampir sepuluh tahun sudah kita tidak mendengar kabar tentang The Four Horsemen. Setelah aksi mereka di Now You See Me 2 (2016), rasanya ada ruang hampa di genre film heist yang dibalut aksi sulap spektakuler. Kini, Lionsgate mencoba menghidupkan kembali keajaiban itu lewat film ketiga berjudul Now You See Me: Now You Don't. Disutradarai oleh Ruben Fleischer (Zombieland) dan dibintangi oleh jajaran pemeran lama seperti Jesse Eisenberg, Woody Harrelson, serta kejutan kembalinya Isla Fisher, film ini datang dengan ekspektasi yang cukup besar .
Kisah dalam Now You Don't membawa kita pada situasi di mana The Four Horsemen telah lama bubar. J. Daniel Atlas (Eisenberg) dan kawan-kawan menjalani hidup masing-masing. Namun, kemunculan tiga pesulap muda—Charlie (Justice Smith), June (Ariana Greenblatt), dan Bosco (Dominic Sessa)—yang mengaku sebagai "generasi baru" Horsemen, menjadi pemicu reuni. Mereka mendapat "panggilan" dari organisasi rahasia The Eye untuk menjalankan misi terbesar: mencuri diamond terbesar di dunia milik Veronika Vanderberg (Rosamund Pike), seorang pewaris tambang berlian dengan latar belakang kelam yang sesungguhnya adalah bos kejahatan internasional.
Konflik pun memanas. Veronika bukanlah target biasa. Ia cerdas, kejam, dan memiliki kekuatan finansial yang mampu membeli aparat. Untuk pertama kalinya, Horsemen tidak hanya harus unggul secara akal, tapi juga harus menghadapi musuh yang mampu membalas serangan mereka secara brutal. Perburuan pun dimulai dari Abu Dhabi hingga Antwerp, dikemas dalam bingkai aksi yang lebih kental dan teknologi ilusi modern seperti deepfake dan hologram.
Jika ada satu alasan kuat untuk menonton film ini, itu adalah Rosamund Pike. Ia dengan sempurna memerankan Veronika Vanderberg. Dengan aksen Afrika Selatan yang kental dan gaya bak penjahat James Bond, Pike berhasil mencuri perhatian di setiap adegan. Banyak kritikus bahkan sepakat bahwa ia "menyelamatkan" film ini. Karakternya yang dingin, licik, dan super kaya memberikan dimensi baru yang selama ini absen dari dua film sebelumnya.
Selain Pike, dinamika antar Horsemen lama juga tetap menjadi daya tarik. Kembalinya Isla Fisher sebagai Henley Reeves memberikan keseimbangan yang sempat hilang di film kedua. Adegan interaksi antara Eisenberg, Harrelson, dan Dave Franco terasa lebih santai dan cair, seolah mereka benar-benar menikmati reuni ini. Fleischer, yang pernah bekerja dengan Eisenberg dan Harrelson di Zombieland, berhasil menangkap energi kocak mereka dengan baik.
Dari sisi teknis, film ini juga lebih "fisik". Alih-alih mengandalkan CGI berlebihan untuk trik-trik mustahil seperti di sekuel sebelumnya, Now You Don't mencoba menghadirkan nuansa sulap panggung yang lebih taktil. Ada adegan kejar-kejaran yang memanfaatkan elemen sulap dan martial arts yang cukup memuaskan untuk ditonton.
Sayangnya, meski secara visual dan aksi lebih segar, film ini memiliki kelemahan fundamental: naskahnya datar dan mudah dilupakan. Ini adalah ironi terbesar. Sebuah film tentang ilusionis kelas dunia seharusnya mampu menyembunyikan kelemahannya dengan sleight of hand naratif yang brilian, tetapi di sini, "trik terakhir" terasa seperti pengulangan dari apa yang sudah kita lihat.
Kritikus Matt Zoller Seitz dari RogerEbert.com menyebut bahwa film ini menguap dari ingatan begitu kredit bergulir. Saya merasakan hal yang sama. Karakter generasi baru (Charlie, June, Bosco) diperkenalkan dengan cukup baik, namun pendalaman karakter mereka lenyap di pertengahan film . Mereka lebih terasa sebagai alat plot daripada mitra sejati Horsemen. Akibatnya, ketika tiba saatnya mereka harus tampil krusial, kita sebagai penonton kurang terikat secara emosional.
Selain itu, sub-plot tentang Morgan Freeman yang kembali sebagai Thaddeus Bradley terasa seperti cameo yang dipaksakan. Begitu juga dengan kehadiran Mark Ruffalo yang diselesaikan dalam adegan yang terkesan "ditambal sulam" di akhir film. Terlalu banyak elemen yang ingin dimasukkan, tetapi waktu yang terbatas membuat semuanya terasa setengah matang.
Now You See Me: Now You Don't adalah definisi dari hiburan ringan yang pas untuk akhir pekan. Jika kamu menontonnya tanpa ekspektasi muluk, kemungkinan besar kamu akan terhibur. Aksi cepat, dialog jenaka, dan kehadiran Rosamund Pike yang karismatik mampu menutupi bolongnya skenario yang ada. Film ini berhasil menjalankan fungsinya sebagai pelipur lara, persis seperti yang dikatakan sutradaranya: "film harus dinilai dari eksekusi tujuannya". Dan tujuannya jelas: menghibur, dan itu berhasil.
Namun, jika kamu mencari kompleksitas trik selevel film pertama atau plot twist yang benar-benar menjungkirbalikkan logika, kamu mungkin akan sedikit kecewa. Film ini adalah sihir yang menyenangkan, tetapi bukan keajaiban. Cocok ditonton untuk fans berat franchise ini, atau siapa pun yang merindukan aksi kocak khas The Four Horsemen. Namun, jangan berharap akan terbengong-bengong seperti baru pertama kali menyaksikan pesulap membuat hujan uang.
Rate: 6,5 - 7 / 10
.jpg)
b.jpg)
Komentar
Posting Komentar