Bayangan kesedihan yang paling pekat seringkali bukan berasal dari kegelapan, melainkan dari cahaya yang tiba-tiba padam. Dollhouse (2025), film horor arahan Shinobu Yaguchi, memahami betul paradoks ini. Film ini bukan sekadar kisah boneka terkutuk yang mengejar-ngejar korban dengan pisau, melainkan pertunjukan pilu tentang bagaimana duka yang tak terselesaikan dapat menjelma menjadi teror yang paling personal dan menggerogoti mental. Dengan landasan emosional yang kuat, film ini berhasil menciptakan atmosfer mencekam yang merayap pelan, meski dalam perjalanannya terdapat beberapa langkah yang terasa kurang mantap.
Kisah dibuka dengan tragedi yang langsung mencengkeram: Yoshie, diperankan dengan luar biasa oleh Masami Nagasawa, kehilangan putri semata wayangnya, Mei, dalam sebuah kecelakaan tragis di rumah mereka sendiri. Rasa bersalah yang membara dan kekosongan yang tak tergantikan kemudian mendorongnya menemukan pelarian yang kelam. Sebuah boneka antik berwajah mirip dengan mendiang putrinya hadir bagai penawar, dan Yoshie pun mulai menjalani kehidupan baru bersama boneka yang ia perlakukan layaknya manusia sungguhan. Suaminya, Tadahiko (Koji Seto), yang juga berduka dengan caranya sendiri, mengizinkan keanehan ini sebagai bentuk terapi, sebuah upaya untuk melihat senyum kembali di wajah istrinya.
Ketegangan sesungguhnya mulai berdenyut ketika keluarga tersebut akhirnya dikaruniai anak kedua, seorang putri bernama Mai. Perhatian yang semula tercurah pada boneka pun perlahan bergeser. Boneka yang dinamai "Aya" oleh Mai kecil ini kemudian menunjukkan sifat aslinya. Ia bukan lagi objek pasif pelampiasan duka, melainkan entitas yang mengklaim keberadaannya dengan cara-cara mengerikan, mulai dari hal sederhana seperti rambut dan kukunya yang terus tumbuh, hingga aksi kekerasan yang mengancam nyawa.
Di sinilah film ini berhasil mengolah premis yang sudah akrab menjadi sesuatu yang khas. Ketakutan tidak hanya datang dari gerakan boneka, tetapi dari pertanyaan psikologis yang menggelisahkan: sejauh mana trauma seorang ibu dapat mendistorsi realita, dan apakah semua teror ini benar-benar nyata atau hanya proyeksi dari jiwa yang terluka?
Kelebihan utama Dollhouse terletak pada kemampuannya membangun ketegangan melalui keheningan dan kediaman. Berbeda dengan film horor barat atau Indonesia yang sering mengandalkan jumpscare, Yaguchi membangun rasa ngeri dengan kesabaran seorang pengrajin.
Adegan-adegan di mana kamera hanya menyorot wajah polos boneka Aya dalam waktu lama, atau saat ia tiba-tiba muncul di sudut rumah yang terang benderang, justru menciptakan rasa tidak nyaman yang lebih dalam dan bertahan lama. Penggunaan setting rumah yang terang dan warna yang pucat justru menjadi kontras yang brilliant, karena menegaskan bahwa teror telah menyusup ke dalam kehidupan normal, bukan bersembunyi di balik kegelapan.
Namun, film ini jugalah yang menjadi korban dari kesabarannya sendiri. Dengan durasi hampir dua jam, tempo alur cerita di babak kedua terasa sedikit mengambang. Ritme ketika Yoshie dan Tadahiko berusaha mencari cara untuk menyingkirkan boneka Aya—melalui bantuan ahli ritual hingga upaya pembakaran—terasa berulang dan sedikit memperpanjang napas tanpa menambah ketegangan yang signifikan. Beberapa adegan dalam rangkaian ini seolah hadir hanya untuk mengisi durasi, yang dapat menguji kesabaran penonton yang sudah terikat dengan konflik emosional di awal.
Di atas semua kekurangan teknisnya, film ini berdiri kokoh berkat akting Masami Nagasawa yang memukau. Ia membawakan Yoshie bukan sebagai karakter satu dimensi yang "gila", melainkan sebagai seorang ibu yang hancur, rentan, dan terjebak dalam labirin delusi yang ia ciptakan sendiri untuk bertahan hidup.
Setiap tatapan kosong, setiap bisikan pada boneka, dan setiap ledakan kepanikannya terasa autentik dan menyayat hati. Keberhasilan film dalam menggali sisi psikologis ini juga diperkuat oleh simbolisme boneka Aya yang kuat. Ia adalah fisikalisasi dari rasa bersalah yang tak terurus, sebuah pengingat betapa duka yang dipendam dan tidak dihadapi dengan sehat pada akhirnya akan "hidup" dan mengganggu kenyataan baru yang sedang coba dibangun.
Secara keseluruhan, Dollhouse (2025) adalah pengalaman horor yang lebih berorientasi pada rasa daripada teriakan. Film ini layak diapresiasi karena keberaniannya menyelami sisi psikologis yang kelam dari sebuah tragedi keluarga dan kemahirannya dalam menciptakan suasana mencekam yang halus namun menggigit.
Meski terhuyung-huyung oleh pacing yang tidak konsisten di bagian tengah, landasan cerita yang emosional dan akting utama yang kuat berhasil menariknya hingga garis finis. Bagi penikmat horor yang lebih menghargai ketegangan psikologis dan atmosfer yang dibangun perlahan daripada aksi beruntun, Dollhouse adalah pilihan yang memuaskan. Ia mengingatkan kita bahwa terkadang, hantu yang paling menakutkan bukanlah yang datang dari kubur, melainkan yang kita pelihara sendiri dalam kenangan dan penyesalan.
Rate: 6,5 - 7 / 10
.png)

Komentar
Posting Komentar