Ulasan Film Sisu: Road to Revenge (2025) - Ketika Satu Orang Melawan Semua dengan Gaya yang Lebih Gila dan Berdarah
Jika kamu adalah salah satu dari sekian banyak penonton yang terpukau oleh kegilaan Sisu (2022), kabar baiknya adalah Aatami Korpi kembali. Dan kabar buruknya? Dia marah besar. Sisu: Road to Revenge (2025) hadir sebagai sekuel yang tidak sekadar mengulang formula sukses pendahulunya, tetapi mencoba memperbesarnya dengan skala yang lebih liar, lebih keras, dan terkadang, lebih konyol dan menghibur. Saya melihat Jalmari Helander berhasil mempertahankan esensi "pria yang tak bisa mati" sembari menaburkan luka baru—baik secara fisik maupun naratif—yang membuat petualangan kali ini layak untuk dinikmati.
Masih dengan gaya visual khas spaghetti western yang dingin khas Skandinavia, film ini membuka lembaran baru pasca-Perang Dunia II. Aatami Korpi (Jorma Tommila) yang kini menjadi legenda hidup, kembali ke rumah lamanya yang kini berada di bawah pendudukan Soviet—wilayah Karelia setelah peristiwa perang. Bukan untuk berperang, motivasinya justru personal dan absurd: ia ingin membongkar rumah kayu miliknya papan demi papan untuk dibawa pulang ke Finlandia dan dibangun kembali sebagai bentuk penghormatan untuk keluarganya yang tewas.
Namun, KGB tidak tinggal diam. Mendengar keberadaan "hantu" yang dulu membantai lebih dari 300 tentara mereka, Richard Brake sebagai perwira KGB melepaskan monster dari penjara Siberia: Igor Draganov (Stephen Lang). Draganov adalah algojo haus darah yang secara spesifik bertugas untuk menyelesaikan apa yang pernah ia mulai, yaitu membantai keluarga Korpi. Yang terjadi kemudian adalah kejar-kejaran lintas medan selama 88 menit penuh dengan ledakan, tembakan, dan pisau yang menusuk tanpa ampun.
Mari kita bicara soal jantung dari film ini: aksinya. Helander jelas belajar banyak dari George Miller. Setiap babak diberi judul retro seperti "Motor Mayhem" dan "Incoming" yang membuat film ini terasa seperti novel grafis yang hidup. Secara teknis, koreografi laga di Road to Revenge terasa lebih ambisius dibanding film pertamanya. Adegan di mana Aatami menghadapi skuadron motor sambil mengemudikan truk bermuatan kayu, atau saat ia berhadapan dengan pesawat tempur menggunakan cara-cara tidak terduga, berhasil membuat bibir saya menganga sekaligus tersenyum lebar.
Namun, ambisi ini datang dengan harga yang harus dibayar: kredibilitas. Jika di film pertama kita masih bisa menerima "keberuntungan" seorang veteran, di sela-sela aksi di sekuel ini, Aatami terasa benar-benar seperti dewa perang yang kebal. Ada satu adegan di mana ia berhasil membuat tank "terbang" melewati rintangan yang bahkan membuat saya mengernyit—bukan karena takjub, tapi karena terlalu mustahil bahkan untuk standar film laga. Ketika tokoh utama sudah tidak memiliki celah kelemahan, ketegangan perlahan menguap. Saya tidak pernah benar-benar khawatir Aatami akan mati, dan itu sedikit mengurangi esensi "survival" yang dulu begitu kuat terasa.
Satu hal yang patut diacungi jempol adalah Jorma Tommila. Di usianya yang sudah kepala enam, ia tetap sanggup melakukan adegan fisik berat tanpa kehilangan karisma. Di film yang nyaris tanpa dialog ini, Tommila mengandalkan raut muka dan bahasa tubuh. Ia berhasil membuat penonton percaya bahwa penderitaan yang ia alami—tertusuk kaca, tersengat listrik, dikoyak peluru—adalah nyata, meskipun efek sampingnya ia tetap bisa berlari lebih kencang dari para musuhnya.
Stephen Lang sebagai antagonis memberikan performa yang stabil meski tidak terlalu inovatif. Karakter Draganov memiliki kesan kejam, brutal, tapi sedikit kurang "licik". Namun, kehadiran Richard Brake di beberapa scene awal sukses membangun atmosfer mencekam bahwa kali ini musuh Aatami bukan sekadar serdadu biasa, melainkan mesin pembunuh berpangkat.
Dari segi teknis, sinematografi Mika Orasmaa kembali memukau dengan paduan warna tanah dan langit kelabu yang menciptakan rasa sunyi dan terisolasi. Musik Juri Seppä dan Tuomas Wainölä kali ini lebih berani dengan sisipan throat singing dan siulan khas koboi yang memperkuat identitas "Suomi western"-nya . Menariknya, di akhir film, ada momen di mana bahasa Finlandia pertama kali digunakan secara signifikan setelah sepanjang film didominasi bahasa Inggris—sebuah simbolisme halus tentang pencarian identitas nasional di tengah jajahan asing.
Namun, tidak semua elemen teknis berjalan mulus. Beberapa efek CGI di adegan ledakan terlihat sedikit "murah", terutama jika dibandingkan dengan kualitas praktikal yang luar biasa di film pertama. Ada kalanya transisi antar babak terasa terburu-buru, membuat penonton tidak punya waktu untuk bernapas sebelum ledakan berikutnya terjadi.
Sisu: Road to Revenge adalah tontonan yang jujur pada dirinya sendiri. Ia adalah film tentang seorang pria yang membongkar rumah lalu membantai siapa saja yang menghalangi jalannya. Film ini layak ditonton oleh para penggemar aksi keras yang rindu akan tokoh utama bergaya one-man army. Kekurangannya terletak pada skenario yang terlalu memihak pada tokoh utama hingga menghilangkan sensasi bahaya, serta beberapa adegan CGI yang inkonsisten.
Meski begitu, kelebihannya dalam hal koreografi laga praktikal dan penampilan memukau Jorma Tommila cukup untuk menutupi celah-celah tersebut. Film ini adalah bukti bahwa sinema action Eropa mampu bersaing secara teknis, dan bahwa "sisu"—keberanian pantang menyerah itu—masih punya tempat di hati para pencinta film yang merindukan aksi tanpa basa-basi.
Jika Anda siap melihat darah, debu, dan kayu beterbangan selama 88 menit tanpa henti, silakan naik ke truk Aatami. Tapi ingat, jangan berharap banyak pada logika—karena di sini, yang berkuasa adalah adrenalin.
Rate: 7,5 / 10
.webp)
b.jpg)
Komentar
Posting Komentar