Ketika tragedi pesawat tak lagi bicara soal bencana, melainkan ruang sunyi tempat duka dan rasa bersalah bertemu.
Ada kalanya hidup berubah hanya karena sebuah keputusan kecil, seperti menukar kursi pesawat. Film Tukar Takdir (2025) garapan Mouly Surya mengajak kita menyelami konsekuensi dari momen kecil itu. Tidak seperti film bencana pada umumnya yang mengandalkan efek visual dan adegan sensasional, film ini justru memilih jalan sunyi: menjadi potret intim tentang manusia-manusia yang harus melanjutkan hidup setelah tragedi.
Film ini berpusat pada Rawa (Nicholas Saputra), satu-satunya penumpang selamat dari kecelakaan pesawat Jakarta Airways JA79 yang jatuh di pegunungan. Ia selamat secara tidak terduga, namun rasa bersalah langsung menghantuinya sejak pertama kali sadar di rumah sakit. Rawa ternyata duduk di kursi 38D—kursi yang seharusnya ditempati Raldi (Teddy Syah), suami dari Dita (Marsha Timothy). Pergulatan batin Rawa sebagai penyintas yang dihantui survivor's guilt menjadi fondasi cerita. Di saat yang sama, kita diperkenalkan dengan Dita yang berduka dengan cara menuntut keadilan, serta Zahra (Adhisty Zara), putri pilot yang kehilangan figur ayah dan harus melihat ibunya larut dalam kesedihan.
Salah satu poin terkuat yang membuat film ini layak diapresiasi adalah keberaniannya mengkritik sistem. Ada adegan yang sangat cerdas ketika maskapai memberikan kompensasi: keluarga korban meninggal menerima Rp1,25 miliar, sementara Rawa sebagai penyintas mendapatkan Rp2 miliar. Tambahan Rp500 juta itu ternyata bukan tanpa syarat. Rawa "dibeli" untuk menjadi wajah publik yang bersyukur, demi mengalihkan publik dari kemungkinan kelalaian maskapai. Di sinilah Tukar Takdir menunjukkan lapisan kritik sosialnya, bahwa duka bisa dimodifikasi, dan bahwa kelas sosial menentukan bagaimana seseorang diperlakukan dalam sistem.
Mouly Surya dengan cermat mempertemukan dua wajah duka yang kontras lewat karakter Dita dan Pak Mukhsin (Ayez Kassar). Dita, sebagai representasi kelas menengah terdidik, mengekspresikan duka dengan mencari keadilan hukum. Sementara Pak Mukhsin, yang kehilangan seluruh keluarganya dalam tragedi itu, memilih diam setelah uang kompensasi diterima—bukan karena ia tidak berduka, tapi karena dunia tak lagi memberi ia alasan untuk terus berjuang. Pertemuan dua kelas ini menjadi salah satu adegan paling menyayat sekaligus paling halus dalam film.
Jika ada satu hal yang sulit dibantah dari film ini, itu adalah kualitas akting para pemainnya. Nicholas Saputra kembali membuktikan dirinya sebagai aktor yang mampu bercerita hanya lewat tatapan mata. Perannya sebagai Rawa penuh dengan tekanan: ia harus menahan amarah orang lain, menanggung rasa bersalah, sekaligus berusaha menyembuhkan luka fisik dan mentalnya sendiri.
Namun, kejutan terbesar justru datang dari Marsha Timothy. Karakternya sebagai Dita adalah pusat gravitasi emosional film ini. Marsha berhasil menampilkan seorang perempuan modern yang mencoba mengontrol duka dengan rasionalitas, tapi perlahan-lahan menunjukkan keretakan di balik ketegarannya. Sementara Adhisty Zara, meski masih muda, cukup meyakinkan sebagai remaja yang kehilangan arah dan mencari pelarian dari realitas pahit.
Dari sisi teknis, sinematografi film ini patut diacungi jempol. Adegan kecelakaan pesawat digarap dengan efek visual yang tidak berlebihan, justru fokus pada sisi manusiawi dari bencana. Tata suara juga bermain penting dalam membangun atmosfer—dari riuh kepanikan di kabin hingga keheningan yang mencekam pasca-tragedi. Komposisi musiknya mengingatkan pada karya-karya Mouly Surya sebelumnya, intim namun tetap kuat menopang emosi.
Namun, tentu ada catatan yang membuat film ini belum bisa melesat jadi masterpiece. Masalah utama ada pada tempo dan eksekusi narasi. Beberapa bagian film terasa terlalu cepat dalam membangun emosi, sehingga penonton seperti "dilempar" ke tengah tragedi sebelum sempat mengenal karakternya. Akibatnya, kedalaman emosi yang ingin dibangun kadang terasa patah-patah.
Selain itu, ada beberapa pertanyaan penting yang dibiarkan menggantung tanpa jawab. Rawa terus bertanya, "Kenapa saya selamat?"—sebuah pertanyaan filosofis yang sah-sah saja, tapi film ini tidak memberikan ruang yang cukup untuk mengeksplorasinya secara memuaskan. Dalam satu adegan, Dita bertanya apakah Rawa sempat mengobrol dengan suaminya. Jawaban Rawa yang singkat dan datar membuat momen yang seharusnya bisa menjadi katarsis terasa kurang greget. Jawaban itu tidak salah. Yang salah, atau kurang, memang seharusnya ada adegan tambahan untuk melengkapi pertanyaan Dita tersebut.
Transisi antara drama batin dan detail teknis investigasi juga kadang berjalan kaku, seolah film ini masih mencari ritme terbaiknya .
Lapisan lain yang muncul adalah hubungan rumit antara Rawa dan Zahra. Ada benih-benih kedekatan emosional yang tumbuh, namun eksekusinya terasa kurang matang. Penonton mungkin akan bertanya-tanya apakah ini tentang romansa, atau tentang dua jiwa yang saling mencari pegangan di tengah kehancuran? Ketidakjelasan ini membuat beberapa momen terasa mengambang.
Secara keseluruhan, Tukar Takdir adalah film yang berani mengambil pendekatan berbeda untuk genre bencana. Ia tidak ingin membuat penonton trauma naik pesawat atau menangis tersedu-sedu dengan adegan melodramatis. Sebaliknya, Mouly Surya mengajak kita merenung: bagaimana manusia dari kelas dan latar berbeda menghadapi takdir yang tak terelakkan? Akting solid para pemain dan kritik sosial yang halus menjadi nilai jual utama.
Namun, ambisi untuk menjembatani drama manusia dengan prosedur teknis investigasi kadang membuat film ini kehilangan fokus. Bagi penonton yang menyukai film dengan tempo lambat dan penggalian karakter mendalam, Tukar Takdir bisa jadi suguhan yang memuaskan. Tapi bagi mereka yang mencari plot twist atau resolusi emosional yang mengguncang, mungkin akan merasa ada yang kurang.
Film ini jelas layak diapresiasi sebagai percobaan berani di tengah industri perfilman Indonesia yang didominasi horor dan komedi. Bukan film yang sempurna, tapi cukup untuk membuat kita merenung sejenak setelah menontonnya—tentang kursi yang kita duduki, dan takdir macam apa yang mungkin menanti di ujung perjalanan.
Rate: 6,5 - 7 / 10
.webp)
b.jpg)
Komentar
Posting Komentar