Ulasan Film A Writer's Odyssey 2 (2025): Ambisi Tanpa Kendali, Visual Epic yang Kehilangan Jiwa

Setelah empat tahun penantian, sutradara Lu Yang akhirnya mengembalikan kita ke dunia dualisme realitas dan imajinasi melalui A Writer's Odyssey 2. Sekuel ini datang dengan ambisi yang membuncah—dunia yang lebih luas, efek visual yang lebih megah, serta lanskap-lanskap baru yang memanjakan mata. Namun, setelah menontonnya, perasaan yang tersisa bukanlah decak kagum, melainkan kelelahan karena harus menyusuri lorong-lorong cerita yang rumit tanpa arah yang jelas. Di atas kertas, film ini adalah pesta pora sinematik; di layar, ia menjelma menjadi teka-teki yang terlalu sibuk mempercantik diri hingga lupa bercerita dengan hati.

Dari sisi teknis, tidak bisa dipungkiri bahwa A Writer's Odyssey 2 adalah sebuah mahakarya visual yang berani. Lu Yang dengan tegas menolak pendekatan efek kilat ala Hollywood dan memilih untuk menggali estetika Timur yang kental. Dunia dalam novel "Godslayer" terasa hidup dengan nuansa lukisan tinta yang megah. "Cloud City" tampil sepuluh kali lebih besar dan kompleks, diperkenalkannya lanskap baru seperti "Primordial Realm" yang misterius, serta pohon purba yang menjadi pusat narasi, semuanya dirancang dengan detail yang memanjakan mata. Kekuatan para tokoh seperti "Lima Harimau Langit" juga tidak sekadar tampil sebagai ledakan energi, melainkan simbol dari kondisi batin masing-masing karakter—sebuah pendekatan mitologis yang jarang ditemui di film fantasi arus utama.

Sayangnya, keindahan visual ini justru dikhianati oleh eksekusi sinematografi yang datar. Untuk sebuah dunia semegah itu, kamera gagal menangkap jiwa dari setiap sudutnya. Pencahayaan terasa terlalu terang dan tanpa variasi, membuat set-set yang seharusnya epik terlihat seperti pajangan museum yang kehilangan misterinya. Adegan-adegan yang seharusnya magis berubah menjadi tontonan biasa karena ketiadaan permainan bayangan dan kedalaman. Alih-alih terbawa suasana, penonton justru terjebak pada kesadaran bahwa mereka sedang menatap layar lebar, bukan sedang menyelami mimpi.

Dan, masalah utama film ini, menurut saya, justru terletak pada jantung ceritanya. Jika film pertama berhasil menyeimbangkan antara aksi pencarian anak dan sindiran sosial yang tajam, sekuel ini justru tenggelam dalam lautan kompleksitasnya sendiri. Konsep "penulis yang dikejar karakternya" sebenarnya menarik, tetapi eksekusinya terasa seperti permainan ulang dari formula pertama yang dibungkus dengan bumbu filosofis yang setengah matang. 

Film ini mulai menarik diikuti setelah memasuki babak 1/3 akhir film. Bayangkan saja, 2/3 awal film dipenuhi penjelasan-penjelasan yang tak mudah dicerna, membuat saya menguap beberapa kali. Bahkan bagian cerita yang memuat karakter baru Cicada, terasa tak perlu dan merusak esensi cerita. Cukup menjengkelkan.

Ada satu ironi yang menarik di sini. Film ini bercerita tentang seorang penulis, Lu Kongwen (Dong Zijian), yang kehilangan kendali atas dunia ciptaannya. Karakternya mulai bertindak di luar kendali, realitas dan fiksi melebur tanpa bisa dibedakan. Ironisnya, film ini sendiri mengalami nasib yang sama. Lu Yang sepertinya terlalu bersemangat membangun "alam semesta" hingga lupa bahwa fondasi cerita tidak cukup kuat untuk menopang semua ambisi itu. Akibatnya, penonton diajak berkeliling ke berbagai tempat indah tanpa pernah benar-benar memahami apa yang sedang diperjuangkan.

Dari sisi akting, Dong Zijian kembali menunjukkan kemampuannya membawa dualitas karakter dengan cukup baik, meski naskah tidak memberinya ruang untuk berkembang secara emosional. Deng Chao sebagai Iblis Berambut Merah menjadi pusat perhatian dengan karisma yang kuat, tetapi karakternya terasa terlalu dominan hingga menyedot porsi cerita dari protagonis utama. Sementara itu, Lei Jiayin sebagai Guan Ning nyaris kehilangan relevansinya, hanya muncul sebagai pelengkap tanpa kontribusi berarti—sebuah kemunduran besar mengingat perannya sangat sentral di film pertama.

Yang paling disayangkan, pesan moral film ini terasa hambar dan klise. Kalimat "dipersembahkan untuk setiap pejuang di luar sana" di akhir film terasa seperti tempelan tanpa nyali. Padahal, premis tentang "karakter fiksi yang sadar diri" sebenarnya bisa digali lebih dalam untuk membahas isu tentang kontrol, kreativitas, dan tanggung jawab seorang pencipta. Sayangnya, semua itu tenggelam dalam riuhnya pertarungan CGI yang melelahkan.

Pada akhirnya, A Writer's Odyssey 2 adalah potret nyata dari ambisi yang tidak diimbangi dengan fondasi yang kokoh. Ia adalah lukisan raksasa yang indah, tetapi digoreskan di atas kanvas yang robek. Cocok untuk ditonton sekali demi memuaskan dahaga visual, tetapi sulit untuk dicintai atau diingat sebagai sebuah kisah yang utuh. Lu Yang masih punya banyak pekerjaan rumah jika benar-benar ingin mewujudkan "alam semesta" yang diimpikannya.

Rate: 6 - 6,5 / 10

Komentar