Ulasan Anime Record of Ragnarok Season 3 (2025): Pertarungan yang Lebih Halus dan Cerita yang Mulai Menggali Kedalaman

Musim ketiga Ragnarok membuktikan bahwa pertarungan terhebat bukan hanya soal pukulan dan ledakan, tetapi juga tentang emosi yang meledak-ledak dan rahasia yang mulai tersingkap.

Musim ketiga Record of Ragnarok telah tayang di Netflix, melanjutkan turnamen maut yang menentukan nasib umat manusia. Dengan skor imbang 3-3 di akhir musim ke-2, setiap ronde kini terasa lebih menentukan dan penuh tekanan daripada sebelumnya. Season ini menghadirkan tiga pertarungan baru: Qin Shi Huang melawan HadesNikola Tesla berhadapan dengan Beelzebub, dan Leonidas yang menghadapi Apollo. Di balik hiruk-pikuk pertarungan, musim ini perlahan mulai membuka tabir misteri yang lebih besar seputar tujuan sebenarnya dari Ragnarok itu sendiri.

Salah satu hal pertama yang akan langsung terasa adalah peningkatan kualitas visual. Season ini ditangani oleh kolaborasi studio Yumeta Company dan MARU Animation, dengan arahan sutradara baru, Koichi Hatsumi. Hasilnya, aliran animasi dalam adegan aksi menjadi lebih fluid dan dinamis dibanding dua musim sebelumnya. Pertukaran pukulan yang cepat lebih mudah diikuti, dan dampak dari setiap serangan digambarkan dengan rasa "berat" yang lebih meyakinkan.

Pertarungan antara Qin Shi Huang dan Hades menjadi contoh terbaik dari peningkatan ini. Aliran gerakan antara dua raja ini terasa luwes dan penuh tenaga, menghadirkan tontonan baku hantam yang memuaskan. Desain karakter juga terlihat lebih konsisten dan mendekati detail yang ada di manga. Sayangnya, peningkatan ini tidak sepenuhnya merata. Penggunaan CGI dalam pertarungan Nikola Tesla, khususnya untuk mekanisme dan efek serangannya, masih terasa kaku dan kurang terpolish, menciptakan kesenjangan visual yang cukup mengganggu dari segi animasi tradisional yang lebih halus.

Setiap pertarungan di musim ini tidak hanya mengandalkan kekuatan fisik, tetapi juga berusaha membangun hubungan emosional penonton dengan para petarung melalui kilas balik yang mendalam.

  • Qin Shi Huang vs. Hades: Ronde ini adalah konfrontasi dua penguasa yang penuh kehormatan. Kisah latar Qin Shi Huang yang menggambarkan perjalanannya dari seorang anak yang terisolasi menjadi kaisar yang menyatukan Tiongkok berhasil memberikan dimensi baru pada karakternya. Di sisi lain, Hades bukan digambarkan sebagai dewa dunia bawah yang kejam, melainkan sebagai sosok saudara yang hendak membalaskan dendam untuk Poseidon, menunjukkan sisi loyalitas keluarga yang kuat. Pertarungan mereka penuh dengan strategi dan kemampuan unik, seperti teknik "Chi You" milik Qin yang membuatnya bisa merasakan dan mencerminkan rasa sakit lawan.

  • Nikola Tesla vs. Beelzebub: Ini mungkin adalah pertarungan dengan tema paling kontras: Sains melawan Mistisisme. Tesla digambarkan sebagai "penyihir" manusia yang mengandalkan penemuan dan logika, memasuki arena dengan armor canggih layaknya pahlawan super. Sebaliknya, Beelzebub membawa aura tragedi dan kutukan yang gelap. Kilas baliknya, yang menyentuh hubungannya dengan Lilith dan asal-usul gelarnya sebagai "Raja Lalat", adalah salah satu narasi latar paling tragis dan terbaik yang ditawarkan musim ini, memberikan konteks yang dalam pada keinginannya untuk menghancurkan.

  • Leonidas vs. Apollo: Pertarungan terakhir musim ini mengusung tema "Kebanggaan". Penggambaran Leonidas yang cukup mengejutkan—sebagai seorang yang santai, pencinta keju, dan pembaca buku—memang jauh dari citra prajurit Sparta perkasa yang dikenal secara sejarah. Namun, karakterisasi ini justru membangun kontras menarik dengan kebanggaan keras kepalanya untuk melawan takdir dan otoritas dewa. Sementara Apollo, dewa matahari yang tampan dan percaya diri, mewakili kebanggaan akan bakat alamiah dan takdir yang sudah ditetapkan. Pertarungan mereka lebih bersifat konfrontasi fisik langsung dan adu kekuatan, yang meski menghibur, terasa kurang bernuansa dibanding dua ronde sebelumnya.

Tapi, mungkin perkembangan paling menarik di Season 3 justru terjadi di luar arena. Episode akhir musim ini memperkenalkan elemen plot yang dapat mengubah seluruh narasi serial ini. Buddha, yang sekarang berada di pihak manusia, mulai mempertanyakan motif sebenarnya di balik penyelenggaraan Ragnarok. Pencariannya membawanya pada Siegfried, seorang pahlawan setengah dewa yang dikurung di Tartarus, dan yang ternyata memiliki hubungan masa lalu dengan Brunhilde.

Konfrontasi Buddha dengan Odin mengisyaratkan bahwa turnamen ini mungkin bukan sekadar pengadilan untuk manusia, tetapi bagian dari skema yang lebih besar yang melibatkan "Dewa-Dewa Purba". Pengungkapan ini memberikan lapisan misteri baru yang menjanjikan, menggeser narasi dari sekadar pertarungan satu lawan satu menjadi cerita epik dengan konspirasi tingkat dewa. Adegan penutup musim ini berhasil menciptakan cliffhanger yang kuat dan rasa penasaran yang besar untuk musim berikutnya.

Record of Ragnarok Season 3 merupakan peningkatan yang nyata dan sangat disambut baik bagi waralaba ini. Dengan animasi yang lebih halus, alur cerita yang lebih dalam, dan pengenalan misteri yang lebih besar, musim ini berhasil memperbaiki banyak kekurangan masa lalu sekaligus menyiapkan panggung untuk konflik yang lebih epic.

Namun, musim ini belum sempurna. Pacing yang tidak merata, di mana beberapa episode terjebak dalam kilas balik yang terlalu panjang, dapat mengganggu momentum pertarungan. Penggambaran beberapa karakter, seperti Leonidas, juga bisa terasa terlalu jauh dari akar sejarahnya sehingga mengurangi bobot emosionalnya. Ketidakkonsistenan kualitas animasi, terutama pada adegan CGI, mengingatkan bahwa perbaikan ini masih dalam proses.

Dengan segala kelebihan dan kekurangannya, Season 3 layak mendapatkan apresiasi. Ia tidak hanya memenuhi janjinya untuk menghadirkan pertarungan spektakuler, tetapi juga berani mulai menggali lebih dalam tentang "mengapa" di balik semua pertumpahan darah ini. Untuk para penggemar aksi spektakuler dan mitologi yang diramu dengan gaya yang over-the-top, tontonan ini tetap merupakan tiket hiburan yang solid dan memuaskan.

Rate: 7,5 / 10

Komentar