Ulasan Film Abadi Nan Jaya (2025): Zombi Lokal yang Brutal

Siapa sangka, jamu yang selama ini kita kenal sebagai warisan leluhur yang menyehatkan, bisa berubah menjadi malapetaka dalam film Abadi Nan Jaya (2025). Sutradara Kimo Stamboel, yang sudah malang-melintang di genre horor lewat Sewu Dino dan Badarawuhi Di Desa Penari, kembali dengan sesuatu yang berbeda. Untuk pertama kalinya, ia mencoba peruntungan di genre zombie, dan hasilnya? Sebuah tontonan yang brutal, menegangkan, tapi juga bikin geregetan.

Film ini mengambil latar yang unik. Bukan di laboratorium canggih atau kota besar, tapi di sebuah desa terpencil dekat Yogyakarta bernama Wanirejo . Di sinilah keluarga Sadimin (Donny Damara) menjalankan bisnis jamu turun-temurun yang terkenal. Konflik dimulai ketika Sadimin, yang butuh pengakuan dan terobsesi awet muda, nekat meminum ramuan baru hasil eksperimennya sendiri. Alih-alih awet muda, ia malah berubah menjadi zombie pertama yang memicu wabah dahsyat .

Yang menarik, Kimo tidak langsung menjatuhkan penonton pada aksi kejar-kejaran. Ia menyisihkan 15-20 menit pertama untuk membangun dinamika keluarga yang disfungsional. Ada Kenes (Mikha Tambayong), anak perempuan yang sakit hati karena ayahnya menikahi sahabatnya sendiri, Karina (Eva Celia). Ada Bambang (Marthino Lio), anak laki-laki yang terbuang dan dianggap tak berguna. Konflik antar anak, istri baru, dan ambisi sang ayah ini dibangun dengan cukup kuat sehingga ketika wabah pecah, kita tidak sekadar melihat orang asing lari dari zombie, tapi sebuah keluarga yang harus memilih antara bertahan atau terus membenci.

Jika bicara soal teknis, Abadi Nan Jaya ini layak dapat standing ovation. Tim tata rias efek yang dipimpin Astrid Sambudiono benar-benar bekerja di luar nalar. Yang bikin saya terkesima adalah konsep desain para zombinya. Para zombie digambarkan dengan lusuh, urat menonjol, dan detail yang terlihat sangat nyata. Proses rias yang bisa memakan waktu hingga empat jam untuk zombie utama ini berbuah manis di layar. Saya sampai bergidik melihat zombie dengan usus terburai yang masih bisa ngesot, atau para mayat hidup yang berlari dengan gerakan tidak wajar.

Sinematografer Patrick Tashadian juga berhasil menangkap kengerian itu dengan apik. Adegan-adegan kejar-kejaran di sawah, di dalam rumah joglo, hingga di jalan desa yang sempit terasa sangat mencekam. Bahkan ada satu momen di mana kamera seolah menembus dinding keempat (fourth wall), membuat saya sempat terkejut seakan-akan ikut terseret ke dalam layar. Musik garapan Fajar Yuskemal juga tidak overacting; ia hadir sebagai penegas suasana, bukan sebagai penjerit yang memekakkan telinga.

Ada banyak kritik terkait film ini, terutama tentang karakter-karakternya yang dibuat dengan tingkat intelejensi yang membuat frustrasi. Namun, saya tidak sepenuhnya setuju dengan kritik tersebut. Sebagai penonton yang sudah melihat macam-macam film zombie, kita tentu tidak bisa berharap karakter dalam film ini tiba-tiba paham bagaimana zombie dapat dibinasakan. 

Selain itu, kritik juga diarahkan pada sisi ilmiah soal asal-usul virus dan alasan zombie bereaksi terhadap hal-hal tertentu seperti hujan, tidak dijelaskan dengan baik dan gamblang, membuat banyak kejadian terasa seperti "dipaksakan" agar adegan aksi bisa terus berlanjut. Namun, bagi saya, hal ini tidak terlalu menjadi masalah karena jelas film ingin fokus pada aksi.

Dari sisi akting, ada performa yang solid dan ada yang terasa berlebihan. Donny Damara sebagai patriark keluarga tampil mengesankan, bahkan saat ia sudah berubah menjadi zombie sekalipun, keganasannya terasa. Eva Celia juga bermain cantik sebagai Karina yang terjebak di antara cinta dan rasa bersalah. Namun, karakter Mikha Tambayong versi awal yang cengeng dan manja mungkin akan membuat Anda ingin membentaknya. Meski pada akhirnya ia bertransformasi menjadi "hero", perjalanannya terasa terlalu klise dan terburu-buru.

Film ini jujur pada esensinya sebagai hiburan. Abadi Nan Jaya tidak pernah berniat menjadi film zombie filosofis seperti 28 Days Later. Ini adalah pure popcorn entertainment yang mengajak kita untuk duduk, menikmati popcorn, dan menyaksikan kekacauan tanpa terlalu banyak mikir.

Keberanian Kimo Stamboel mengangkat lokalitas Indonesia—dari jamu, suasana kondangan, hingga zombie bersarung—adalah nilai jual utama. Film ini juga berhasil mencatatkan sejarah dengan menembus Netflix Global Top 10 di berbagai negara, dari Amerika Latin hingga Korea Selatan. Itu bukti bahwa cerita kita punya tempat di kancah dunia.

Jadi, apakah Abadi Nan Jaya layak ditonton? Sangat layak. Saksikan untuk menikmati kerja keras tim efek, sinematografi yang memanjakan mata, dan kegilaan para zombie. Bagi penggemar genre zombie yang ingin melihat sesuatu yang berbeda dari biasanya, film ini seperti jamu pahit: di awal terasa aneh, tapi setelahnya Anda akan merasakan sensasi yang membuat Anda ingin kembali.

Rate: 8+ / 10

Komentar