Ulasan Film Demon Slayer - Kimetsu No Yaiba The Movie: Infinity Castle (2025)

Demon Slayer: Kimetsu No Yaiba The Movie: Infinity Castle tidak memberi kita waktu untuk bernapas. Semenjak musik diputar dan logo Ufotable muncul, kita langsung dihempaskan bersama para karakter ke dalam jurang labirin misterius milik Muzan. Ini adalah pembukaan yang brilian sekaligus mewakili keseluruhan isi film: sebuah pengalaman sensorial yang menakjubkan namun terasa seperti jatuh bebas tanpa pegangan selama 155 menit.

Sebagai penonton yang sudah setia mengikuti perjalanan para Korps Pembasmi Iblis, aku menonton film ini dengan ekspektasi setinggi langit. Mugen Train sukses membuatku hancur lebur, dan ekspektasi untuk sekuel sebesar ini tentu sangat tinggi. Hasilnya? Infinity Castle adalah teka-teki yang menarik. Di satu sisi, ini adalah pencapaian visual yang mungkin akan sulit ditandingi oleh anime lain di dekade ini. Tapi di sisi lain, ada sesuatu yang terasa janggal ketika kita menontonnya sebagai sebuah "film", bukan sekadar kumpulan episode.

Ufotable benar-benar bekerja seperti pesulap di sini. Adegan pertarungan bukan lagi sekadar adegan, melainkan lukisan bergerak. Saat Giyu menggunakan Water Breathing, rasanya seperti kita bisa merasakan dinginnya air dan ketajaman pedang. Saat Zenitsu akhirnya menunjukkan bentuk ketujuh dari Thunder Breathing yang selama ini disembunyikan, sambaran petir di layar terasa begitu nyata hingga membuat bulu kuduk berdiri.

Yang paling mengesankan adalah bagaimana mereka mendesain Istana Infinity itu sendiri. Ruangan yang berputar, tangga yang terbalik, dan lantai yang menghilang—ini seperti mimpi buruk yang dihidupkan dengan palet warna gelap dan misterius. Setiap percikan darah, setiap serpihan kimono yang terkoyak, dan setiap kilatan pedang terasa begitu imersif. Ini adalah definisi dari "gorgeous animation" yang dijanjikan oleh sutradara fotografi, Yuichi Terao. Untuk urusan visual, film ini pantas mendapatkan standing ovation.

Secara struktur, film ini membagi fokusnya pada tiga pertarungan besar. Ada duel penuh kebencian antara Shinobu dan Doma, pertarungan sengit antara Zenitsu melawan seniornya yang menjadi iblis, Kaigaku, dan tentu saja, puncaknya: pertarungan antara Tanjiro dan Giyu melawan Akaza, iblis peringkat atas yang membunuh Rengoku di Mugen Train, barangkali kalau Anda lupa.

Di sinilah kekuatan emosional film ini bekerja dengan sangat efektif. Pertarungan Zenitsu vs Kaigaku adalah momen yang paling personal. Melihat karakter pengecut yang biasa kita ledek itu berubah menjadi pendekar yang penuh amarah dan kesedihan adalah perkembangan karakter yang sangat memuaskan. Begitu pula dengan Akaza. Momen kilas baliknya di sepertiga akhir film berhasil mengubah persepsi kita tentang monster bertato ini. Melihat masa lalunya sebagai manusia, kita jadi paham apa yang membuatnya menjadi sekejam itu.

Namun, dari banyak kelebihan di atas, bukan berarti film ini jauh dari kekurangan. Sebagai sebuah film panjang, Infinity Castle memiliki masalah ritme yang cukup signifikan. Kilas balik adalah bumbu penyedap dalam setiap pertarungan shonen, tetapi di sini, bumbunya terasa terlalu banyak. Beberapa kali, pertarungan mencapai klimaksnya, lalu tiba-tiba kita ditarik mundur ke masa lalu yang panjang. Setelah kilas balik selesai, adrenalin yang tadi sudah memuncak harus dibangun dari nol lagi.

Sepertinya Ufotable terlalu setia pada materi manga. Apa yang terasa pas ketika dibaca selang seminggu di komik, atau per episode ketika diubah jadi serial anime, terasa mengganggu ketika ditonton langsung dalam satu waktu. Ada perasaan bahwa film ini tidak sepenuhnya percaya diri sebagai sebuah entitas tunggal. Ia terlalu sibuk menyiapkan panggung untuk sekuel kedua dan ketiga. Banyak karakter populer seperti Mitsuri atau Obanai nyaris tidak mendapat sorotan, dan Nezuko? Kehadirannya hanya sekadar tempelan, padahal dia adalah jantung dari perjalanan Tanjiro.

Namun, penting untuk dicatat bahwa kekurangan ini tidak sampai merusak film. Ketika pertarungan akhir Tanjiro dan Giyu melawan Akaza mencapai resolusi, semua keluhan tentang pacing seolah sirna ditelan ledakan emosi dan visual yang spektakuler.

Demon Slayer: Kimetsu No Yaiba The Movie: Infinity Castle (2025) adalah sebuah paradoks yang menarik. Ia adalah tontonan wajib bagi fans berat yang ingin melihat puncak dari animasi Ufotable dan adaptasi setia dari momen-momen emosional manga-nya. Bagi penonton kasual yang belum mengikuti serialnya, film ini mungkin akan terasa seperti mimpi yang indah namun membingungkan.

Film ini berhasil mencapai tujuannya sebagai pembuka trilogy pamungkas. Ia menawarkan beberapa pertarungan terbaik dalam waralaba ini, pengembangan karakter yang matang untuk Zenitsu dan Akaza, serta animasi yang tak tertandingi. Namun, ketergantungannya pada kilas balik dan struktur episodik membuatnya sedikit kehilangan momentum sebagai sebuah film utuh. Ini bukan Mugen Train versi kedua, melainkan sesuatu yang lebih besar, lebih gelap, dan sedikit lebih berantakan.

Rate: 8 - 8,5 / 10

Komentar