Ada kehangatan yang aneh saat menonton Even if This Love Disappears from the World Tonight. Di satu sisi, film ini menawarkan pelukan lembut khas drama remaja Korea, dengan deretan adegan indah yang terasa seperti potret-polaroid yang bergerak. Namun di sisi lain, ada semacam keseimbangan yang sengaja dijaga agar tak jatuh terlalu dalam ke jurang melodrama—dan justru di sana letak perdebatan kecil setelah kredit akhir bergulir.
Film garapan sutradara Kim Hye-young ini adalah adaptasi dari novel populer Jepang karya Misaki Ichijo, yang sebelumnya sudah difilmkan di Jepang pada 2022. Versi Koreanya hadir dengan balutan sensibilitas yang berbeda: lebih cerah, lebih berenergi, dan tentu saja, dengan wajah-wajah segar seperti Choo Young-woo dan Shin Si-ah.
Kita mengikuti kisah Han Seo-yoon (Shin Si-ah), seorang siswi SMA yang hidup dengan anterograde amnesia. Setiap kali ia tertidur, memori tentang hari sebelumnya lenyap begitu saja. Ia hanya bisa mengandalkan catatan harian untuk mengingat siapa dirinya dan orang-orang di sekitarnya. Lalu muncullah Kim Jae-won (Choo Young-woo), yang awalnya mendekati Seo-yoon karena sebuah "perintah" palsu untuk menghentikan perundungan, namun lambat laun jatuh cinta sungguhan.
Dari segi cerita, premis ini memang bukan barang baru. Banyak yang akan langsung teringat pada 50 First Dates atau drama Jepang legendaris One Week Friends. Namun, Even if This Love Disappears from the World Tonight tidak mencoba menjadi sesuatu yang revolusioner. Ia justru nyaman berada di zonanya sebagai youth romance yang sendu. Sayangnya, di sinilah saya merasa ada sesuatu yang kurang. Film ini terasa seperti lukisan indah yang lupa diberi bingkai yang kokoh.
Sisi teknis film ini sebenarnya patut diacungi jempol. Sinematografi Lee Seok-min berhasil menangkap esensi kerentanan melalui permainan warna yang lembut dan komposisi gambar yang intim. Ada satu adegan ketika Seo-yoon terbangun dan panik tidak mengenali Jae-won di dalam bus, diikuti hujan yang mengguyur. Momen itu sangat kuat secara visual, memperlihatkan betapa rapuhnya hubungan mereka yang dibangun di atas ingatan yang hanya bertahan sehari. Namun, secara naratif, transisi emosi dalam beberapa adegan terasa terburu-buru. Kita diajak melompat dari satu momen manis ke momen haru lainnya tanpa benar-benar diberi waktu untuk berhenti dan merasakan proses pendewasaan cinta itu sendiri.
Akting menjadi penyelamat utama film ini. Shin Si-ah membawa Han Seo-yoon dengan energi cerah yang tidak berlebihan. Ada kerentanan di matanya setiap kali ia membaca catatan harian, seolah-olah ia adalah orang asing dalam hidupnya sendiri. Chemistry-nya dengan Choo Young-woo juga terasa alami. Yang menarik, Shin Si-ah ternyata banyak terlibat mengambil gambar dari sudut pandang karakternya menggunakan kamera kecil, yang kemudian dipakai di kredit akhir. Hal ini menambah lapisan intim karena kita melihat Jae-won melalui "mata" Seo-yoon, menjadikan rekaman itu bukan sekadar dokumentasi, tapi juga bentuk perlawanan terhadap penyakitnya yang melupakannya.
Salah satu poin yang membuat film ini menarik adalah keputusan naratif untuk menghapus Jae-won sepenuhnya dari ingatan Seo-yoon, sesuai permintaan Jae-won sendiri. Ini adalah pilihan yang kejam namun manusiawi. Sahabat Seo-yoon, Ji-min (diperankan dengan apik oleh Cho Yu-jung), harus merelakan sahabatnya hidup tanpa beban kesedihan, meskipun itu berarti menghilangkan semua jejak cinta yang pernah ada. Ketika Seo-yoon mulai menggambar wajah Jae-won tanpa sadar, film ini bertanya kepada kita: apakah cinta benar-benar bisa dihapus oleh malam? Ataukah ia akan tetap hidup di tempat paling bawah sadar kita?
Namun, lagi-lagi, eksekusi tema ini terasa kurang "nendang". Dibandingkan film seperti Hello Ghost yang juga membahas memori dan kematian, film ini lebih memilih jalur aman dengan tetap fokus pada romantisme daripada pendalaman filosofis, yang sayangnya, hal ini membuat ledakan emosi dalam versi remake versi Korea ini kadang terasa terlalu diperhitungkan, sehingga mengurangi intensitas kejutannya.
Film ini menutup cerita dengan adegan Seo-yoon di pantai, membayangkan Jae-won mengikatkan tali sepatunya—sebuah callback ke pertemuan pertama mereka. Adegan itu indah, pahit, dan menenangkan sekaligus. Namun, saya merasa ada yang janggal. Transisi Seo-yoon dari tidak tahu apa-apa menjadi menerima kenyataan dan berdamai dengan lukanya terjadi terlalu cepat. Kita tidak melihat proses berduka yang utuh. Seolah-olah film ini terlalu takut membuat penonton tidak nyaman dengan durasi kesedihan yang panjang.
Secara keseluruhan, Even if This Love Disappears from the World Tonight adalah tontonan yang layak, terutama jika Anda penggemar berat genre romantis dan ingin sesuatu yang hangat namun tetap bisa membuat mata berkaca-kaca. Kekuatannya ada pada penampilan para aktor muda berbakat dan sinematografi yang memanjakan mata. Namun, jika Anda mencari cerita yang berani mengambil risiko atau menggali lebih dalam kompleksitas memori dan cinta, film ini mungkin akan terasa seperti singgah sebentar di permukaan. Ia indah, tapi tak cukup lama meninggalkan jejak di hati.
Rate: 6,5 / 10
.jpg)
b.jpg)
Komentar
Posting Komentar