Ada sensasi aneh setelah menonton 28 Years Later: The Bone Temple. Di satu sisi, aku masih bisa merasakan getaran adrenalin dari kekerasan grafisnya yang begitu membabi buta. Di sisi lain, ada kehampaan yang aneh, seolah-olah baru saja menyaksikan tontonan yang sangat keras namun tak kuasa menyentuh sesuatu yang lebih dalam di dalam hati. Ini adalah film tentang kontradiksi.
Nia DaCosta mengambil alih kendali dari Danny Boyle untuk chapter kedua dari trilogi baru ini, dan dia membawa kita ke dalam petualangan yang lebih gelap, lebih konyol, dan lebih brutal. Namun di tengah semua kegilaan itu, The Bone Temple terasa lebih seperti side mission—sebuah jembatan yang menghubungkan satu babak ke babak berikutnya daripada sebuah narasi yang berdiri kokoh dengan kakinya sendiri.
Film ini dimulai persis di titik di mana 28 Years Later berakhir; Spike (Alfie Williams) yang masih remaja kini berada dalam cengkeraman kultus pembunuh sadis yang dipimpin oleh Sir Lord Jimmy Crystal. Jack O’Connell menghadirkan performa yang menjijikkan dan sempurna sebagai ketua kultus berambut pirang yang terinspirasi Jimmy Savile ini—mengingatkan kita pada Alex DeLarge dalam A Clockwork Orange, lengkap dengan kekejaman dan tawa sinisnya. Di sisi lain, Dr. Kelson (Ralph Fiennes) kembali dengan misi kemanusiaannya yang unik: menjalin komunikasi dengan Infected Alpha bernama Samson.
Premis tentang dua sisi mata uang kemanusiaan ini sebenarnya jenius. Sementara Jimmy membawa kekacauan destruktif, Kelson berusaha membangun peradaban dari tulang-belulang. Kehadiran Samson sebagai Infected yang tenang memberi angin segar—adegan-adegan Kelson yang mendengarkan Duran Duran atau Radiohead di tengah kengerian adalah penyelamat yang sangat dibutuhkan. Sayangnya, Spike yang seharusnya menjadi benang merah emosi kita justru tersisihkan ke latar belakang. Alih-alih merasakan ketakutannya sebagai anak kecil yang terjebak dalam neraka, kita malah lebih sering disuguhi adegan kekerasan berdarah yang terasa berlebihan.
Hal yang paling mengganggu dari narasi film ini adalah keseimbangannya yang kacau. Dua alur cerita—Kelson yang merenung melawan alam dan Spike yang bertahan hidup di tengah kekacauan gila—terasa seperti dua film yang dipaksakan menyatu. Sepanjang dua pertiga awal, plot ini berjalan seperti dua garis paralel yang enggan bertemu, membuat momen klimaks saat mereka bersatu terasa kurang greget. Film ini, bagi saya, kurang berhasil menjadi entertaining—aku sering merasa bosan. Dan ketika film usai, sulit untuk tidak merasa bahwa film ini hanyalah hiburan instan yang cepat redup, bukan pengalaman sinematik yang membekas.
Dari sisi teknis, The Bone Temple adalah suguhan yang memanjakan mata namun sekaligus melelahkan. Sinematografi Sean Bobbitt memang indah, terutama saat kamera menangkap alam liar yang mulai merebut kembali dunia—bunga yang mekar di padang reruntuhan. Kameranya stabil dan terukur, kontras dengan gaya Boyle yang liar dan penuh gerakan. Sayangnya, justru ketenangan ini yang kadang terasa kurang berenergi.
Musik Hildur Guðnadóttir sangat atmosferik dan muram, namun yang paling diingat adalah pilihan lagu-lagunya—terutama adegan balet surealis Dr. Kelson yang menyanyikan "Number of the Beast" milik Iron Maiden. Meskipun jujur, dalam konteks cerita yang sangat kelam, penggunaan lagu-lagu riang Duran Duran rasanya akan lebih banyak membingungkan daripada memperkuat momen. Efek praktis dan riasan adalah keunggulan utama di sini; luka, darah, kekerasan terasa begitu nyata ketika perkelahian berlangsung. Namun ketika film sudah menampilkan kekerasan tanpa henti, film mulai terasa kehilangan daya kejutnya.
Yang membuat frustrasi adalah pacing atau ritmenya. Walau durasi hanya mencapai 1 jam 49 menit, ada bagian-bagian terasa mengulur dan lambat, terutama di bagian pertengahan film. Momen sunyi dan reflektif bersama Kelson—yang seharusnya menjadi jeda bernafas—kadang terasa malah seperti pengisi waktu karena minim pendalaman dialog. Sementara di adegan kekerasan dengan The Jimmys, ritmenya justru kacau balau karena terlalu cepat berganti adegan. Tanpa arahan yang tajam, film ini terasa seperti roller coaster yang naik-turun seenaknya sendiri, alih-alih membangun ketegangan secara memikat.
Para pemain dalam film ini luar biasa—mungkin kualitas aktingnya yang menyelamatkan film ini dari nilai yang lebih rendah. Ralph Fiennes dengan sempurna menghadirkan seorang dokter tua yang hatinya lebih besar dari menara tulang yang ia bangun. Namun jujur, tidak ada yang baru dari karakternya di sini dibandingkan film pertama. Ia hanya pendukung kuat yang kehadirannya lebih banyak membuat hati kita tenang, bukan memicu keterlibatan emosional yang mendalam.
Jack O’Connell adalah bintang sesungguhnya dalam film ini. Sebagai Sir Lord Jimmy Crystal, ia berhasil menciptakan pusat kejahatan yang begitu jahat dan konyol sekaligus sehingga kamu tidak bisa mengalihkan pandangan. Aura ancamannya begitu otentik; setiap kali ia tertawa, kamu merasakan bulu kuduk merinding. Sayangnya karakternya juga terlalu klise—cult leader yang psikopat dengan obsesi setan dan kekerasan tanpa motivasi yang lebih kompleks.
Chi Lewis-Parry sebagai Samson memberikan kejutan paling menyentuh. Diam namun intens, hubungan diamnya dengan Kelson adalah satu-satunya momen dalam film ini yang benar-benar menggetarkan hati. Sayangnya, bagian emosional ini kalah dominan daripada kekerasan The Jimmys yang berlebihan. Alih-alih membangun rasa ngeri dan empati secara bergantian, film ini justru lebih sering menekan tombol kekerasan.
Sementara itu Alfie Williams sebagai Spike terasa seperti aksesoris; ia hanya menjadi objek yang dilempar-lempar antar psikopat, tanpa agensi atau perkembangan karakternya yang berarti. Potensi emosi dari karakter remaja yang kehilangan ibunya dan bertahan di dunia kejam seolah-awut-awutan demi memberi ruang pada kekonyolan kultus Jimmy.
28 Years Later: The Bone Temple seperti badai yang mengamuk dengan keras namun kemudian berlalu tanpa jejak. Ia meninggalkanmu dengan debu dan bau darah, tetapi tidak banyak yang bisa diingat setelah semuanya reda. Film ini mengkonfirmasi satu fakta nyata: jika 28 Years Later adalah tentang hati yang berdetak di tengah kiamat, maka The Bone Temple adalah tentang tulang-tulang yang berserakan—memikat secara visual namun kosong di dalam. Apakah kita akan kembali untuk bagian ketiga trilogy ini? Mungkin.
Rate: 6 - 6,5 / 10
.jpg)
b.jpg)
Komentar
Posting Komentar