Ulasan Film Mercy (2026): Antara Kecerdasan Buatan dan Kelemahan Manusia

Tahun 2026 sepertinya memang jadi tahunnya para detektif yang harus berhadapan dengan teknologi yang mereka bangun sendiri. Tapi, jujur, ketika duduk di kursi menonton Mercy, ada satu pertanyaan yang terus berputar di kepala saya: seberapa jauh kita percaya pada sistem yang kita ciptakan? Film arahan Timur Bekmambetov ini memang bukan masterpiece yang mengubah hidup, tapi juga bukan kegagalan total yang pantas diabaikan. Mercy berhasil membuat saya terpaku selama 100 menit—meski dengan beberapa cegukan yang cukup terasa.

Bekmambetov membawa kita ke Los Angeles tahun 2029, sebuah dunia distopia di mana kriminalitas merajalela dan sistem peradilan telah sepenuhnya diambil alih oleh AI. Detektif Christopher Raven (Chris Pratt) yang dulu menjadi pendukung utama sistem "Mercy Court" kini harus menerima nasib pahit: ia didakwa membunuh istrinya sendiri. Dalam ruangan sunyi dengan tubuh terikat di kursi, Raven hanya punya 90 menit untuk membuktikan bahwa AI yang ia bangun telah salah membaca probabilitas dirinya sebagai pembunuh—sebelum gelombang sonik lethal mengakhiri hidupnya.

Premis ini bukannya tanpa daya tarik. Ada kepiawaian dalam membangun rasa terkurung (claustrophobia) yang membuat lutut saya berkali-kali menekan erat. Namun seiring waktu berjalan, beberapa pilihan naratif terasa seperti mengulang formula Minority Report tanpa sentuhan genius Spielberg. Bukan masalah klise, lebih ke soal eksekusi yang tidak selalu mulus.

Dari sisi teknis, Mercy punya kepribadian visual yang kuat. Bekmambetov—yang dikenal lewat Wanted dan Abraham Lincoln: Vampire Hunter—kembali menggunakan gaya "screen-life" yang pernah ia populerkan melalui Searching dan Unfriended. Layar dibagi menjadi kamera pengawas, rekaman ponsel, akun media sosial, dan antarmuka AI sang hakim. Pada menit-menit awal, format ini terasa segar. Hingga di menit ke-30, saya mulai sadar bahwa sebagian besar film benar-benar terdiri dari potongan video CCTV dan ekspresi cemas Chris Pratt yang di-zoom secara dramatis.

Tim musik berhasil membangun ketegangan dengan komposisi ambient yang merayap di bawah permukaan dialog. Ada satu adegan di mana suara glitch digital berpadu dengan denyut jantung Raven yang di-amplify—momen itu sukses membuat bulu kuduk saya berdiri. Sayangnya, penyutradaraan terkadang terlalu mengandalkan gimmick visual ini hingga kehilangan momentum emosional. Editing yang tajam di setengah awal sedikit kendor menjelang klimaks, seolah-olah sang editor kehabisan napas bersama karakternya.

Sekarang bicara soal yang paling penting: karakter dan emosi.

Chris Pratt di sini bukan Star-Lord yang santai atau Owen yang jenaka. Raven adalah pria putus asa yang terjebak dalam sistem yang ia ciptakan. Pratt cukup meyakinkan saat harus membawa beban itu hanya dengan kursi, pengikat, dan serangkaian layar. Kita melihat kegelisahannya, amarahnya yang tertahan, hingga pada titik di mana batas antara korban dan algojo mulai kabur. Namun, ada satu lapisan yang kurang: kelembutan sebagai suami yang dituduh membunuh istrinya sendiri. Saya butuh lebih banyak celah untuk peduli pada Raven sebagai manusia, bukan hanya sebagai tersangka.

Rebecca Ferguson sebagai Hakim Maddox, personifikasi AI yang dingin namun anehnya manusiawi, tampil solid meski karakernya kurang tergali. Setiap kali Maddox menyajikan bukti dengan nada datar dan hitungan persentase probabilitas, kita diingatkan bahwa inilah bahaya nyata dari algoritma yang tidak bisa membaca konteks. Namun saya justru kecewa karena dinamika antara Raven dan Maddox tidak dieksplorasi lebih dalam. Ada potensi besar untuk debat filosofis tentang "apakah keadilan bisa benar-benar objektif?" yang hanya tersentuh di permukaan.

Aktor pendukung seperti Annabelle Wallis dan Kali Reis memberikan warna, meski porsi mereka sangat terbatas. Sayangnya, karakter-karakter ini terasa seperti alat plot belaka, bukan bagian dari dunia yang hidup.

Kendati demikian, Mercy, dengan segala kekurangannya, berhasil melakukan sesuatu yang sulit: membuat saya peduli. Bukan pada setiap karakter, tapi pada pertanyaan besarnya. Di era di mana AI perlahan masuk ke ruang sidang dan kepolisian di dunia nyata, film ini mengingatkan bahwa algoritma yang paling canggih sekalipun tidak akan pernah memiliki hati nurani. Adegan-adegan di mana Maddox mulai glitch saat dihadapkan dengan logika dasar yang rumit adalah metafora brilian tentang batasan teknologi.

Tapi saya juga tidak buta. Plot-nya memiliki lubang yang cukup lebar. Beberapa lompatan logika Raven dalam "membuktikan ketidakbersalahannya" terasa dipaksakan, seolah skenario hanya perlu bergerak cepat tanpa mempedulikan akal sehat. Ini adalah film yang lebih mengutamakan sensasi daripada koherensi, dan bagi sebagian orang itu bisa menjadi pengganggu.

Namun, ketika kredit mulai bergulir, saya tidak merasa membuang waktu. Saya justru melakukan hal yang paling jarang saya lakukan untuk film kelas menengah seperti ini: saya mencarinya di Google untuk melihat diskusi orang lain. Mercy bukan film yang mengubah hidup, tapi film yang memantik percakapan. Dan dalam industri yang makin dipenuhi sekuel dan reboot, memiliki film orisinal yang setidaknya berani mengambil risiko adalah sesuatu yang patut diapresiasi.

Cobalah untuk menontonnya tanpa ekspektasi besar. Mercy tidak akan pernah menjadi Minority Report versi 2026, dan itu tidak masalah. Film ini seperti percakapan larut malam yang tidak selalu masuk akal, tapi tetap membuatmu bertahan sampai akhir karena ada kejujuran di dalamnya. Saya selesai menonton dengan perasaan hangat yang aneh—campuran frustrasi karena potensi yang terbuang dan rasa syukur karena setidaknya saya tidak menonton film yang membosankan.

Apakah AI bisa menggantikan hakim? Belum. Apakah Mercy jawabannya? Mungkin. Tapi setidaknya, film ini membuat kita bertanya.

Rate: 7 - 7,5 / 10

Komentar