Ulasan Anime Medalist Season 2 (2026): Tarian yang Belum Usai, Tapi Tetap Membara

Musim dingin 2026 terasa sedikit lebih hangat. Bukan karena suhu udara yang naik, melainkan karena kehadiran Medalist Season 2. Setelah penantian panjang pasca musim pertama yang memukau, sekuel yang tayang di blok NUMAnimation TV Asahi pada 25 Januari hingga 22 Maret 2026 ini kembali membawa kita meluncur di atas es yang dingin, namun menyimpan cerita yang begitu hangat. Ini bukan sekuel yang sempurna dan revolusioner. Ia adalah sebuah tarian yang anggun namun juga penuh goyahan, sebuah bukti bahwa perjalanan menuju puncak tak pernah mulus.

Medalist Season 2 langsung mengambil ancang-ancang dari akhir musim pertama. Inori Yuitsuka, gadis cilik yang dulu dianggap “terlambat” untuk terjun ke dunia skating profesional, kini telah memasuki level Novice A. Ia dan sang mentor, Tsukasa Akeuraji, mengincar tiket menuju All-Japan Novice Tournament melalui babak sengit di Chubu Block Tournament. Di sini, cerita bertransformasi. Tidak hanya soal mimpi indah, tetapi juga tentang tekanan dan realita. 

Inori bukan lagi underdog polos yang hanya ingin bersenang-senang; dia kini adalah target. Tatapan dari para rival dan senior—yang sebagian besar sudah berlatih jauh lebih lama—membawa bobot psikologis yang dieksplorasi secara apik. Konflik internal Inori terasa sangat relatable dan intens, menandakan bahwa cerita ini telah bertumbuh dewasa bersama karakternya.

Memasuki wilayah teknis, Medalist Season 2 adalah sebuah seni visual yang menawan. Studio ENGI, yang seringkali naik-turun kualitasnya, mampu mempertahankan bahkan sedikit meningkatkan pijakan mereka. Animasi skating terasa lebih mulus dan dinamis, memberikan ilusi seolah-olah kita berada tepat di tengah arena, mengikuti setiap lengkung pisau seluncur yang menggores es

Penggunaan CGI yang sebelumnya terasa sedikit canggung di musim pertama kini diterapkan dengan sangat halus, hanya pada momen-momen krusial saat gerakan membutuhkan fluiditas ekstra. Detail dari koreografi yang dibuat oleh skater sungguhan, Akiko Suzuki dan lainnya, menambah aura profesional yang kental. Musik Yuki Hayashi masih menjadi “senjata rahasia”; ia tidak hanya mengiringi, tetapi membisikkan emosi ke dalam setiap ketukan lagu.

Jika ada satu kelemahan yang mengganjal—dan ini yang mencegah angka saya melesat ke 8 penuh atau 9—adalah keputusan naratif di akhir. Musim ini berakhir di sebuah tebing yang curam. Kita tidak sampai menyaksikan klimaks besar yang telah dibangun sepanjang 9 episode. Rasanya seperti diajak berolahraga keras, tetapi dihentikan tepat sebelum garis finis. Ini adalah pilihan yang berani, tetapi terasa sedikit mengecewakan bagi mereka yang menginginkan resolusi. Namun, kecewa bukan berarti marah. Antusiasme saya untuk melanjutkan ke film (movie) adaptasi berikutnya justru membara, karena ini menandakan bahwa puncak sebenarnya belum tiba.

Medalist Season 2 adalah sebuah simfoni yang indah namun sayang dipotong di tengah jalan. Ia menawarkan pengalaman emosional yang kaya, visual yang berkembang, dan narasi yang dewasa tentang perjuangan hidup. Jika musim pertama adalah tentang menemukan keberanian untuk bermimpi, musim kedua adalah tentang bertahan saat mimpi itu mulai terasa nyata dan menyakitkan. 

Untuk itu, saya sangat merekomendasikannya. Bagi para penggemar sports anime atau penggemar karakter yang dalam, ini adalah tontonan wajib. Saya akan menunggu filmnya dengan antusias, sambil tetap merasakan sisa energi dari tarian penuh semangat Inori yang belum usai.

Rate: 7,5 - 8 / 10

Komentar