Ada sensasi yang aneh dan menggoda saat menonton Send Help. Di satu sisi, saya menikmati kekacauan yang Sam Raimi racik dengan gaya khasnya. Di sisi lain, jauh di lubuk hati, ada perasaan jengah yang perlahan merambat—seperti kesal pada bos yang omongannya bagus di awal tapi berujung basi di akhir. Inilah inti dari pengalaman menonton film terbaru Sam Raimi ini. Sebuah pengalaman yang imersif di awal, mengasyikkan di tengah, namun terasa sedikit mengecewakan di penghujung cerita.
Send Help mengikuti Linda Liddle (Rachel McAdams), seorang karyawan berbakat yang sering diabaikan, dan Bradley Preston (Dylan O'Brien), bos nepo-baby-nya yang arogan. Sebuah perjalanan bisnis ke Thailand berakhir tragis saat pesawat mereka jatuh dan terdampar di pulau terpencil di Samudra Pasifik. Tanpa sinyal, logistik, dan kepastian pertolongan, keduanya harus mengesampingkan ego untuk bertahan hidup.
Raimi tidak butuh waktu lama untuk menciptakan ketegangan. Sepuluh menit pertama sudah cukup untuk menggambarkan dinamika beracun di kantor mereka. Tapi ketika setting berpindah ke pulau, sinematografi Bill Pope mulai bermain cantik. Jujur, saya cukup terkesima dengan keindahan komposisi warnanya yang kontras dengan situasi mencekam. Pengambilan gambar lebar yang menekankan isolasi, dipadukan dengan zoom in-out cepat khas Raimi, membuat kita benar-benar merasakan keputusasaan Linda. Adegan kejar-kejaran dengan babi hutan yang menggunakan kamera POV frantic adalah momen di mana saya berdecak kagum. Itu adalah Raimi sejati, yang membuat kita tersenyum geli meski jantung berdegup kencang.
Jika ada yang paling berhasil menyelamatkan film ini dari kekacauan, itu adalah Rachel McAdams dan Dylan O'Brien. McAdams benar-benar menjelma menjadi Linda. Ia tidak hanya jago dalam adegan survival (membuat api, bertahan hidup layaknya peserta Survivor), tetapi juga sangat ahli dalam memerankan sosok yang canggung namun memiliki tekad baja. Begitu juga O'Brien. Ia memerankan Bradley, si bos brengsek yang menyebalkan, dengan sangat meyakinkan.
Yang paling menarik adalah bagaimana film ini perlahan membangun ketidakpercayaan. Kita awalnya mendukung Linda, namun seiring berjalannya waktu, tindakannya terasa semakin meresahkan. Apakah yang ia lakukan adalah bentuk keadilan? Atau hanya cara lain untuk mengendalikan orang lain? Pertanyaan ini yang membuat psikologis film ini terasa hidup. Sayangnya, eksekusi yang cemerlang ini tidak berjalan mulus.
Di sinilah letak kekecewaan saya. Bagian tengah Send Help terasa sangat amburadul dalam hal pacing. Film ini berulang kali mengulang ketukan yang sama. Ada adegan di mana Bradley, yang tak punya skill bertahan hidup sama sekali, tiba-tiba membangun rakit ramshackle. Saya hanya bisa geleng-geleng kepala. Mengapa ini harus memakan waktu begitu lama?
Namun, masalah terbesar ada di babak akhir. Saya setuju dengan banyak kritikus bahwa adegan klimaksnya terasa terlalu panjang dan kehilangan arah. Ada sebuah reveal di babak tiga yang seharusnya menjadi puncak, tapi malah menjanjikan lebih banyak daripada yang bisa diberikan film ini. Film yang awalnya cerdas dalam membalikkan hierarki kekuasaan, berubah menjadi film horor berdarah-darah yang agak membosankan. Bukan karena gore-nya berlebihan, tapi karena gore tersebut terasa seperti tambalan agar kita tidak bosan. Seperti yang saya rasakan saat menonton—film ini semakin lama semakin flat menuju akhir yang terasa pura-pura dan seperti tempelan setelah pesta usai.
Send Help adalah film yang memiliki konsep brilian dan bintang yang bersinar, tetapi membuang potensinya di babak kedua. Sebagai penggemar Sam Raimi, saya menikmati gaya visual khasnya yang hiperaktif. Tapi sebagai penonton yang haus akan cerita yang matang, saya kecewa dengan penanganan alur yang berantakan.
Ini adalah tontonan yang pas untuk malam santai, tapi bukan tontonan wajib yang mengubah cara pandang Anda tentang thriller survival. Film ini seperti makan makanan cepat saji favorit Anda: nikmat di awal, mengenyangkan di tengah, namun terasa sedikit menyesal setelah semuanya habis.
Rate: 6 / 10
.jpg)
.png)
Komentar
Posting Komentar