Ulasan Film Arthur the King (2024): Petualangan di Medan Terberat di Bumi

Dalam dunia olahraga, ada satu kategori yang tidak dapat diremehkan: Adventure Team Racing. Kegiatan ini menuntut daya tahan ekstrem, melampaui batas manusia, dan menguji kekuatan fisik serta mental. “Arthur the King” adalah film yang berdasarkan kisah nyata salah satu perlombaan ini, menggambarkan perjalanan tim Amerika melintasi hutan, pegunungan, dan sungai di Republik Dominika. Walaupun cerita asli melibatkan tim Swedia di Ekuador, kisah ini tetap memukau dan menggugah emosi.

Perlombaan Adventure Team Racing tidak hanya tentang berlari, bersepeda, atau mendaki. Ini adalah perpaduan dari segala jenis tantangan yang membentang di berbagai medan terjal dan tak kenal ampun. Dalam film ini, kita menyaksikan bagaimana Michael Light, yang diperankan oleh Mark Wahlberg, memimpin timnya dalam perlombaan yang melelahkan. Michael adalah karakter yang penuh gairah, seorang yang mungkin kecanduan adrenalin atau hanya ingin membuktikan dirinya setelah disebut sebagai “pembalap tim petualangan terbaik yang belum pernah memenangkan kejuaraan” oleh Bear Grylls.

Cerita dimulai dengan Michael yang membentuk tim dari berbagai individu dengan latar belakang berbeda:

  • Chick (Ali Suliman): Navigator dengan cedera lutut yang memaksanya keluar dari tim juara.
  • Olivia (Nathalie Emmanuel): Pendaki bebas ahli, putri dari mantan juara yang sedang sakit.
  • Leo (Simu Liu): Bintang media sosial yang marah dengan Michael atas keputusan buruk yang mengakibatkan kekalahan mereka sebelumnya.

Michael berjanji bahwa kali ini, Leo akan memiliki suara dalam arah tim, dan Leo mengingatkan, “Itu akan menjadi suara yang keras.”

Perlombaan ini berlangsung selama 5-10 hari melintasi medan terberat di bumi. Dengan anggaran terbatas, tim Michael tiba tepat sebelum perlombaan dimulai, tanpa waktu yang cukup untuk beradaptasi dengan iklim. “Aturan pertama adalah apa saja bisa terjadi,” kata Michael kepada timnya, dan mereka semua menjawab dengan pepatah semangat olahraga seperti “Apa pun yang diperlukan” dan “Kami menerimanya. Kami merangkulnya.”

Bagian pertama perlombaan adalah perjalanan sejauh 24 mil melalui hutan. Tidak ada jalur yang ditentukan, sehingga salah satu tantangan dari olahraga ini adalah menemukan jalan pintas melalui medan yang berbahaya dan belum dipetakan. Pemandangan dalam film ini menakjubkan, meskipun para pembalap jarang memiliki waktu untuk menikmatinya, dengan beberapa urutan yang sangat mendebarkan, termasuk momen yang menegangkan di zip line yang macet.

Bagian ketiga dan mungkin yang paling menyentuh adalah kisah Arthur, anjing jalanan yang diselamatkan Michael. Setelah diberi sepotong bakso, Arthur mengikuti tim untuk ratusan mil dan pada satu titik menyelamatkan mereka dari jatuh ke jurang. Baik Michael maupun Arthur memulai film ini sebagai individu yang kesepian, tetapi selama perlombaan, kita melihat mereka menjadi tim dan kemudian keluarga.

Film ini mengajarkan kita untuk memperhatikan tujuan yang kita tetapkan bagi diri kita sendiri, untuk memutuskan apakah mencapainya benar-benar akan memberi kita apa yang kita harapkan dan apa arti kemenangan sesungguhnya. Istri Michael menyebut mimpinya sebagai “garis finish yang ajaib,” dan film ini mengingatkan kita bahwa tujuan bukan hanya tentang mencapai akhir, tetapi tentang perjalanan dan ikatan yang kita bangun di sepanjang jalan.

“Arthur the King” adalah sebuah petualangan emosional yang menantang batas ketahanan manusia. Melalui karakter-karakter yang kuat dan pemandangan alam yang memukau, film ini memberikan pelajaran berharga tentang keberanian, ketekunan, dan arti sebenarnya dari kemenangan.

Rate: 8.5/10

Komentar