Ulasan Film The Legend & Butterfly (2023): Sebuah Ode untuk Cinta dan Legenda dalam Bayang-Bayang Sejarah
Dalam dunia sinema, terkadang kita menemukan permata yang berani merangkul sejarah dengan cara yang segar dan inovatif. "The Legend & Butterfly" mungkin adalah salah satu permata tersebut. Film ini adalah sebuah karya yang dibuat untuk merayakan ulang tahun ke-70 studio Toei, dan berhasil menghidupkan kembali era Sengoku Jepang dengan cara yang memikat dan mendalam.
Film ini mengambil latar belakang kehidupan Oda Nobunaga, seorang daimyo yang terkenal karena ambisinya untuk menyatukan Jepang yang terpecah belah. Namun, bukan hanya perang dan politik yang menjadi fokus utama film ini. Alih-alih, "The Legend & Butterfly" memilih untuk merayakan hubungan antara Nobunaga dan istrinya, Nōhime, yang sering kali terlupakan dalam narasi sejarah.
Nōhime, yang juga dikenal sebagai Kichō, adalah putri dari Saitō Dōsan, daimyo dari provinsi Mino. Meski pernikahan mereka awalnya adalah pernikahan politik, film ini menggambarkan bagaimana hubungan mereka berkembang dari kecurigaan menjadi saling pengertian dan akhirnya menjadi cinta.
Film ini juga berani dalam memilih untuk memfiksionalisasi banyak aspek dari kehidupan mereka. Meski sejarah mencatat sedikit tentang pernikahan Nobunaga dan Nōhime, film ini memilih untuk merayakan legenda daripada fakta yang sedikit dan sering kali dipertentangkan. Dengan cara ini, "The Legend & Butterfly" berhasil membawa perspektif feminis yang segar ke dalam cerita.
Namun, film ini tidak melupakan sejarah sepenuhnya. Sebaliknya, ia menggabungkan fakta sejarah dengan fiksi untuk menciptakan narasi yang kaya dan mendalam. Misalnya, Nobunaga dikenal karena inovasi militer dan strategi perangnya, dan film ini menunjukkan bagaimana Nōhime berperan dalam membantu suaminya merumuskan rencana pertempuran.
Kendati demikian, "The Legend & Butterfly" tidak tanpa kekurangan. Meskipun film ini berhasil dalam banyak aspek, ada beberapa elemen yang menjadi sasaran kritik yang tajam. Salah satunya tentu saja adalah penanganan konteks sejarah itu sendiri, seperti sosok Nohime yang dianggap tidak sesuai bahkan sangat melenceng dengan gambaran wanita Jepang pada masa itu.
Pada akhirnya, "The Legend & Butterfly" adalah sebuah perayaan cinta dan legenda dalam bayang-bayang sejarah. Meski mungkin tidak sepenuhnya akurat secara historis, film ini berhasil menciptakan sebuah kisah yang memikat dan menghibur, yang menyoroti kehidupan dua tokoh penting dalam sejarah Jepang dengan cara yang segar dan inovatif.

Komentar
Posting Komentar