Ulasan Film Spider-Man: Across the Spider-Verse (2023): Sebuah Labirin Kejeniusan dalam Penceritaan Multiverse
"Walaupun banyak kritikus film beranggapan bahwa industri film superhero sudah jenuh, menurutku itu hanya omong kosong. Kalau filmnya sebagus 'Spider-Man: Across the Spider-Verse,' aku rela bioskop dijejali film superhero terus-menerus. Bagiku, apa kata para kritikus 'konyol' itu tak begitu penting."
Seni yang Mengagumkan
Saat film ini dimulai, kita langsung diselimuti oleh
keagungannya. Sama seperti pendahulunya, "Into the Spider-Verse,"
gaya animasinya tetap eklektik namun dirancang dengan cermat. Ini adalah ledakan
panel komik dan seni grafiti yang digabungkan menjadi satu pemandangan yang
memukau, sangat cocok dengan gaya seni perkotaan yang mungkin disukai oleh
Miles Morales.
Multiverse yang Diperluas
Alur cerita ini memulai perjalanan yang tidak hanya menantang
batas-batas alam semesta tunggal, tetapi juga menyelam ke dalam misteri
multiverse. Miles Morales dan Gwen Stacy meluncur melalui kompleksitas
keberadaan itu sendiri, di mana setiap alam semesta menawarkan palet warna,
dilema, dan tekstur sendiri. Menurut sumber, lingkup naratif lebih besar dan
gagasan tentang multiverse ini digali lebih dalam dari sebelumnya.
Alkimia Sinematik
Apa yang membuat film ini spesial adalah kombinasi tiga
sutradara—Joaquim Dos Santos, Kemp Powers, dan Justin K. Thompson—yang visi
bersamanya menghormati kedua sisi Spider-Man, yaitu sisi whimsical dan serius.
Kolaborasi mereka membuat film ini menjadi sekuel yang brilian, yang berpotensi
melampaui film aslinya.
Fanservice yang Tinggi
Ada 'seni' dalam fanservice, dan film ini telah
menguasainya. Setiap Easter egg dan keunikan karakter yang disukai disajikan
dengan elegan, seperti gerakan dalam sebuah simfoni. Ini bukan hanya fanservice
demi fanservice; ini adalah fanservice yang berkontribusi pada klimaks tematik,
sebuah kresendo yang membuat Anda puas sekaligus ingin lebih.
Kesimpulan
Spider-Man: Across the Spider-Verse adalah pengingat bahwa
animasi bukanlah genre; ini adalah bentuk seni yang melampaui genre. Ini adalah
pesta sinematik untuk mata dan jiwa, sebuah film yang begitu memikat sehingga,
menurut sumber saya, banyak orang rela menontonnya lebih dari sekali di
bioskop.
Dalam dunia film superhero, Spider-Man bukan hanya melintasi gedung pencakar langit di New York; dia mengeksplorasi kemungkinan sinematik. Dan percayalah, jika Anda tidak menjadi bagian dari petualangan ini, Anda akan kehilangan sesuatu yang benar-benar luar biasa.

Komentar
Posting Komentar