Concrete Utopia adalah sebuah film yang merangkai kejadian pascabencana di kompleks apartemen yang hancur akibat gempa bumi. Film ini membawa kita ke dalam sebuah pemikiran mendalam tentang organisasi sosial dalam keadaan apokaliptik, penuh dengan pertanyaan moral dan konsep-konsep yang membingungkan. Karya ini diangkat sebagai perwakilan Korea Selatan untuk Academy Awards dan mengawali kisahnya dengan gempa bumi dahsyat yang menghancurkan hampir seluruh kota Seoul, meninggalkan hanya satu kompleks apartemen yang masih berdiri tegak, Hwang Gung Apartments.
Apartment tersebut menjadi rumah bagi sekitar seratus penghuni yang selamat dari malapetaka tersebut. Berdasarkan sebuah webtoon Korea yang berjudul 'Cheerful Outcast', film ini mengajukan pertanyaan yang mendalam: Bagaimana suatu komunitas mengorganisir dirinya ketika institusi-institusi yang ada hancur? Apakah manusia secara alami merindukan tatanan moral dan sosial?
Menit-menit awal yang membangkitkan semangat dan premis yang menarik segera berganti dengan perjalanan yang lebih lambat dalam satu jam pertama film ini. Para penonton diperkenalkan pada penghuni apartemen seperti pemimpin terpilih Yeong-tak (Lee Byung-hun), suami-istri Min-sung (Park Seo-jun) dan Myung-hwa (Park Bo-young), serta Geum-ae (Kim Sun-young), kepala asosiasi wanita Hwang Gung Apartments.
Yeong-tak, yang dengan berani memadamkan api dalam sebuah kebakaran, segera dianggap memiliki kualitas seorang pemimpin dan diangkat sebagai Delegasi Penduduk, yang bertugas untuk merancang jalan keluar untuk bertahan hidup.
Sutradara Um Tae-hwa memilih skema warna abu-abu yang suram untuk "Concrete Utopia," memberikan gambaran yang sangat kelam untuk para karakter dalam film ini. Bantuan tak pernah datang: tidak ada pemadam kebakaran, ambulans, atau tim pencarian dan penyelamatan. Yeong-tak dan penghuni lainnya bersatu dan menetapkan tiga aturan di tengah bencana: hanya mengizinkan penduduk asli untuk tinggal di gedung (mereka yang bukan penduduk dengan tegas diusir), membagi ransum sesuai dengan kontribusi masing-masing penduduk terhadap komunitas, dan mengambil keputusan melalui konsensus demokratis.
Hwang Gung Apartments bukanlah tempat tinggal yang netral, melainkan menjadi simbol politik Korea sebenarnya yang membentuk karya Um Tae-hwa. Film ini membalikkan konsep uang saat uang kertas kehilangan nilainya, digantikan oleh sistem barter di dalam apartemen, di mana air, minyak, dan pemantik api menjadi barang-barang yang sangat dicari.
"Concrete Utopia" adalah sebuah karya sinematik yang merangsang berbagai pertanyaan tentang kemanusiaan dan moralitas dalam kondisi paling ekstrem. Dengan visual yang kuat dan kisah yang penuh dengan lapisan makna, film ini menggugah pemirsa untuk merenungkan apa yang mungkin terjadi ketika segalanya runtuh. Ini adalah sebuah cerita tentang ketahanan manusia, keputusasaan, dan upaya untuk menjaga nilai-nilai kemanusiaan dalam kondisi yang penuh kegelapan.
Dengan "Concrete Utopia," sutradara Um Tae-hwa telah menciptakan karya yang tidak hanya menghibur, tetapi juga memaksa kita untuk merenungkan sisi gelap dan terang kemanusiaan. Film ini adalah contoh nyata dari sinema Korea yang berkualitas tinggi, dan kami sangat merekomendasikan untuk menontonnya.

Komentar
Posting Komentar