Ulasan Film Dogman (2023): Aksi Gila yang Mengundang Tawa dan Haru


Film aksi "Dogman" karya Luc Besson menghadirkan suasana yang berbeda di tengah deretan kekecewaan dari film-film superhero di musim panas. Meskipun sedikit mirip dengan pemenang Golden Lion, Joker karya Todd Phillips, dalam keanehan dan gaya berpakaian, "Dogman" memberikan panggung sempurna bagi bintang utamanya, Caleb Landry Jones. Jones berhasil memberikan nuansa aksi yang gila namun penuh hati dan jiwa, sebuah penampilan yang luar biasa.

Film ini dimulai di New Jersey dengan pemblokiran polisi mencari seorang pria muda berusia 30-an, mungkin bersenjata. Mereka menangkapnya, seorang pria di kursi roda berambut pirang, berdandan aneh, mengenakan gaun sutra merah muda yang robek, dan di belakangnya ada sekelompok anjing dari berbagai ras dan ukuran. Sang pria, yang disebut Doug, memperingatkan, "Mereka tidak akan menyakitimu selama kamu tidak menyakitiku."

Polisi membawanya ke pusat tahanan, di mana mereka memanggil psikiater Evelyn (Jojo T. Gibbs), seorang ibu tunggal yang baru bercerai dan bayi berusia 9 bulan bersamanya. Doug mengungkapkan bahwa dia bukan orang sakit, hanya lelah, dan menjadi pasien yang sangat patuh.

Dua hal terungkap dalam sesi terapi mereka. Pertama, Doug adalah seorang anak yang disiksa, dibesarkan dalam keluarga dengan anjing-anjing mereka yang kelaparan untuk dijadikan peserta pertarungan dan melemparkan putranya ke dalam kandang kotor bersama mereka. Doug tergeletak lemas saat polisi menyerbu rumahnya, tetapi penjara lain menantinya ketika dia berada dalam sistem perawatan.

Akhirnya, dia mendirikan sebuah tempat perlindungan hewan, dan ketika tempat itu kekurangan dukungan keuangan negara dan harus ditutup, dia membuat 'gua anjing' rahasia untuk dirinya dan sahabat anjingnya. Dari markas tersembunyinya, sebuah sekolah terbengkalai, dia menggunakan hewan-hewannya untuk melakukan serangkaian serbuan berani di rumah-rumah mewah.

Besson fokus pada Doug, bagaimana dia jatuh cinta dengan guru drama-nya, dan bagaimana dia hancur mengetahui bahwa, beberapa tahun kemudian, wanita itu akan menikah dan hamil. Film juga mengikuti upaya Doug mencari pekerjaan, ditolak untuk setiap tugas sepele yang terbayangkan, dengan sudut pandang rendah yang memperkuat rasa malunya sebagai pria cacat. Menariknya, ketika dia akhirnya mendapatkan pekerjaan, itu terjadi di bar drag; penampilannya sebagai Edith Piaf menyanyikan "La Foule" adalah pertunjukan yang sangat mencolok.

Yang menarik adalah pengungkapan kedua Doug kepada Evelyn yang melibatkan alur cerita di mana Doug terlibat dengan gangster lokal bernama El Verdugo ("The Executioner") yang telah memeras teman-temannya. Mungkin terdengar banyak plot untuk film berbasis karakter, namun Besson mengatasi itu dengan kejelasan yang luar biasa. Ketika Anda mungkin mulai bertanya-tanya ke mana arah cerita ini, film dengan sangat mahir kembali, melingkar sepenuhnya, sehingga semuanya tiba-tiba masuk akal. Atau lebih tepatnya, sejauh mana film dengan anjing gangster akan masuk akal.

Seperti Willard dan tikusnya, komunikasi Doug yang aneh dengan rekan-rekan anjingnya sebenarnya tidak begitu perlu dipikirkan, dan Besson bersenang-senang dengan pemeran anjing yang beraneka ragam dan berukuran. Tetapi jika Anda menerima konsepnya, "Dogman" adalah irisan pulpa yang ringan, tak terduga, dan penuh kelembutan yang mengambil ide sederhana dan mengolahnya semaksimal mungkin.

"Dogman" adalah perpaduan aksi yang gila, keunikan cerita, dan sentuhan emosional yang membuatnya berbeda dari film aksi superhero konvensional. Luc Besson berhasil menghadirkan kisah yang tak terduga, diwarnai dengan kejenakaan anjing-anjing yang berperan penting. Performa Caleb Landry Jones sebagai Doug memberikan dimensi baru pada karakter yang penuh liku-liku. Film ini membuktikan bahwa ketika segala sesuatu terlihat kacau, itulah saat keindahan sejati muncul. "Dogman" bukan hanya film aksi biasa; ini adalah perjalanan emosional yang patut disaksikan.

Rate: 7.5+/10

Komentar