Ulasan anime The Fable (2024): Kisah Pembunuh Bayaran yang Menemukan Jalan Baru

Sebelum menonton The Fable versi anime, saya sempat skeptis. Gara-garanya adalah saya sudah pernah menikmati dwilogi film layar lebarnya yang penuh aksi dan sinematografi apik, saya bertanya-tanya apakah adaptasi anime-nya mampu menangkap esensi dan intensitas cerita yang sama. Namun, kekhawatiran saya ternyata tidak beralasan. Versi anime The Fable justru mampu memberikan warna baru pada kisah ini dengan cara yang tidak terduga, dan saya sangat menikmati setiap momennya.

Anime ini berhasil menonjolkan sisi unik Fable dalam bentuk yang lebih kasual dan santai, tanpa kehilangan kesan “kejam namun kocak” yang menjadi ciri khas karakter utamanya. Dalam episode awal, anime ini memperlihatkan Fable yang mencoba menjalani kehidupan “normal” tanpa menggunakan keahlian membunuhnya. Transformasi ini menarik karena memberikan kesempatan pada kita untuk lebih mengenal sisi komikal dan canggung dari karakter Fable yang terbatasi oleh durasi pada versi film layar lebar. Meskipun Fable dikenal sebagai hitman jenius, ia sering kali terlihat kaku dalam situasi sehari-hari, menambah lapisan humor yang menyenangkan.

Kehadiran Yoko sebagai tandem Fable juga memberikan nuansa yang sama menariknya seperti di film. Sebagai karakter yang lebih “grounded,” Yoko tahu kapan harus mengendalikan Fable dan kapan harus membiarkan tingkah lakunya yang aneh berkembang. Di anime, hubungan mereka terasa lebih ringan namun tetap penuh chemistry. Momen-momen di mana Yoko harus menghadapi kekonyolan Fable menjadi bagian favorit saya, karena terasa sangat natural dan menyegarkan.

Visualisasi anime ini tidak mengecewakan. Studio Tezuka Productions berhasil menghadirkan animasi yang solid dengan warna-warna yang tidak berlebihan, meskipun atmosfernya sedikit berbeda dari versi filmnya yang lebih realistis. Adegan aksi tetap menarik, namun yang menjadi fokus adalah elemen komedi situasional yang menyoroti kesulitan Fable dalam menyesuaikan diri dengan kehidupan “normal.” Saya merasa ini menjadi nilai tambah anime, karena menunjukkan dimensi baru dari seorang karakter yang sebelumnya lebih banyak digambarkan sebagai sosok misterius dan tak terkalahkan.

Satu hal yang paling mengejutkan adalah bagaimana anime ini berhasil menggabungkan aksi dan komedi dengan cara yang menyenangkan tanpa terkesan dipaksakan. Humor dalam anime ini lebih subtil dan tidak berlebihan, seperti dalam adegan ketika Fable dengan hati-hati menghindari konflik. Momen-momen ini, kalau saya tidak salah ingat, ada juga dalam film layar lebarnya, tetapi di versi anime, mereka memberi perspektif baru yang sedikit lebih detil dan tetap menyenangkan. 

Tentu saja, ada beberapa kekurangan. Mungkin bagi beberapa penggemar versi film, anime ini terasa kurang intens di beberapa bagian karena penekanan yang lebih ringan. Namun, bagi saya, hal ini justru memberikan ruang lebih untuk memahami karakter dan kepribadian Fable serta konfliknya yang lebih dalam sebagai pembunuh yang dipaksa menjadi “normal.”

Secara keseluruhan, saya cukup terkesan dengan versi anime The Fable ini. Pengalaman yang berbeda dari filmnya justru memberi saya perspektif baru yang segar. Dalam format anime, The Fable mampu menonjolkan sisi-sisi humor dan absurditas hidup seorang pembunuh yang mencoba menjalani hidup biasa. Dengan demikian, anime ini berhasil menjawab skeptisisme awal saya dan menunjukkan bahwa cerita yang sama bisa diceritakan dalam berbagai format dengan pendekatan yang berbeda namun tetap berhasil memikat penontonnya.

Melalui pendekatan yang lebih ringan namun tetap tajam, anime The Fable mampu membawa kisah pembunuh bayaran ini ke dalam dunia anime tanpa kehilangan esensi aslinya. Bagi penggemar versi film atau bagi yang baru pertama kali mengenal cerita Fable, anime ini menjadi tontonan yang menarik, memberikan nuansa komedi dan aksi yang seimbang serta eksplorasi mendalam pada karakter utama.

Rate: 8.25/10

Komentar