Ulasan Film Woman of the Hour (2024): Sebuah Kisah Mengerikan yang Ditampilkan dengan Presisi

Woman of the Hour adalah film debut penyutradaraan Anna Kendrick yang berbasis pada kisah nyata pembunuh berantai Rodney Alcala. Film ini terasa seperti kombinasi yang mendebarkan antara investigasi kriminal dan kritik sosial. Kendrick, yang juga memerankan karakter Sheryl Bradshaw, membawa perspektif yang segar dan berani pada cerita yang sudah mencekam sejak awal.

Film ini mengeksplorasi kisah nyata Alcala, yang berpartisipasi dalam acara kencan televisi The Dating Game di tahun 1970-an meskipun dia sudah menjadi seorang pembunuh berantai. Kendrick berhasil menyuguhkan elemen horor psikologis dari kisah ini tanpa harus menampilkan kekerasan secara berlebihan. Saya terkesan dengan cara film ini menjaga intensitas ketegangan sambil tetap menghormati para korban.

Salah satu kekuatan utama film ini adalah kemampuan Kendrick dalam menciptakan suasana mencekam melalui sinematografi dan storytelling. Dengan bantuan sinematografer Zach Kuperstein, beberapa adegan seperti ketika Sheryl mulai merasakan ada yang salah dengan Rodney benar-benar membuat saya merinding. Pacing filmnya tidak sempurna, tetapi cukup berhasil menjaga perhatian saya sepanjang durasi.

Namun, bagian yang melibatkan karakter Laura, diperankan oleh Nicolette Robinson, terasa kurang solid. Laura adalah saksi yang mengenali Alcala sebagai pelaku yang pernah menyerang temannya. Meskipun emosi dan urgensinya kuat, penggambaran respons karakter lain yang menyepelekan kekhawatirannya terasa terlalu dibuat-buat, sedikit mengurangi dampak emosional dari subplot ini.

Kendrick sendiri sebagai Sheryl memberikan salah satu performa terbaiknya, terutama dalam adegan-adegan yang menonjolkan ketegangan emosional di acara game show. Dia berhasil menghidupkan kecerdasan dan keberanian karakter ini, terutama ketika Sheryl mulai menyadari siapa sebenarnya Alcala. Momen-momen ini memberikan kedalaman pada film yang lebih dari sekadar kisah kriminal biasa.

Yang saya sukai dari Woman of the Hour adalah kemampuannya menangkap atmosfer era 70-an, termasuk kritik terhadap misogini di industri hiburan pada masa itu. Film ini menunjukkan bagaimana wanita sering kali harus menghadapi situasi yang penuh dengan bahaya hanya untuk mencari kesempatan. Kritik ini terasa relevan, bahkan di zaman sekarang.

Di sisi lain, saya merasa film ini agak terlalu bergantung pada flashback untuk menceritakan kisah Alcala. Meskipun beberapa adegan flashback berhasil memperkuat ketegangan, ada beberapa yang terasa mengganggu alur utama. Hal ini membuat film tampak sedikit terputus-putus, meskipun tidak sampai menghilangkan daya tariknya.

Sebagai debut penyutradaraan, Kendrick menunjukkan potensi besar. Dia jelas belajar banyak dari pengalamannya sebagai aktris, dan itu terlihat dari cara dia membangun karakter dan cerita yang kompleks. Tapi, ada ruang untuk perbaikan, terutama dalam menjaga keseimbangan narasi.

Secara keseluruhan, Woman of the Hour adalah film yang berani dan menggugah. Meski bukan tanpa kekurangan, film ini memberikan pandangan mendalam tentang kekuatan, ketakutan, dan manipulasi di tengah masyarakat patriarkal. Saya mematikan layar Netflix saya dengan perasaan yang bercampur—kagum pada eksekusinya, tetapi juga teringat akan kengerian nyata dari kisah yang diangkat.

Film ini mungkin tidak untuk semua orang, tetapi jika Anda menyukai thriller berbasis kisah nyata dengan elemen sosial yang kuat, Woman of the Hour patut Anda tonton. Anna Kendrick berhasil membuktikan dirinya lebih dari sekadar aktris, tetapi juga sutradara berbakat dengan masa depan cerah.

Rate: 7 - 7.5/10

Komentar