Ulasan Film My Old Ass (2024): Perjalanan Reflektif yang Penuh Humor dan Kehangatan

Jujur saja, saya merasa terhibur oleh premis unik yang ditawarkan film My Old Ass (2024) ini. Disutradarai oleh Megan Park, film ini mengisahkan Elliott, seorang remaja 18 tahun yang, setelah mengonsumsi jamur psikedelik, bertemu dengan dirinya yang berusia 39 tahun. Pertemuan ini membawa Elliott muda pada perjalanan reflektif tentang kehidupan dan pilihan-pilihan yang akan membentuk masa depannya.

Maisy Stella, dalam debut filmnya, memerankan Elliott muda dengan energi dan keaslian yang memikat. Sementara itu, Aubrey Plaza sebagai Elliott dewasa menambahkan sentuhan humor sarkastik yang khas, memberikan dinamika menarik dalam interaksi mereka. Kombinasi keduanya menciptakan chemistry yang kuat, membuat hubungan antara dua versi karakter ini terasa nyata dan menyentuh.

Salah satu aspek yang menonjol dari film ini adalah eksplorasi tema coming-of-age yang dipadukan dengan elemen fiksi ilmiah ringan. Pertemuan antara Elliott muda dan dewasa memungkinkan penonton merenungkan keputusan-keputusan hidup dan dampaknya di masa depan. Meskipun konsep ini bukan hal baru, pendekatan yang diambil film ini terasa segar dan relevan.

Namun, ada beberapa bagian di mana alur cerita terasa lambat, dan beberapa subplot tampak kurang berkembang. Saya merasa bahwa film ini tidak sepenuhnya memanfaatkan potensinya, dengan beberapa kesempatan yang terlewatkan untuk menggali lebih dalam emosi dan konflik yang ada.


Dari segi sinematografi, film ini berhasil menangkap keindahan latar pedesaan, memberikan nuansa hangat yang mendukung narasi. Penggunaan pencahayaan alami dan pengambilan gambar yang intim menambah kedalaman emosional pada cerita, membuat penonton merasa lebih terhubung dengan perjalanan Elliott.

Salah satu kekuatan utama film ini adalah dialognya yang cerdas dan penuh humor. Pertukaran kata antara Elliott muda dan dewasa seringkali lucu, namun tetap sarat makna, mencerminkan perbedaan perspektif antara usia remaja dan dewasa. Humor yang disajikan berhasil menyeimbangkan momen-momen emosional, menjaga ritme film tetap menarik.

Meskipun demikian, beberapa elemen cerita terasa klise dan dapat diprediksi. Beberapa penonton mungkin merasa bahwa film ini mengikuti formula standar dari genre coming-of-age tanpa menawarkan sesuatu yang benar-benar baru atau mengejutkan. Hal ini membuat beberapa bagian cerita terasa kurang menantang.

Secara keseluruhan, "My Old Ass" adalah film yang menghibur dengan pesan yang menyentuh tentang pertumbuhan dan refleksi diri. Meskipun tidak sempurna, film ini menawarkan pengalaman menonton yang menyenangkan dengan penampilan solid dari para pemainnya. Bagi penggemar genre coming-of-age dengan sentuhan fiksi ilmiah, film ini layak untuk ditonton.

Rate: 7/10

Komentar