Ulasan Film The Substance (2024): Sebuah Alegori Mengerikan Tentang Obsesi Akan Kesempurnaan


The Substance (2024), karya terbaru Coralie Fargeat yang memadukan satir tajam dengan horor tubuh yang grotesk. Film ini terasa seperti tamparan keras terhadap obsesi masyarakat modern pada kecantikan dan pemuda abadi, dengan Demi Moore dan Margaret Qualley memberikan performa yang benar-benar luar biasa.

Film ini mengisahkan Elisabeth Sparkle (Demi Moore), seorang selebriti yang menggunakan serum misterius bernama "The Substance" demi memulihkan kejayaan dan kecantikannya. Serum ini menciptakan versi muda Elisabeth dalam wujud Sue (Margaret Qualley), tetapi dengan aturan yang sangat mengikat: mereka harus bergantian hidup setiap tujuh hari. Ketegangan semakin memuncak saat konflik internal antara keduanya mencerminkan pertempuran antara penerimaan diri dan tuntutan sosial akan kesempurnaan.

Dari segi visual, The Substance benar-benar mencolok. Penggunaan pencahayaan dingin dan atmosfer yang steril menonjolkan perbedaan antara kemewahan Hollywood dan mimpi buruk transformasi Elisabeth. Sinematografi Benjamin Kracun membangun suasana yang intim dan mencekam, dengan close-up yang menyayat untuk menunjukkan rasa terkurung dan putus asa Elisabeth saat tubuhnya perlahan hancur.

Efek praktis dalam film ini patut diacungi jempol. Transformasi fisik Elisabeth dan Sue digambarkan dengan detail mengerikan yang membuat penonton merinding. Kostum dan tata riasnya pun berhasil menciptakan kesan antara surreal dan realisme horor yang mencekam, menguatkan pesan film tentang harga yang harus dibayar demi kesempurnaan.

Salah satu kekuatan utama film ini adalah satir sosialnya. Coralie Fargeat mengkritik tajam bagaimana Hollywood meminggirkan wanita yang menua, melalui karakter Harvey (Dennis Quaid), seorang produser yang menjadi perwujudan eksploitasi kejam industri hiburan. Dengan cara yang gelap dan kadang absurd, The Substance menunjukkan betapa brutalnya standar kecantikan yang dipaksakan kepada perempuan.


Demi Moore memerankan Elisabeth dengan emosi yang mentah dan kompleksitas yang menyentuh. Dalam satu adegan, Elisabeth berdiri di depan cermin, mencoba menyempurnakan penampilannya, tetapi justru menunjukkan kebencian terhadap dirinya sendiri. Momen ini menjadi inti emosional film, mencerminkan rasa tidak puas yang akrab bagi banyak orang.

Margaret Qualley sebagai Sue adalah kebalikannya: energik, menggoda, dan penuh kehidupan. Dinamika antara kedua karakter ini membawa konflik yang intens, menggambarkan benturan antara idealisasi dan kenyataan yang menyakitkan. Penampilan Qualley benar-benar mencuri perhatian, menambah dimensi pada tema film.

Dengan skor musik Raffertie yang menegangkan dan sinematik, setiap adegan terasa lebih emosional dan mendalam. Musiknya berpadu sempurna dengan visual dan cerita, mempertegas suasana mencekam dan kehancuran psikologis Elisabeth.

Sebagai sebuah film horor satir, The Substance berhasil memberikan pengalaman yang unik dan menggugah. Film ini meninggalkan kesan yang sulit dilupakan, baik melalui visualnya yang memikat maupun pesan tentang dampak destruktif dari obsesi pada kesempurnaan. The Substance mengingatkan kita bahwa harga dari mengejar keindahan mungkin jauh lebih mahal dari yang kita kira.

Rate: 7.5 - 8.5 / 10

Komentar