Langsung ke konten utama

Ulasan Film The Accountant 2 (2025): Aksi Mendebarkan dengan Sentuhan Emosional


Film The Accountant 2 (2025) hadir sebagai sekuel yang dinanti-nanti dari film aksi thriller populer tahun 2016. Disutradarai oleh Gavin O’Connor, film ini kembali membawa Ben Affleck sebagai Christian Wolff, seorang akuntan jenius dengan spektrum autisme yang memiliki kehidupan ganda sebagai pembunuh bayaran. Film ini menawarkan perpaduan aksi intens, chemistry emosional antar karakter, dan plot twist yang cukup memikat, meski tidak luput dari beberapa kekurangan. 

The Accountant 2 melanjutkan kisah Christian Wolff, seorang akuntan dengan kemampuan analisis luar biasa dan keterampilan tempur mematikan. Kali ini, Christian terseret ke dalam kasus pembunuhan misterius setelah seorang kenalan lamanya, mantan Direktur FinCEN Raymond King (J.K. Simmons), tewas dengan pesan samar: “Temukan sang akuntan.” Bersama agen Marybeth Medina (Cynthia Addai-Robinson) dan saudaranya, Braxton Wolff (Jon Bernthal), Christian menggali konspirasi berbahaya yang melibatkan jaringan kriminal internasional. Perjalanan ini tidak hanya menguji kecerdasan Christian, tetapi juga membawa dinamika emosional kakak-adik yang menjadi inti cerita.

Alur cerita film ini bergerak cepat dengan ritme yang dinamis, menggabungkan aksi tembak-menembak, bela diri, dan investigasi penuh teka-teki. Sentuhan komedi ringan dan momen keluarga yang hangat memberikan keseimbangan, membuat film berdurasi 2 jam 12 menit ini terasa singkat dan menghibur.

Salah satu kekuatan utama The Accountant 2 adalah chemistry antara Ben Affleck dan Jon Bernthal sebagai Christian dan Braxton. Dinamika kakak-adik mereka, yang penuh dengan candaan, pertengkaran ringan, dan momen haru, menjadi jantung emosional film ini. Affleck berhasil memerankan Christian dengan kekikukan khas akibat autisme, sementara Bernthal membawa energi impulsif sebagai Braxton yang brutal namun peduli. Adegan seperti obrolan santai di atap trailer atau candaan tentang masa kecil mereka mampu mengundang tawa dan membuat penonton terhubung dengan karakternya.

Aksi dalam film ini juga patut diacungi jempol. Adegan tembak-menembak dirancang dengan intensitas tinggi dan koreografi yang rapi. Penggunaan efek sinematik dan CGI mendukung ketegangan, menciptakan visual yang realistis dan mendebarkan. Plot twist yang disusun dengan cerdas, terutama menjelang akhir cerita, sukses memberikan kejutan tanpa terasa dipaksakan. Kehadiran karakter baru seperti Anaïs (Daniella Pineda), seorang pembunuh bayaran misterius, menambah lapisan intrik dalam cerita.

Sentuhan komedi dan romansa ringan juga menjadi nilai tambah. Humor yang muncul dari interaksi Christian dan Braxton terasa alami, sementara elemen romansa yang disisipkan memberikan keseimbangan agar cerita tidak terlalu berat. Secara keseluruhan, film ini berhasil menghibur dengan pendekatan yang lebih ringan dibandingkan pendahulunya, tanpa kehilangan esensi thriller.

Meski memiliki banyak kelebihan, The Accountant 2 tidak sepenuhnya sempurna. Salah satu kelemahan utama adalah alur cerita yang terkadang terasa berantakan. Pengenalan beberapa karakter, seperti Anaïs, bisa membingungkan penonton. Karakter ini seperti dipaksakan ada untuk menambah plot, itupun tak selalu berhasil dengan baik. Transisi antar adegan juga kadang terasa kurang mulus, membuat benang merah cerita sedikit tersendat.

Karakter pendukung seperti Marybeth Medina kurang mendapatkan sorotan yang layak. Di film pertama, Medina memiliki peran signifikan sebagai agen FBI, tetapi di sekuel ini, ia lebih berfungsi sebagai pemicu plot daripada karakter yang berkembang. Hal ini membuat kehadirannya terasa kurang bermakna. Selain itu, fokus pada elemen aksi kadang mengorbankan kedalaman profesi Christian sebagai akuntan, yang menjadi daya tarik utama di film pertama. Representasi autisme Christian juga terasa kurang dieksplorasi secara mendalam, lebih condong sebagai alat naratif untuk aksi daripada karakteristik manusiawi.

Dari sisi teknis, The Accountant 2 menunjukkan kualitas produksi yang solid. Sinematografi karya Seamus McGarvey menghadirkan visual yang tajam, dengan pengambilan gambar yang memperkuat intensitas adegan aksi dan atmosfer kelam konspirasi. Penggunaan pencahayaan dalam adegan malam atau pertarungan jarak dekat sangat efektif menciptakan ketegangan. Editing film juga cukup rapi, meskipun beberapa transisi antar adegan bisa lebih halus untuk menjaga alur tetap koheren.

The Accountant 2 sukses menghadirkan hiburan yang solid dengan aksi mendebarkan, chemistry kakak-adik yang kuat, dan plot twist yang menarik. Namun, alur yang kadang berantakan dan kurangnya pengembangan karakter pendukung membuatnya tidak mencapai potensi maksimalnya. Film ini cocok untuk penggemar aksi thriller yang menginginkan kombinasi ketegangan, humor, dan drama keluarga, tetapi mungkin kurang memuaskan bagi mereka yang mengharapkan eksplorasi mendalam tentang profesi akuntan atau representasi autisme.

Bagi yang belum menonton film pertama, cerita tetap bisa dinikmati, meski latar belakang Christian dan Braxton akan lebih kaya jika Anda sudah familiar dengan prekuelnya. Dengan durasi yang tidak terasa panjang dan ritme yang dinamis, film ini layak menjadi pilihan untuk penggemar genre aksi.

Kesimpulan

The Accountant 2 (2025) adalah sekuel yang menghibur dengan aksi intens, chemistry kakak-adik yang memikat, dan sentuhan komedi yang pas. Meski alur cerita kadang tersendat dan beberapa karakter kurang tergali, film ini tetap menawarkan pengalaman sinematik yang menyenangkan. Film ini menjadi tontonan wajib bagi penggemar Ben Affleck, Jon Bernthal, atau thriller aksi yang tidak terlalu berat. Jika Anda mencari film yang memadukan ketegangan, tawa, dan drama keluarga, The Accountant 2 adalah pilihan yang tepat.

Rate: 7.5/10

Komentar