Film ini mengisahkan Kaalidhar (Abhishek Bachchan), seorang pria paruh baya yang tinggal di sebuah kota kecil di India Utara bersama keluarganya. Sebagai kakak tertua, ia telah mengorbankan banyak hal untuk adik-adiknya setelah kematian orang tua mereka. Namun, ketika Kaalidhar didiagnosis menderita gangguan memori—kemungkinan demensia atau Alzheimer—keluarganya mulai memandangnya sebagai beban. Adik-adiknya, yang didorong oleh keserakahan untuk menguasai properti Kaalidhar, merencanakan untuk membuangnya di Kumbh Mela, sebuah festival keagamaan besar di Prayagraj. Setelah mengetahui rencana jahat ini, Kaalidhar melarikan diri dan akhirnya bertemu Ballu (Daivik Baghela), seorang anak yatim berusia delapan tahun yang cerdas dan penuh semangat. Bersama, mereka memulai petualangan untuk menjalani daftar keinginan Kaalidhar, menjalin ikatan yang hangat dan penuh makna.
Salah satu kekuatan utama Kaalidhar Laapata adalah performa akting yang memukau dari Abhishek Bachchan dan Daivik Baghela. Abhishek menghidupkan karakter Kaalidhar dengan penuh kepekaan, menampilkan kerentanan dan kekuatan batin melalui ekspresi wajah dan bahasa tubuh yang subtil. Dalam beberapa adegan emosional, seperti saat Kaalidhar menyadari pengkhianatan keluarganya, Abhishek berhasil membuat penonton merasakan kepedihan karakternya tanpa perlu dialog berlebihan. Daivik Baghela, sebagai Ballu, adalah kejutan yang menyenangkan. Meski masih muda, ia mampu menampilkan kedalaman emosi dan kecerdasan alami yang membuat karakternya begitu hidup. Chemistry antara keduanya menjadi tulang punggung film, menghadirkan momen-momen hangat yang terasa autentik, seperti saat mereka berdiskusi tentang mimpi-mimpi sederhana Kaalidhar.
Selain akting, film ini juga unggul dalam menyampaikan tema-tema universal seperti pengkhianatan, kesepian, dan pentingnya hubungan antar manusia. Cerita ini mengingatkan kita bahwa kebahagiaan sering kali ditemukan di tempat yang tidak terduga, bahkan di tengah kesulitan. Penggambaran pedesaan India Utara, dengan pasar yang ramai dan kuil yang tenang, menambah kekayaan visual yang mendukung suasana cerita. Musik latar karya Amit Trivedi juga patut diapresiasi karena sifatnya yang minimalis namun efektif, memperkuat emosi tanpa mengganggu alur narasi.
Namun, salah satu masalah utama film ini adalah alur cerita yang terasa lambat, terutama di bagian tengah film. Beberapa adegan terasa repetitif, seperti petualangan Kaalidhar dan Ballu yang seharusnya bisa dipersingkat untuk menjaga ritme. Penyakit memori Kaalidhar juga digambarkan secara inkonsisten; di beberapa momen, ia tampak sangat bingung, tetapi di momen lain, ia mampu membuat keputusan yang cukup rasional. Inkonsistensi ini mengurangi kedalaman karakter dan membuat penonton bertanya-tanya tentang sejauh mana kondisinya memengaruhi cerita.
Penulisan karakter pendukung juga terasa kurang mendalam. Adik-adik Kaalidhar, misalnya, digambarkan sebagai antagonis yang serakah tanpa diberi latar belakang yang cukup untuk menjelaskan motivasi mereka. Karakter Subodh (Mohammed Zeeshan Ayyub), seorang petugas yang mencari Kaalidhar, memiliki potensi menarik tetapi kurang dieksplorasi. Selain itu, kemunculan Nimrat Kaur sebagai cinta masa lalu Kaalidhar terasa seperti tambahan yang kurang organik, lebih seperti elemen wajib dalam film Hindi daripada bagian yang benar-benar relevan dengan cerita.
Dari segi teknis, sinematografi oleh Gairik Sarkar berhasil menangkap esensi pedesaan India dengan indah. Adegan-adegan di Kumbh Mela, dengan kerumunan besar dan warna-warni festival, memberikan kontras yang kuat dengan momen-momen tenang di desa Bhojpur. Penggunaan cahaya alami dan sudut kamera yang sederhana membuat film ini terasa autentik. Namun, beberapa transisi antaradegan terasa kurang mulus, yang mungkin disebabkan oleh editing yang tidak cukup ketat.
Musik latar, seperti yang telah disebutkan, adalah salah satu elemen yang memperkuat emosi film. Lagu-lagu yang digunakan, mampu menciptakan suasana yang sesuai dengan nada cerita.
Kaalidhar Laapata adalah film yang berhasil menyentuh hati melalui chemistry kuat antara Abhishek Bachchan dan Daivik Baghela, serta tema-tema emosional yang relevan. Meski alur lambat dan beberapa inkonsistensi dalam penulisan menghambat potensinya, film ini tetap layak ditonton bagi mereka yang menyukai drama keluarga dengan sentuhan humanis. Film ini adalah pengingat bahwa bahkan di tengah kesulitan, ikatan antar manusia bisa menjadi sumber harapan. Cocok untuk penonton yang ingin merasakan perjalanan emosional yang sederhana namun bermakna.
Rate: 7-7,5/10
Apakah kamu sudah menonton Kaalidhar Laapata? Bagikan pendapatmu di kolom komentar!
Komentar
Posting Komentar