Kisah Lilo & Stitch masih berpusat pada Lilo, seorang anak perempuan penyendiri di Hawaii yang tinggal bersama kakaknya, Nani, setelah kehilangan kedua orang tua mereka. Lilo yang eksentrik dan penuh imajinasi bertemu dengan Stitch, makhluk alien hasil eksperimen genetika yang mendarat di Bumi setelah kabur dari hukuman di planetnya. Awalnya, Stitch adalah “mesin penghancur” yang liar, tapi kehadiran Lilo mengajarkannya tentang cinta, keluarga, dan penerimaan. Inti cerita ini tetap setia pada pesan legendaris: “Ohana means family. Family means nobody gets left behind or forgotten.”
Alur ceritanya sederhana namun penuh emosi. Film ini berhasil menangkap dinamika kakak-adik antara Lilo dan Nani yang penuh konflik tapi juga kasih sayang. Ada momen-momen menyentuh, seperti ketika Lilo merasa terasing atau saat Stitch mulai memahami makna keluarga. Babak ketiga film ini menawarkan kejutan emosional yang lebih matang dibandingkan versi animasi, dengan penekanan pada tema kehilangan dan penerimaan. Namun, sayangnya, tempo cerita terasa agak lambat di awal, membuat beberapa bagian terasa kurang dinamis untuk film keluarga yang seharusnya penuh energi.
Salah satu daya tarik utama film ini adalah penggunaan teknologi CGI untuk menghidupkan Stitch dan karakter alien lainnya, seperti Dr. Jumba Jookiba dan Agent Pleakley. Stitch tampil sangat realistis dengan bulu lembut, mata besar penuh ekspresi, dan gerakan yang lincah. Detail tekstur dan ekspresi wajahnya membuatnya tetap menggemaskan, meski sedikit berbeda dari gaya kartun aslinya. Efek visual untuk latar Hawaii juga memanjakan mata, dengan pantai-pantai yang indah dan suasana tropis yang terasa hidup.
Namun, di balik kecanggihan teknis ini, ada sedikit kehilangan pesona. Versi animasi dulu terasa begitu bebas dan anarkis, dengan interaksi Lilo dan Stitch yang penuh kekacauan ceria. Dalam versi live-action, interaksi mereka terasa lebih “teratur” dan kurang liar. Ini membuat film kehilangan sebagian energi spontan yang jadi ciri khas aslinya. Selain itu, absennya lagu ikonik seperti “Can’t Help Falling in Love” versi F4 di momen-momen kunci terasa seperti kehilangan besar, meski soundtrack lain seperti “Hawaiian Roller Coaster Ride” tetap hadir untuk membangkitkan nostalgia.
Maia Kealoha sebagai Lilo benar-benar mencuri perhatian. Aktingnya terasa alami, berhasil menangkap sifat lincah, emosional, dan sedikit “aneh” dari karakter Lilo. Chemistry-nya dengan Sydney Elizabeth Agudong, yang memerankan Nani, terasa autentik dan mengharukan, menggambarkan hubungan kakak-adik yang penuh dinamika. Chris Sanders, yang kembali mengisi suara Stitch, juga berhasil mempertahankan pesona karakter alien ini dengan nada tinggi dan aksen lucu yang khas.
Para pemeran pendukung, seperti Zach Galifianakis sebagai Dr. Jumba dan Billy Magnussen sebagai Agent Pleakley, membawa humor slapstick yang segar. Kombinasi akting solid dan visual CGI yang ciamik membuat film ini tetap menyenangkan untuk ditonton, terutama untuk keluarga dan penggemar lama. Budaya Hawaii yang kental, dari tarian hula hingga latar pantai, juga jadi nilai tambah yang memperkaya pengalaman menonton.
Meski punya banyak kelebihan, film ini terasa kurang greget di beberapa aspek. Pertama, pendekatan yang lebih “realistis” membuat film ini kehilangan sebagian keajaiban kartunnya. Interaksi Lilo dan Stitch yang seharusnya penuh kekacauan terasa agak terkendali, sehingga kurang menghasilkan momen-momen ikonik yang meledak-ledak seperti di versi animasi. Beberapa adegan klasik juga diubah atau dihilangkan, yang mungkin mengecewakan penggemar setia.
Kedua, meski babak ketiga cukup emosional, film ini terasa kurang berani mengambil risiko untuk menghadirkan sesuatu yang benar-benar baru. Banyak elemen cerita terasa aman dan mengikuti formula remake Disney lainnya, sehingga tidak ada kejutan besar yang membuatnya benar-benar menonjol. Bagi penonton baru, ini mungkin bukan masalah, tapi bagi yang sudah jatuh cinta dengan versi 2002, film ini mungkin terasa seperti “kembar tak identik” yang sedikit kurang berjiwa.
Lilo & Stitch (2025) adalah remake yang berhasil membawa kembali pesona kisah keluarga dan persahabatan dengan sentuhan modern. Visual CGI yang memukau, akting yang natural, dan tema ohana yang kuat membuatnya cocok untuk ditonton bersama keluarga. Namun, dengan pendekatan yang terlalu hati-hati dan hilangnya beberapa elemen ikonik, film ini tidak sepenuhnya mampu menandingi energi dan keajaiban versi aslinya.
Rate: 6,5/10
Jika kamu penggemar Lilo & Stitch atau ingin tontonan ringan yang penuh makna, film ini layak masuk daftar tontonanmu. Tapi, jangan harapkan ledakan emosi atau inovasi besar yang akan mengubah pandanganmu tentang kisah klasik ini. Apakah kamu sudah menontonnya? Bagikan pendapatmu di kolom komentar!
Komentar
Posting Komentar