Ulasan Film How to Train Your Dragon (2025): Persahabatan Epik dalam Balutan Visual Megah


Film How to Train Your Dragon (2025) membawa kembali petualangan epik Hiccup dan Toothless dalam format live-action yang dinanti-nantikan. Disutradarai oleh Dean DeBlois, yang juga menggarap trilogi animasi aslinya, film ini menghidupkan dunia Viking dan naga dengan pendekatan visual yang lebih realistis. 

How to Train Your Dragon (2025) mengisahkan Hiccup Horrendous Haddock III (Mason Thames), seorang remaja Viking dari desa Berk yang dianggap lemah oleh sukunya yang gemar berperang melawan naga. Di tengah budaya yang memusuhi naga, Hiccup justru menjalin ikatan dengan Toothless, seekor Night Fury yang langka dan misterius. Bersama, mereka menantang tradisi dan membuktikan bahwa manusia dan naga bisa hidup berdampingan. Dengan bantuan Astrid (Nico Parker) dan dukungan dari ayahnya, Stoick the Vast (Gerard Butler), Hiccup menghadapi ancaman besar yang menguji keberanian dan visinya untuk perdamaian.

Cerita ini tetap setia pada versi animasi 2010, dengan beberapa penyesuaian untuk memperkaya pengalaman live-action. Durasi film yang mencapai 2 jam 5 menit memberikan ruang untuk eksplorasi emosional yang lebih mendalam, meski beberapa momen terasa sedikit memanjang.

Kelebihan Film: Visual Memukau dan Emosi yang Kuat

1. Visual dan CGI yang Mengesankan

Salah satu daya tarik utama film ini adalah kualitas visualnya. Teknologi CGI yang digunakan untuk menghidupkan Toothless dan naga lainnya terasa sangat realistis. Gerakan halus, ekspresi wajah Toothless yang penuh karakter, hingga tekstur sisiknya membuat naga ini terasa seperti makhluk hidup. Sinematografi oleh Bill Pope juga patut diacungi jempol. Pemandangan Pulau Berk yang kasar namun indah, ditambah dengan adegan terbang yang dinamis, menciptakan pengalaman visual yang memanjakan mata. Adegan ikonik seperti Hiccup dan Toothless terbang melintasi langit malam benar-benar memukau, menangkap keajaiban yang membuat versi animasi begitu dicintai.

2. Kekuatan Emosional Hiccup dan Toothless

Jantung cerita ini adalah hubungan antara Hiccup dan Toothless. Mason Thames berhasil menghidupkan Hiccup dengan sisi canggung namun penuh tekad, menjadikannya protagonis yang relatable. Interaksi antara Hiccup dan Toothless, terutama pada momen-momen tenang seperti saat mereka pertama kali bertemu, penuh dengan kehangatan dan kepekaan. Film ini berhasil menyampaikan pesan tentang keberanian, penerimaan, dan pengorbanan tanpa terasa menggurui.

3. Pemeran Pendukung yang Solid

Nick Frost sebagai Gobber the Belch mencuri perhatian dengan humor dan kehangatan yang alami. Gerard Butler, kembali sebagai Stoick, memberikan performa yang kuat dan emosional, memperkuat dinamika ayah-anak dengan Hiccup. Nico Parker sebagai Astrid juga menonjol, meski karakternya terasa kurang mendapat sorotan dibandingkan versi animasi.

Kekurangan Film: Terlalu Setia pada Aslinya?

1. Kurangnya Inovasi dalam Cerita

Meski kesetiaan pada versi animasi adalah kekuatan, ini juga menjadi kelemahan. Film ini hampir sepenuhnya menyalin alur cerita, dialog, hingga sudut kamera dari film 2010. Bagi penggemar lama, ini bisa memicu nostalgia, tetapi juga menciptakan rasa déjà vu yang sedikit mengurangi kejutan. Penambahan karakter baru seperti Phlegma (Ruth Codd) memberikan sedikit kesegaran, tetapi dampaknya tidak signifikan terhadap alur utama.

2. Pacing yang Sedikit Tersendat

Durasi tambahan 27 menit dibandingkan versi animasi dimanfaatkan untuk memperdalam karakter, tetapi beberapa adegan terasa memanjang tanpa menambah nilai substansial. Misalnya, beberapa momen di awal film terasa lambat, terutama saat memperkenalkan konflik di Berk. Ini membuat ritme film sedikit tersendat, terutama bagi penonton yang sudah familiar dengan ceritanya.

Aspek Teknis: Produksi Kelas Atas

Dari segi teknis, How to Train Your Dragon (2025) adalah pencapaian luar biasa. Soundtrack karya John Powell, yang juga mengisi trilogi animasi, kembali hadir dengan komposisi yang epik dan emosional, meski beberapa lagu terasa terlalu mirip dengan aslinya. Desain produksi, termasuk kostum Viking dan detail lingkungan Berk, menciptakan dunia yang imersif. Efek suara, terutama untuk naga, menambah intensitas pada adegan aksi. Penggunaan teknologi motion-capture untuk naga juga patut diapresiasi, karena berhasil menangkap nuansa emosional Toothless dengan sempurna.

Kesimpulan: Remake yang Memikat 

How to Train Your Dragon (2025) adalah remake live-action yang sukses menghidupkan kembali kisah klasik dengan visual megah dan emosi yang kuat. Hubungan Hiccup dan Toothless tetap menjadi inti cerita yang menyentuh hati, didukung oleh performa akting yang solid dan produksi teknis kelas atas. Namun, kesetiaan berlebihan pada versi animasi dan beberapa masalah pacing membuat film ini kehilangan sedikit urgensi dan kejutan. Film ini adalah tontonan wajib bagi penggemar lama dan penonton baru yang mencari petualangan epik dengan pesan mendalam tentang persahabatan dan keberanian.

Rate: 8-8,5/10

Informasi Tambahan

  • Sutradara: Dean DeBlois
  • Pemeran Utama: Mason Thames, Nico Parker, Gerard Butler, Nick Frost
  • Durasi: 2 jam 5 menit
  • Tanggal Rilis: 13 Juni 2025 (AS), 11 Juni 2025 (Indonesia)
  • Genre: Petualangan, Fantasi, Keluarga

Apakah Anda sudah menonton How to Train Your Dragon (2025)? Bagikan pendapat Anda di kolom komentar! Untuk informasi lebih lanjut tentang film ini, kunjungi IMDb.


Komentar