Film ini mengisahkan Norma (Tissa Biani), seorang wanita pendiam yang menikah dengan cinta pertamanya, Irfan (Yusuf Mahardika). Rumah tangga mereka tampak harmonis, apalagi Irfan dikenal sebagai suami yang perhatian dan bahkan berbakti pada mertuanya, Abdul (Rukman Rosadi) dan Rina (Wulan Guritno). Namun, di balik fasad kebahagiaan itu, sebuah pengkhianatan besar terungkap. Norma harus menghadapi kenyataan pahit bahwa Irfan berselingkuh dengan Rina, ibu kandungnya sendiri. Konflik ini tidak hanya menghancurkan pernikahan Norma, tapi juga hubungan ibu-anak yang selama ini baik-baik saja. Bagaimana Norma menghadapi luka ini? Dan apa yang mendorong Rina dan Irfan melakukan pengkhianatan yang begitu di luar nalar?
Satu hal yang langsung mencuri perhatian adalah kekuatan emosional film ini. Kisahnya yang diambil dari peristiwa nyata membuat penonton seolah-olah ikut merasakan kepedihan Norma. Adegan-adegan intim yang samar-samar, seperti pertemuan rahasia di warung mi ayam atau momen penggerebekan di kontrakan, disajikan dengan intensitas yang baik. Sutradara Guntur Soeharjanto berhasil membangun ketegangan secara bertahap, seolah-olah kita sedang mengintip rahasia keluarga yang tak seharusnya terbongkar.
Akting para pemain menjadi pilar utama film ini. Tissa Biani sebagai Norma mampu menampilkan kerapuhan seorang istri yang dikhianati. Sorot matanya penuh luka, dan ekspresinya saat mengetahui pengkhianatan itu begitu nyata. Wulan Guritno, di sisi lain, mencuri perhatian sebagai Rina. Ia memerankan karakter yang kompleks—seorang ibu yang kesepian namun membuat keputusan fatal—dengan begitu meyakinkan. Wulan berhasil membuat penonton benci sekaligus iba pada karakternya. Yusuf Mahardika sebagai Irfan juga patut diacungi jempol. Ia bukan tipikal pria charming, melainkan suami biasa yang justru membuat pengkhianatannya terasa lebih menyakitkan karena begitu dekat dengan realitas.
Aspek sinematografi juga jadi kelebihan. Ada adegan yang begitu membekas, seperti saat kamera menangkap kamar Norma dan Irfan bersebelahan dengan kamar Rina, dipisahkan oleh tone warna kontras. Ini bukan hanya pemisahan fisik, tapi juga simbol jarak emosional yang kian melebar. Pencahayaan dan musik latar digunakan dengan cerdas untuk memperkuat emosi, terutama di momen-momen klimaks yang bikin penonton bergidik.
Salah satu kekurangan yang cukup terasa pada film ini adalah ritme cerita yang kadang terasa lambat, membuat emosi penonton yang tadinya terbangun jadi sedikit redup. Penulis naskah, Oka Aurora, memang berusaha memberikan lapisan psikologis pada karakter, tapi kadang terasa berlebihan, seolah ingin menjelaskan terlalu banyak alasan di balik pengkhianatan itu. Akibatnya, fokus pada konflik utama jadi sedikit teralihkan.
Selain itu, penyelesaian cerita di bagian penutup terasa kurang memuaskan. Resolusi yang diberikan untuk karakter-karakter utama terkesan terburu-buru, seolah ingin memberikan akhir yang rapi tapi kurang mendalam. Misalnya, alasan di balik ketertarikan Irfan pada Rina terasa kurang tergali, membuat penonton bertanya-tanya apa yang sebenarnya mendorong hubungan terlarang itu, yang kalau dihubungkan dengan kisah aslinya yang viral, ternyata ada sedikit perbedaan.
Dari sisi teknis, sinematografi jadi salah satu bintangnya. Penggunaan warna dan komposisi visual membantu memperkuat suasana emosional, seperti saat adegan di warung mi ayam yang terasa intim namun penuh ketegangan. Editing juga cukup baik, sehingga film cukup enak untuk ditonton sampai habis meski secara cerita, untuk ukuran layar lebar, sedikit terlalu sinetronis.
Norma: Antara Mertua dan Menantu adalah film yang berhasil mengaduk emosi penonton dengan kisah pengkhianatan yang begitu personal. Akting Tissa Biani, Wulan Guritno, dan Yusuf Mahardika jadi kekuatan utama, ditopang oleh sinematografi yang memikat. Namun, ritme cerita yang tersendat, dan penyelesaian yang kurang mendalam, membuat film ini tidak mencapai potensi maksimalnya. Film ini cocok untuk kamu yang suka drama keluarga dengan konflik batin yang rumit, tapi jangan harapkan pengalaman yang benar-benar sempurna. Ini adalah kisah tentang mereka yang kita sayangi, yang ternyata paling mampu melukai.
Rate: 6-6,5/10
Apakah kamu sudah menonton film ini? Atau mungkin punya pengalaman serupa yang bikin kamu relate dengan Norma? Tulis pendapatmu di kolom komentar, ya!
Komentar
Posting Komentar