Ulasan Anime Dandadan Season 2 (2025): Ledakan Kreativitas yang Diimbangi Ritme Cerita

Meski tidak lagi memiliki kejutan elementer seperti musim pertamanya, Dandadan Season 2 hadir dengan keyakinan penuh akan identitasnya. Alih-alih sekadar repetisi, season ini memilih untuk mengerem sedikit laju aksi dan mendalami hubungan antarkarakter, membangun fondasi yang kokoh untuk petualangan yang lebih besar di masa mendatang. 

Dandadan Season 2 melanjutkan langsung cliffhanger dari musim pertama. Momo, Okarun, dan Jiji terjebak dalam konspirasi keluarga Kito yang melakukan ritual pengorbanan untuk "dewa ular" mereka di rumah yang ditempati Jiji. Mereka kemudian harus menghadapi ancaman berlapis: dari Mongolian Death Worm raksasa yang mematikan di bawah tanah, hingga roh jahat Evil Eye yang akhirnya merasuki tubuh Jiji .

Setelah arc intensitas tinggi tersebut berakhir, cerita tidak serta-merta melompat ke konflik baru. Musim kedua meluangkan waktu untuk adegan-adegan slice of life yang memperkaya dinamika kelompok. Kita melihat perjuangan Jiji untuk mengendalikan Evil Eye dalam dirinya, sementara Okarun bertekad untuk menjadi lebih kuat. Bagian akhir musim kemudian memperkenalkan karakter baru, Kinta Sakata, dan membawa ancaman baru berupa Kaiju yang memaksa kelompok Momo dan Okarun untuk berpikir keras.

Inilah mungkin aspek paling kontroversial dari musim kedua. Dibandingkan musim pertama yang nyaris non-stop aksi, Season 2 memiliki laju cerita yang lebih lambat. Para sutradara, Fūga Yamashiro dan Abel Góngora, memilih untuk mengembangkan adegan-adegan yang dalam manga mungkin hanya berdurasi beberapa panel menjadi sequence utuh.

Kelebihan pendekatan ini adalah kita mendapatkan kedalaman karakter yang lebih baik. Hubungan Momo dan Okarun berkembang dengan natural, penuh dengan momen canggung dan manis yang membuat "ship" mereka semakin layak diperjuangkan. Jiji, yang di musim pertama bisa dibilang cukup datar, mendapatkan arc karakter yang sangat memuaskan, membuatnya berubah dari karakter sekunder yang agak mengesalkan menjadi salah satu tokoh paling simpatik.

Kekurangannya, bagi yang menantikan aksi spektakuler dari awal hingga akhir, pacing ini bisa terasa bertele-tele dan kurang "hype". Fokus yang besar pada pengembangan karakter dan romansa, meski dilakukan dengan baik, sedikit mengorbankan momentum cerita yang dibangun di awal arc.

Jika ada satu hal yang tidak perlu diragukan dari Dandadan Season 2, itu adalah kualitas presentasinya. Science SARU kembali membuktikan kenapa mereka adalah salah satu studio terbaik untuk proyek semacam ini.

  • Animasi yang Hidup dan Berani: Studio ini tidak takut bereksperimen dengan gaya visual yang berbeda-beda menyesuaikan cerita. Adegan flashback Evil Eye digarap dengan garis-garis kasar dan ekspresif yang mengingatkan pada karya Masaaki Yuasa, menciptakan nuansa muram dan penuh tekanan. Sementara itu, pertarungan melawan komposer hantu di Episode 8 ("You Can Do It, Okarun!") adalah mahakarya animasi yang hampir seluruhnya dalam skala abu-abu, dengan hanya aksen warna pada mata karakter dan serangan musik, menciptakan sequence yang unik dan tak terlupakan .

  • Warna dan Koreografi: Palet warna yang digunakan semakin berani. Dunia spiritual didominasi merah dan hitam, sementara alien membawa nuansa hijau. Evil Eye sendiri menghadirkan ledakan warna ungu listrik yang mendominasi setiap adegan yang dimasukinya. Koreografi pertarungan tetap luwes dan penuh energi, meski beberapa momen pertarungan fisik Okarun vs. Evil Eye disebutkan tidak se-spektakuler adegan lainnya.

  • Soundtrack yang Tepat Sasaran: Musik yang dikomposeri oleh Kensuke Ushio sekali lagi menjadi pilar penting. Dari beat elektronik untuk adegan slice of life, hingga hard rock untuk pertarungan, semuanya dipadukan dengan mulus. Penggunaan lagu heavy metal asli dari band fiksi "Hayashi" dalam adegan eksorsisme adalah salah satu highlight musim ini yang benar-benar epik. Lagu pembuka "On The Way" oleh AiNA THE END dan penutup "Doukashiteru" oleh WurtS juga adalah lagu catchy yang sukses menangkap inti dari musim ini. Arc Hayashi ini sukses menginspirasi saya untuk membuat 'Canon Rock' versi saya sendiri!

Dandadan Season 2 mungkin tidak memiliki ritme yang secepat dan sepadat musim pertamanya, tetapi itu adalah pilihan sadar yang dibuat dengan percaya diri. Musim ini mengorbankan sedikit "hype" untuk membangun fondasi emosional yang lebih dalam bagi para karakternya. Apa yang kita dapatkan adalah perkembangan hubungan yang lebih organik, karakter yang lebih tiga dimensi, dan beberapa momen animasi terbaik tahun ini.

Musim ini adalah sebuah prestasi visual yang luar biasa yang hanya sedikit terhambat oleh pacing yang tidak selalu konsisten. Ini adalah musim yang membuktikan bahwa Dandadan bukan sekadar anime aksi komedi biasa, tetapi sebuah saga tentang keluarga yang ditemukan, penerimaan, dan tentu saja, pencarian "bola" yang hilang, yang akan membuatmu terus kembali untuk menonton lebih banyak.

Rate: 7,5+/10

Komentar