Setelah separuh musim pertama yang menata panggung, Sakamoto Days kembali dengan Part 2 yang langsung menerjang layar kita seperti badai. Bagian kedua yang mencakup episode 12 hingga 22 ini tidak sekadar melanjutkan cerita, tetapi benar-benar mengubah dinamika dan elevasi serial ini. Saya pribadi melihatnya sebagai sebuah paket yang hampir solid, dengan peningkatan signifikan di beberapa aspek, meski masih menyisakan sedikit ruang untuk disempurnakan. Part 2 ini memilih untuk tidak lagi sekadar lucu-lucuan, dan justru menyelam lebih dalam ke dunia assassin yang penuh intrik dan bahaya.
Jika Part 1 banyak diwarnai kehidupan domestik Sakamoto yang berusaha menjalani hidup normal, Part 2 justru menggenggam erat identitas aslinya sebagai legenda dunia assassin. Cerita berpusat pada upaya Sakamoto dan timnya—Shin, Lu, dan Heisuke—menghadapi ancaman baru yang jauh lebih terstruktur dan mematikan: organisasi misterius pimpinan Slur (atau X). Ancaman ini tidak lagi datang dari pembunuh bayaran yang datang satu per satu, melainkan dari sebuah rencana besar yang ditujukan untuk menghancurkan Japanese Assassin Association (JAA). Perubahan nada cerita ini terasa jelas; dari komedi aksi ringan, serial ini berubah menjadi sebuah thriller aksi yang sarat dengan pertarungan brutal dan motif balas dendam.
Slur akhirnya diperkenalkan secara penuh, bukan sebagai penjahat yang cari perhatian, melainkan sebagai sosok dengan ideologi yang kuat yang ingin membersihkan dunia assassin yang ia anggap korup. Kehadirannya, bersama tangan kanannya, Gaku, langsung menaikkan level ancaman dalam cerita. Adegan pembantaian mereka di markas JAA dalam episode Slice Slice Dance adalah pernyataan bahwa mereka bukan lawan main-main. Alur kemudian bergerak dengan cepat ke arc infiltrasi Sakamoto dan Shin ke sekolah pelatihan assassin JCC (Japan Clear Creation), almamater Sakamoto sendiri. Bagian inilah yang menjadi tulang punggung utama Part 2. Ujian masuk JCC digambarkan sebagai sebuah pertarungan bebas tanpa senjata di mana para peserta boleh saling membunuh, menciptakan ketegangan dan aksi yang konsisten dari episode ke episode.
Di tengah semua pertarungan itu, perkembangan karakter yang paling menonjol justru datang dari Shin. Mantan pembunuh bayaran yang cemas ini terus berusaha menjadi lebih kuat agar bisa menjadi partner sejati bagi Sakamoto. Perkembangan kemampuannya yang mulai bertambah, serta tekadnya yang membara, membuatnya sering menjadi pusat perhatian, yang mungkin akan sedikit mengecewakan bagi mereka yang berharap melihat lebih banyak aksi dari Sakamoto sendiri. Sementara itu, Part 2 juga memperkenalkan sejumlah karakter baru yang segar dan berkesan, seperti Mafuyu yang terlihat berbahaya, Akira si polos, dan Nao Toramaru, fanatik Sakamoto yang tidak menyadari bahwa idolanya adalah pria gemuk yang sedang ikut ujian bersamanya. Interaksi mereka menambah kedalaman dunia cerita dan menyisipkan humor di sela-sela kekacauan yang terjadi.
Dari segi teknis, Part 2 menunjukkan peningkatan yang patut diacungi jempol. Banyak penggemar setuju bahwa animasi untuk cour ini telah mengalami peningkatan kualitas yang signifikan. Adegan-adegan pertarungan, yang sebelumnya kerap dikritik, kini terasa lebih halus, kreatif, dan penuh energi. Koreografi pertarungannya dinamis, menangkap esensi dari gaya bertarung unik setiap karakter, mulai dari kekuatan fisik Sakamoto yang brutal hingga kemampuan psikis Shin. Peningkatan ini sangat terasa dalam arc JCC, yang memungkinkan studio untuk menampilkan beragam gaya bertarung dari banyak peserta ujian.
Aspek lain yang turut mendukung adalah desain suara dan musik. Part 2 datang dengan soundtrack yang lebih energetik dan engaging. Komposer Yuki Hayashi, yang dikenal lewat karya gemilangnya di My Hero Academia, berhasil menciptakan komposisi musik yang mampu memperkuat atmosfer dalam setiap adegan, baik itu ketegangan dalam pertarungan maupun momen-momen komedi. Lagu tema pembuka dan penutup yang baru juga berhasil menyuntikkan semangat dan gaya yang sesuai dengan peningkatan intensitas cerita.
Meski telah melakukan lompatan yang mengesankan, Sakamoto Days Part 2 bukanlah sebuah karya yang sempurna. Kekuatan terbesarnya justru juga menjadi sumber sedikit kelemahannya. Fokusnya yang hampir total pada aksi dan perkembangan plot terkadang mengesampingkan elemen kekeluargaan dan slice of life yang menjadi daya tarik unik serial ini di part 1. Keluarga Sakamoto, yang menjadi alasan utama sang protagonis bertarung, kini lebih sering hanya menjadi latar belakang. Perubahan tone ini mungkin akan sedikit mengecewakan bagi penonton yang jatuh cinta pada chemistry unik antara aksi gila dan kehidupan sehari-hari yang absurd di toko kelontong.
Selain itu, meski animasinya telah meningkat, terkadang masih ada momen di mana animasi tidak sepenuhnya menangkap detail dan intensitas yang digambarkan dalam manga aslinya, sebuah hal yang kerap disesalkan oleh para pembaca setianya. Beberapa twist plot juga terasa agak terburu-buru, seperti pengungkapan bahwa Kanaguri, salah satu panitia JCC, ternyata adalah mata-mata Slur yang bertugas merekrut anggota baru seperti Mafuyu dan Toramaru. Meski mengejutkan, transisi untuk twist ini terasa sedikit kurang pengembangan.
Pada akhirnya, Sakamoto Days Season 1 Part 2 adalah sebuah evolusi yang sangat berhasil. Seri ini berhasil membenarkan hype dan potensi besar yang diusung serial ini. Ia berani beralih dari komedi aksi menjadi sebuah serial aksi yang mulai gelap, kompleks, dan penuh dengan karakter yang menarik. Peningkatan kualitas animasi dan soundtrack yang konsisten membuatnya menjadi tontonan yang sangat menghibur secara visual dan audio.
Kekurangan yang ada, seperti berkurangnya momen keluarga dan beberapa pacing yang terburu-buru, tidak cukup untuk mengurangi keseruan keseluruhan arc. Ending yang menampilkan Sakamoto yang menyamar sebagai istrinya untuk bisa masuk JCC—sebagai guru magang—dan post-credit scene yang memperlihatkan ancaman baru Slur, adalah persiapan yang sempurna untuk musim kedua. Part 2 ini bukan lagi sekadar "coba-coba"; ini adalah pernyataan bahwa Sakamoto Days siap untuk bertarung di liga yang lebih tinggi. Jika kamu adalah penggemar genre aksi-komedi dengan sentuhan dunia bawah tanah yang kental, maka sebelas episode ini adalah tontonan yang wajib kamu saksikan.
Rate: 7,5-8/10
.webp)
.png)
Komentar
Posting Komentar