Ulasan Film The Conjuring: Last Rites (2025) - Perpisahan yang Manis, Namun Kurang Menyeramkan

Sebagai penutup dari saga ikonis Ed dan Lorraine Warren, The Conjuring: Last Rites hadir dengan beban harapan yang berat. Film yang diklaim sebagai bagian terakhir dalam seri utama ini berusaha memberikan penutupan yang emosional, namun sekaligus harus memuaskan dahaga para penggemar akan ketegangan dan teror yang menjadi jiwa waralaba ini. Setelah menyaksikannya, dapat saya simpulkan bahwa film ini adalah sebuah perpisahan yang manis dan layak, tetapi tidak sepenuhnya bebas dari bayang-bayang kehebatan pendahulunya. 

The Conjuring: Last Rites berlatar pada tahun 1986, di mana Ed dan Lorraine Warren (kembali diperankan dengan sempurna oleh Patrick Wilson dan Vera Farmiga) telah memasuki masa pensiun dari investigasi aktif. Kekhawatiran akan kondisi jantung Ed dan keinginan untuk melindungi keluarga mereka, terutama putri mereka Judy yang kini dewasa (Mia Tomlinson), menjadi alasan utama di balik keputusan ini. Namun, kedamaian itu ternyata sementara. 

Sebuah kasus baru muncul yang ternyata memiliki akar yang dalam dengan masa lalu mereka, berawal dari cermin terkutuk yang pernah mengancam nyawa Lorraine dan Judy saat masih bayi pada tahun 1964. Cermin yang sama kini menghantui keluarga Smurl di Pennsylvania, memaksa para Warren untuk sekali lagi menghadapi teror yang mereka kenal terlalu baik. Alur cerita ini menjadikan film ini sebagai perjalanan paling personal bagi para Warren, di mana iblis yang mereka hadapi bukan hanya mengancam orang asing, tetapi juga mengintai keluarga mereka sendiri.

Di mana Last Rites paling bersinar adalah dalam penggambaran dinamika keluarga dan beban emosional yang ditanggung oleh para Warren setelah puluhan tahun berurusan dengan dunia kegelapan. Film ini mengambil pendekatan yang lebih reflektif dan melankolis, menyelami pertanyaan tentang pengorbanan, warisan, dan arti sebuah keluarga. Adegan-adegan yang fokus pada percakapan intim antara Ed, Lorraine, dan Judy, serta upaya tunangan Judy, Tony, untuk diterima dalam keluarga yang unik ini, justru menjadi bagian yang paling berkesan. 

Pendekatan ini memberikan ruang bagi Patrick Wilson dan Vera Farmiga untuk sekali lagi membuktikan mengapa mereka adalah jiwa dari waralaba ini. Chemistry mereka terasa begitu alami dan tulus, dan mereka berhasil menyampaikan beban emosional dari sepasang suami-istri yang telah melalui begitu banyak, namun kini harus mempertimbangkan untuk benar-benar melepaskan. Beberapa momen, seperti saat Tony melamar Judy atau saat Ed dan Lorraine merefleksikan perjalanan hidup mereka, digarap dengan kepekaan yang hampir seperti drama keluarga, dan berhasil menyentuh emosi penonton yang telah mengikuti perjalanan mereka sejak awal.

Dari sisi teknis, film yang disutradarai Michael Chaves ini memiliki beberapa momen kreatif. Penggunaan rekaman VHS dan perangkat surveilans beresolusi rendah berhasil menciptakan momen menegangkan yang terasa lebih organik dan "hidup" dibandingkan dengan jumpscare biasa. Salah satu adegan terbaik dalam film ini justru adalah saat Heather Smurl (Kíla Lord Cassidy) dengan susah payah menganalisis rekaman untuk mencari bukti keberadaan iblis; ketegangan dibangun melalui keheningan dan fokus, bukan teriakan atau musik yang murahan. Adegan di toko gaun pengantin yang melibatkan cermin tak berujung juga bisa dibilang sebagai salah satu momen yang paling menegangkan dalam waralaba ini, menunjukkan bahwa potensi untuk horor yang cerdas sebenarnya ada.

Sayangnya, kekuatan emosional dan beberapa momen brilian itu tidak cukup untuk menutupi kelemahan film sebagai sebuah karya horor. Banyak dari elemen menakutkan yang justru menjadi bagian terlemahnya. Film ini masih terlalu mengandalkan jumpscare yang mudah ditebak dan bergantung pada bunyi-bunyian keras untuk membuat penonton kaget, alih-alih membangun ketegangan psikologis yang perlahan-lahan menggerogoti seperti yang dilakukan film pertama. Setelah pembukaan yang kuat dan build-up yang menjanjikan, banyak penonton yang merasa bahwa klimaks film ini justru terasa terburu-buru dan mengecewakan. 

Ancaman dari iblis, yang seharusnya digambarkan sebagai yang terhebat yang pernah mereka hadapi, akhirnya terasa biasa saja dan kurang memberikan dampak yang memuaskan. Iblis raksasa Annabelle yang muncul dalam salah satu adegan, meski visually impressive, tidak bisa menutupi rasa kehilangan atmosfer menakutkan yang diciptakan James Wan dengan hanya sebuah siluet atau suara ketukan.

Masalah lainnya adalah ritme yang tidak merata. Film ini menghabiskan waktu yang sangat lama untuk membangun konflik dan hubungan antar karakter, yang meski menarik, membuat aksi inti—ketika para Warren akhirnya masuk ke rumah Smurl—terasa tertunda. Alhasil, penyelesaiannya terasa dipaksakan dan terburu-buru. Fokus pada keluarga Warren juga, meski merupakan kekuatan, secara tidak sengaja mengabaikan pengembangan karakter keluarga Smurl sebagai korban. 

Mereka terasa lebih seperti alat untuk memicu konflik bagi para Warren, dan bukan sebagai karakter yang layak untuk diperhatikan nasibnya. Sebagai finale, Last Rites memang memberikan penutupan yang emosional dan "radiant epilogue" bagi Ed dan Lorraine, tetapi ia gagal menjadi sebuah horor yang memorable dan mendebarkan seperti dua film pertamanya. Film ini lebih merupakan sebuah drama keluarga dengan bumbu horor, dan bukan sebuah mahakarya horor yang kebetulan berpusat pada sebuah keluarga.

The Conjuring: Last Rites pada akhirnya adalah sebuah film yang kontradiktif. Di satu sisi, ia berhasil menjadi finale yang emosional dan layak bagi karakter Ed dan Lorraine Warren, berkat chemistry dan akting solid dari Patrick Wilson dan Vera Farmiga. Adegan penutupnya yang mengharukan berhasil memberikan rasa syahdu dan penutupan yang diinginkan para fans. Namun di sisi lain, sebagai sebuah film horor—yang merupakan genre dasar waralaba ini—ia tidak cukup menakutkan, tidak orisinal, dan terjebak dalam formula yang sudah usang. 

Film ini adalah tontonan yang worth it bagi mereka yang telah menginvestasikan waktu selama bertahun-tahun untuk mengikuti perjalanan para Warren dan menginginkan akhir yang manis bagi mereka. Akan tetapi, bagi penonton yang mencari pengalaman horor yang mendalam, intens, dan inovatif seperti yang ditawarkan The Conjuring pertama, film ini mungkin akan terasa seperti sebuah kasus yang kurang tuntas. Ia adalah perpisahan yang hangat, tetapi hanya meninggalkan kesan yang hangat, bukan rasa takut yang membekas lama setelah lampu ruangan menyala.

Rate: 6-6,5/10

Komentar