Film Gundik (2025) hadir dengan premis yang segar dalam jagat horor-komedi Indonesia. Disutradarai oleh Anggy Umbara, film ini layak diapresiasi atas keberaniannya mencampur berbagai genre, namun sayangnya harus terjatuh oleh eksekusi yang amburadul dan naskah yang tidak matang. Film ini bagai sebuah mobil sport dengan mesin yang powerful tetapi dengan kemudi yang rusak; ia melaju kencang tanpa arah yang jelas, dan berakhir dalam kecelakaan yang memusingkan penontonnya.
Gundik bercerita tentang Otto, seorang mantan tentara yang diperankan oleh Agus Kuncoro, yang menerima tugas untuk merampok sebuah rumah mewah. Tantangan dalam misi ini ternyata tidak sesederhana yang dibayangkan. Rumah yang menjadi targetnya bukanlah rumah biasa, melainkan kediaman Nyai, seorang gundik atau selir dari seorang pejabat tinggi, yang diperankan dengan penuh karisma oleh Luna Maya. Bersama tiga komplotannya, Otto memasuki dunia Nyai yang penuh dengan misteri dan kekuatan gelap. Apa yang dimulai sebagai film heist atau perampokan, perlahan-lahan berubah menjadi neraka horor yang tidak terduga. Mereka harus berhadapan bukan dengan sistem keamanan canggih, tetapi dengan entitas-entitas gaib yang menjaga rumah dan penghuninya, mulai dari pocong hingga siluman ular, dalam sebuah perpaduan yang kerap kali tidak masuk akal.
Dari segi konsep, Gundik patut diacungi jempol. Ide untuk menggabungkan genre film perampokan dengan horor komedi merupakan sebuah terobosan yang menarik dan cukup jarang dieksplorasi di perfilman Indonesia. Adegan-adegan komedi, meski tidak selalu berhasil, dalam beberapa bagian sukses memecah ketegangan dan memberikan tawa, khususnya yang melibatkan tokoh Reza (Arief Didu). Luna Maya juga tampil memukau dalam perannya sebagai Nyai, menghadirkan aura misterius dan kuat yang menjadi pusat gravitasi film. Penampilannya, didukung tata rias yang apik, berhasil menciptakan karakter antagonis yang memorable. Beberapa efek CGI, seperti pada adegan ular, terbilang cukup baik dan menunjukkan usaha production house. Adegan pembuka film juga cukup menjanjikan dan berhasil membangun ekspektasi penonton untuk sebuah petualangan horor yang seru dan penuh kejutan.
Sayangnya, semua potensi itu tenggelam oleh eksekusi yang berantakan. Masalah paling mendasar dari Gundik adalah naskahnya yang tidak fokus. Film ini seperti kebingungan menentukan identitas dirinya; apakah ingin menjadi film heist serius, horor murni, atau sekadar komedi parodi. Alur cerita di paruh kedua, khususnya menuju klimaks, menjadi sangat tidak jelas dan terkesinambungan. Banyak adegan yang hadir tanpa konteks yang jelas, seperti kemunculan makhluk-makhluk horor yang bergantian—dari pocong, siluman ular, hingga karakter mirip gabungan antara Mystique dan Black Panther—yang terasa dipaksakan hanya untuk menambah durasi dan jumlah jumpscare. Plot twist yang dihadirkan di akhir film juga terasa dipaksakan dan tidak organik, meninggalkan rasa kekecewaan dan ketidakpuasan.
Aspek horor pun gagal menyentuh saraf ketakutan penonton. Jumpscare yang diandalkan terlalu bergantung pada musik yang keras dan tiba-tiba, alih-alih membangun ketegangan psikologis yang mencekam. Efek visual, yang dalam beberapa adegan cukup bagus, menjadi tidak konsisten. Adegan bayi CGI di klimaks film cukup buruk dan merusak imersi, sementara properti sederhana seperti gelembung busa yang digunakan sebagai sisik ular terlihat jelas oleh mata penonton, menunjukkan kurangnya perhatian terhadap detail.
Namun, Gundik bukanlah film yang benar-benar gagal, tetapi lebih merupakan peluang yang terlewat. Film ini memiliki semua bahan untuk menjadi film horor-komedi yang menghibur, tetapi gagal meraciknya menjadi sebuah hidangan yang koheren dan memuaskan. Ia layak untuk ditonton bagi Anda yang penasaran dengan konsep uniknya dan ingin menyaksikan akting Luna Maya yang powerful. Namun, bersiaplah untuk merasikan kebingungan dan sedikit kekecewaan saat credit roll mulai bergulir. Gundik akhirnya lebih cocok disebut sebagai pengalaman menonton yang absurd daripada sebuah mahakarya horor. Ia mengajarkan bahwa sebuah ide yang brilian membutuhkan eksekusi dan naskah yang matang; tanpa itu, yang tersisa hanyalah potensi yang tak tergarap.
Rate: 6,5/10
.jpeg)
.webp)
Komentar
Posting Komentar